Hari ini tanggal 22 Juli 2014 merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena pada hari ini pukul 16.00 WIB akan diumumkan siapa yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia 5 tahun kedepan. Banyak spekulasi yang beredar pada hari ini. Ada yang menjagokan nomor 1, ada pula yang menjagokan nomor 2. Tentu saja saya bukan akan bercerita mengenai politik disini. :)
Yang menarik dan menjadi pengamatan saya dalam beberapa hari ini adalah spekulasi-spekulasi yang terjadi dalam masyarakat. Banyak orang-orang yang memprediksikan bahwa pada hari pengumuman pemenang pilpres akan terjadi kerusuhan yang hebat. Sebagai efeknya, banyak orang-orang kaya yang sudah terlebih dahulu pergi ke luar negeri untuk "mencari aman". Ada juga beberapa kantor dan teman saya yang libur pada hari ini. Ini menjadi sesuatu yang unik di mata saya.
Saya yakin dan percaya, siapapun kita, apapun latar belakang kita, apapun pekerjaan kita, kita semua tidak menginginkan adanya kerusuhan di Indonesia. Kita ingin hari ini, tanggal 22 Juli 2014, semuanya aman-aman saja. Mungkin kita semua sudah berdoa dan berharap agar hari ini keadaan aman terkendali. Tetapi, bagaimana dengan iman kita ? Saya tidak berbicara tentang agama disini, saya yakin semua agama mengajarkan kita mengenai iman.
Alkisah, ada sebuah desa yang mengalami kekeringan panjang. Ratusan warga desa tersebut sepakat akan mengadakan doa bersama di suatu pagi yang sudah ditentukan di suatu lapangan terbuka. Ratusan orang datang ke lapangan tersebut untuk memanjatkan doa bersama meminta turunnya hujan. Dari ratusan orang yang datang, hanya ada 1 orang yang datang dengan membawa payung. Menurut saya itulah yang kita sebut sebagai iman.
Kita meyakini bahwa sesuatu belum terjadi akan terjadi. Kita percaya bahwa itu akan terjadi, sehingga kita bersikap seolah-olah hal tersebut telah terjadi. Itulah iman. Kita percaya sesuatu yang belum terlihat atau belum terjadi.
Marilah kita memiliki iman yang kuat bahwa pada hari ini, tanggal 22 Juli 2014, pada saat pengumuman pilpres, dan hari-hari berikutnya pasca pengumuman pilpres, semuanya akan baik-baik saja. Semua akan berjalan dengan sangat baik. Banga Indonesia akan semakin maju siapapun presiden terpilih. Iman ditunjukan dari perbuatan, bukan perkataan. Berbuatlah seperti apa yang iman kita katakan.
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Monday, July 21, 2014
Wednesday, July 16, 2014
Hal Yang Paling Sulit
Sebelumnya saya pernah membahas mengenai Cinta Yang Paling Sulit, nah sekarang saya akan berbagi mengenai hal yang paling sulit. Dalam hidup ini, sudah ribuan bahkan jutaan, bahkan milyaran hal sudah pernah kita lakukan. Dan masih ada milyaran hal lain yang menunggu untuk kita lakukan. Tapi, dari semua hal tersebut, hal apakah yang paling sulit ? Silahkan simak cerita singkat berikut ini.
Saya pernah dihadapkan pada suatu kondisi dimana saya diminta oleh atasan saya untuk bertanggung jawab dalam proses pindah kantor. Kantor saya akan pindah lokasi (anggap saja dari lokasi A ke lokasi B). Saya mulai berkeliling kantor dan pada saat itu juga saya mulai menyadari bahwa ada begitu banyak barang yang harus saya pindahkan. Bahkan beberapa barang tersebut adalah barang-barang berukuran besar. Bagi rekan-rekan yang pernah pindahan pasti merasakan betapa sulitnya memindahkan barang-barang berukuran besar.
Saya mulai panik, saya mulai berpikir bagaimana saya bisa menyelesaikan pekerjaan ini. Siapa yang bisa membantu saya ? Saya harus menyewa mobil pengangkut barang dimana ? Saya harus mulai memindahkan barang yang mana ? Kapan saya harus mulai pindahan ? Banyak sekali barang-barang ini, apakah bisa dipindahkan semua ? dan segala macam pikiran-pikiran lain berkecamuk didalam diri saya.
Hari demi hari menjelang pindahan saya lewati dengan beban pikiran yang terus bertambah dan bertambah. Saya semakin tertekan. Hari H pindahan pun tiba. Semua persiapan sudah saya lakukan sebelumnya, hari ini tinggal eksekusi saja. Proses pengangkutan barang, penyusunan barang, skip skip skip. Pada akhirnya semua berhasil dilakukan dan semuanya sudah selesai. Saya lega semuanya sudah selesai tanpa ada masalah.
Mendadak saya berpikir, mengapa semuanya jadi mudah ? Kemanakah hal-hal yang saya cemaskan kemarin ?
Cerita diatas menggambarkan bahwa hal yang paling sulit dalam menghadapi suatu pekerjaan atau situasi atau kondisi adalah saat kita memikirkannya. Saat kita terlalu memikirkan hal tersebut, semuanya akan menjadi serba sulit. Semuanya akan terlihat sangat berat. Semuanya akan terkesan mustahil. Tetapi ketika kita mulai mengerjakannya, semuanya pasti akan dapat dilewati. Semuanya pasti ada jalan keluarnya.
Kebanyakan orang terlalu banyak berpikir ketika menghadapi suatu masalah. Hal tersebut menyebabkan masalah yang dihadapi tak kunjung selesai, karena memang tidak ada langkah apapun yang diambil. Berpikir tidak akan menyelesaikan masalah jika kita tidak pernah mengambil langkah. Yang terpenting adalah merealisasikan pemikiran kita, bukan hanya memikirkannya. Jadi jangan terlalu lama dalam berpikir, segera ambil langkah.
Monday, July 14, 2014
Cerita Tentang Makan
Tidak diragukan lagi, setiap orang butuh makan sesuatu untuk bertahan hidup. Orang kaya butuh makan, orang sederhana butuh makan. Orang dewasa butuh makan, anak-anak butuh makan. Siapapun kita, kita butuh makan. Tapi sayangnya, banyak orang yang tidak menikmati aktivitas makan. Banyak dari kita menganggap makan adalah suatu rutinitas untuk mengisi perut dan mendapatkan energi.
Dengan berdalih ingin menikmati makanan, banyak orang-orang kaya yang pergi ke restoran-restoran mewah dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per porsi makanan yang dimakannya. Tapi, kebanyakan dari orang-orang tersebut ternyata tidak menikmati makanannya (menurut saya).
Kebanyakan dari kita tidak pernah benar-benar menikmati saat-saat makan. Kita terbiasa ngobrol, membaca, memikirkan pekerjaan, memikirkan kehidupan, memikirkan keluarga, main game, dan lain-lain, saat kita makan. Jarang sekali orang benar-benar "makan" saat waktunya makan. Inilah yang saya maksud dengan tidak menikmati moment makan.
Coba bayangkan, apakah ada orang yang ngobrol atau membaca atau main game saat mereka menonton suatu pertunjukan orkestra besar ? Tentu saja tidak, karena mereka menikmati pertunjukan tersebut.
Saat kita menikmati suatu moment, biasanya kita akan diam dan terhanyut dalam moment tersebut, kita akan benar-benar menikmati moment tersebut. Kita akan mengingat moment tersebut. Nah, begitu juga dengan makan. jika kita menikmati moment makan, saya yakin kita akan diam dan tidak melakukan kegiatan apapun. Pada saat makan, kita hanya makan. Tidak ada kegiatan lain yang kita lakukan. Apapun itu, sekecil apapun itu. Dengan menikmati makan, maka kita akan merasa semakin bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk makan. Kita akan bersyukur untuk makanan yang kita makan, apapun yang kita makan kita akan bersyukur.
Mari menikmati moment makan, jangan sia-siakan moment makan karena moment ini sangat sering kita lakukan. Dengan menikmati moment makan, kita akan semakin bahagia karena diri kita dipenuhi dengan rasa syukur.
terinspirasi dari : salah satu buku karangan Ajahn Brahm
Sunday, July 13, 2014
Cinta Yang Paling Sulit - Pertanyaan
Mari simak sebentar cerita berikut ini:
Pertanyaannya, menurut rekan-rekan semua, siapakah yang akan dikorbankan sang ayah ? Apakah dirinya sendiri ? Atau sang istri yang sangat pandai dan cerdas dalam mengatur keluarga ? Ataukah kedua anaknya yang masih mempunyai masa depan yang sangat cerah ?
Silahkan dijawab terlebih dahulu. Posisikan diri rekan-rekan semua sebagai sang ayah, sang pembuat keputusan.
Di postingan berikutnya (silahkan klik disini) akan saya ceritakan akhir dari cerita ini. Suatu cerita yang menurut saya sangat cocok dijadikan pelajaran mengenai cinta. Suatu cinta yang paling sulit.
Pada suatu pagi, suatu keluarga (ayah, ibu, dan 2 orang anak remaja) berkelana ke sebuah hutan. Mereka pergi ke hutan tersebut karena ingin menikmati suasana di hutan. Saat sedang asyik menikmati pemandangan hutan, mereka ditangkap oleh sekelompok suku yang menempati hutan tersebut. Salah satu dari mereka harus dikorbankan dan yang lainnya akan dibebaskan.
Sang ayah bekerja sebagai pimpinan suatu perusahaan yang terkemuka di kotanya. Sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat pandai dan cerdas. Anak sulungnya adalah seorang mahasiswa yang sangat cerdas di salah satu universitas di kotanya dan akan lulus pada akhir tahun ini. Sedangkan si bungsu adalah seorang pelajar di salah satu sekolah terkemuka dan tidak kalah cerdasnya dengan si sulung.
Mereka diberi waktu kurang lebih 1 jam untuk mendiskusikan siapa yang akan dikorbankan. Ibu dan kedua anaknya memberikan kepercayaan kepada sang ayah, sebagai seorang kepala keluarga, untuk membuat keputusan yang amat sangat sulit ini. dan mereka sudah sepakat untuk menerima apapun keputusan yang dibuat sang ayah.
Pertanyaannya, menurut rekan-rekan semua, siapakah yang akan dikorbankan sang ayah ? Apakah dirinya sendiri ? Atau sang istri yang sangat pandai dan cerdas dalam mengatur keluarga ? Ataukah kedua anaknya yang masih mempunyai masa depan yang sangat cerah ?
Silahkan dijawab terlebih dahulu. Posisikan diri rekan-rekan semua sebagai sang ayah, sang pembuat keputusan.
Di postingan berikutnya (silahkan klik disini) akan saya ceritakan akhir dari cerita ini. Suatu cerita yang menurut saya sangat cocok dijadikan pelajaran mengenai cinta. Suatu cinta yang paling sulit.
Saturday, July 12, 2014
Bagaimana Cara Menjadi Tong Sampah Bolong dan Tidak Berdasar ? (Bagian 2 - Terakhir)
Oke, saya akan lanjutkan cerita mengenai Tong Sampah Bolong yang sempat saya tulis di postingan sebelumnya (silahkan klik ini).
Cara kedua yang saya pelajari agar tong sampah kita bolong adalah :
2. Selalu Buang Sampah Yang Ada
Tong sampah bolong menggambarkan bahwa tong sampah kita tidak ada isi. Salah satu cara membuat tong sampah kita selalu tidak ada isi atau kosong adalah dengan membuang sampah-sampah yang ada. Ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk membuang sampah-sampah tersebut. dan salah satu cara yang sering saya gunakan adalah melakukan sesuatu yang benar-benar ingin saya lakukan.
Dengan melakukan hal yang benar-benar saya lakukan, kita bisa selalu menjaga perasaan menjadi tetap tenang, nyaman, dan damai. Ada kalanya ketika rasanya tong sampah saya mulai penuh (kepala mulai mumet, banyak pikiran yang lalu lalang di kepala), biasanya saya akan pergi ke mall sendirian. Saya sangat menikmati waktu sendirian saya. Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau jika saya sendirian. Dan setelah saya menghabiskan waktu sendirian, biasanya pikiran saya akan terasa lebih ringan dan nyaman.
Dua cara yang saya jelaskan belum tentu bekerja dengan baik untuk rekan-rekan semua. Jadi silahkan rekan-rekan perdalam lagi pencarian mengenai cara membuat tong sampah rekan-rekan sekalian bolong. Karena akan ada banyak sekali manfaat saat kita bisa membuat tong sampah kita bolong.
Cara kedua yang saya pelajari agar tong sampah kita bolong adalah :
2. Selalu Buang Sampah Yang Ada
Tong sampah bolong menggambarkan bahwa tong sampah kita tidak ada isi. Salah satu cara membuat tong sampah kita selalu tidak ada isi atau kosong adalah dengan membuang sampah-sampah yang ada. Ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk membuang sampah-sampah tersebut. dan salah satu cara yang sering saya gunakan adalah melakukan sesuatu yang benar-benar ingin saya lakukan.
Dengan melakukan hal yang benar-benar saya lakukan, kita bisa selalu menjaga perasaan menjadi tetap tenang, nyaman, dan damai. Ada kalanya ketika rasanya tong sampah saya mulai penuh (kepala mulai mumet, banyak pikiran yang lalu lalang di kepala), biasanya saya akan pergi ke mall sendirian. Saya sangat menikmati waktu sendirian saya. Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau jika saya sendirian. Dan setelah saya menghabiskan waktu sendirian, biasanya pikiran saya akan terasa lebih ringan dan nyaman.
Dua cara yang saya jelaskan belum tentu bekerja dengan baik untuk rekan-rekan semua. Jadi silahkan rekan-rekan perdalam lagi pencarian mengenai cara membuat tong sampah rekan-rekan sekalian bolong. Karena akan ada banyak sekali manfaat saat kita bisa membuat tong sampah kita bolong.
Sunday, July 6, 2014
Kisah Model Rambut CR7 dan Erik Ortiz Cruz
Solopos.com, RECIFE -Kisah Inspirasi ini dari seorang bayi. Karena bayi ini Cristiano Ronaldo CR 7 mengubah gaya rambut.
Jika Anda menyimak Portugal vs Amerika Serikat yang digelar Minggu (22/6/2014), Anda pasti memperhatikan ada yang berbeda dari gaya rambut Cristiano Ronaldo. Banyak yang menganggap gaya ini memang jadi ciri Ronaldo yang dikenal modis. Padahal bukan itu alasannya.
Ada kisah mengharukan dibalik potongan baru CR7. Sang megabintang mempersembahkan gaya rambutnya untuk bocah berusia 10 bulan yang baru saja menjalani tumor otak.
Linimasa sempat heboh ketika gaya rambut itu digunakan sebagai bahan guyon. Setelah Ronaldo mengungkap alasannya, mereka langsung berbalik. Ada kisah haru dibalik gaya rambut ini.
Seperti diketahui ada pola zig-zag di sisi kanan kepala Ronaldo. Gaya rambut bintang Real Madrid itu terinspirasi oleh Erik Ortiz Cruz, bayi 10 bulan yang menjalani operasi tumor otak.
Dilansir Football Troll, Senin (23/6/2014) bocah itu menderita penyakit Cortical Dysplasia. Akibat kelainan tersebut, Cruz bisa mengalami kejang-kejang sebanyak 30 kali dalam sehari. Karena itu Cruz harus menjalani operasi untuk penyembuhan kelainan tersebut.
Setiap pemeriksaan di rumah sakit menghabiskan 6.000 euro atau sekitar Rp97 juta. Untuk operasi penuh dibutuhkan biaya 60 ribu euro atau Rp976 juta. Masyarakat dari desa Villaluenga de la Sagra, Spanyol tempat bocah itu tinggal mencoba untuk mengumpulkan dana lewat sumbangan.
Ternyata hal tersebut mendapatkan perhatian dari Ronaldo, yang diminta untuk mendonasikan jersey serta sepatunya untuk dilelang agar mendapatkan dana. Ronaldo pun langsung mendonasikan jersey Madrid dan sepatu. Ia juga membiayai operasi bocah tersebut.
Dalam sebuah gambar meme, tertulis “Put His Scar On His Head”. Kalimat ini mengisyaratkan Ronaldo menempatkan bekas luka di kepala bocah itu ke gaya rambutnya. Dia menyebut ini sebagai bentuk dukungan moril.
Saturday, July 5, 2014
Sepatu Baru - Kisah Menyentuh Hati
Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja.
Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus
memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya
baru saja membeli sepasang sepatu kulit.
Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada ayah
minta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di
bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai montir. “Willie” ayah kelihatannya terkejut.
“Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”
“Setiap orang memakai sepatu sport yah!” “Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut
tidak menjadikan ayah mudah membayar sepatu sport “Gaji ayah kecil dan sering tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. “Ayah, saya tampak seperti bloon
memakai sepatu jenis ini “kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru.
Ayah memandang dalam dalam ke mataku. Kemudian ia menjawab, “Begini saja, Kau
pakai sepatu ini satu hari lagi.Besok, di sekolah, perhatikan semua sepatu dari kawan-
kawanmu. Bila seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa sepatumu paling butut
dibandingkan sepatu kawan kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu dan
membelikanmu sepasang sepatu sports”
Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh keyakinan bahwa hari
itu merupakan hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang ketinggalan jaman ini.
Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya lakukan, namun tidak, saya ceritakan apa
yang saya lihat secara teliti.
Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusat
perhatianku. Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan dalam ingatanku betapa
banyaknya teman teman di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport, bahkan
sepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga dan lain lain bentuk yang sudah mendekati
kepunahan sebagai alat pelindung kaki.
Namun banyak juga yang memakai sepatu sport yang gagah, yang senantiasa berdetak
detik penuh gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.
Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampir
yakin bahwa Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang sedang “in” Setiap saya
menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai sepatu sport
idaman saya. Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya denting-denting
metal dari kolong sebuah chevy tua buatan tahun 1956. Udara berbau oli, namun pada
hemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang langganan sedang menunggu ayah
yang sedang bergulat di kolong chevy tua itu. “Pak Alva” tanya saya kepada langganan
yang sedang menunggu, “masih lamakah?” “Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Ia
sedang membongkar persneling, namun bila ia mendapatkan adanya bagian lain yang
tidak beres, ia akan menyelesaikannya juga.”
Saya bersandar pada mobil abu abu itu. Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kaki
ayah yang menjulur keluar dari kolong mobil. Sambil menjentik jentik lampu belakang
chevy, secara tidak sadar saya menatap kepada kaki ayah. Celana kerjanya berwarna biru
tua, kusam dan lengket terkena oli, lusuh pula. Sepatunya, berwarna putih tua…. ah
….bukan hitam muda……, dan sungguh sungguh butut, sebagaimana mestinya sepatu
seorang montir.
Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulit
tipis, yang dahulu bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples menggigit kedua belah kulit
kencang kencang, mencegah jempol kakinya mengintip keluar. Tali sepatunya beriap
riap, dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut
kaus katun. “Sudah pulang nak? “ayah keluar dari kolong mobil. “Yes sir” kataku. „Kau
lakukan apa yang kuperintahkan hari ini?” “Yes sir” “Nah, apa jawabmu ?” la
memandangku, seolah olah tahu apa yang akan saya ucapkan. “Saya tetap ingin sepatu
sport “Saya berkata tegas, dan berusaha setengah mati untuk tidak memandang kepada
sepatu ayah. “Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu….. “Mengapa tidak
pergi dan membelinya sekarang?” lalu ayah mengeluarkan selembar $ 10. dan
memancing uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar 3% pajak penjualannya.
Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat pertokoan, dua blok dari bengkel
di mana ayah bekerja.
Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat apakah sepatu sportku masih
dipajang disana. Ternyata masih! $9.95. Namun uang saya tidak akan cukup bila saya
harus membeli paku paku yang akan dipakukan pada solnya dan menimbulkan suara klak
klik yang gagah.
Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan dana dari mama, sebab tidak mungkin
kembali kepada ayah dan minta kekurangannya.
Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya tampak membayang melintasi kedua
mataku. Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang camping, paku paku yang
telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menjepit kertas.
Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musim
dingin yang menggigit, sepatu yang sama dipakainya melintasi jalan jalan yang dingin,
menuju kepada mobil mobil yang mogok. Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terpikir
olehku, betapa banyaknya benda benda yang seharusnya dibutuhkan ayah, namun tidak
dimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dan
kementerengan sepatu sport yang ada di balik kaca etelase di hadapanku mulai memudar.
Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bila
ayahku bersikap seperti saya bersikap. Saya masuk ke dalam toko sepatu itu. Sebuah rak
besar terpampang megah, penuh berisikan sepatu sport yang sungguh keren. Di
sampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan “obral besar. 50%
discount”. Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu semodel sepatu ayah, beberapa
generasi lebih muda, tentunya.
Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu ayah yang butut. Dan sekarang sepatu
baru. Pikiran tentang: menjadi “in” dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dan
kemudian pikiran tentang ayah,…. telah mengalahkannya.
Saya mengambil sepatu ukuran 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan ke
arah meja kasir, ditambah pajak, jadilah
bilangan $ 6.13.
Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu baru ayah di atas kursi di mobilnya.
Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan uang kembalian yang masih tersisa. “Saya
pikir harganya $ 9.95 kata ayah. “Obral” kataku pendek. Saya mengambil sapu, dan
mulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwa
bengkel harus ditutup dan kami harus pulang.
Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk ke dalam mobilnya. Ketika ia
membuka kotak itu, ia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia
memandang kepada sepatu itu lama-lama, kemudian kepadaku. “Saya pikir kau membeli
sepatu sport”, katanya pelan.
“Sebetulnya ayah, … tapi …. Saya tak sanggup meneruskannya. Bagaimana saya harus
menjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan bila saya tumbuh
menjadi dewasa, saya sungguh ingin menjadi seperti orang baik ini, yang Tuhan berikan
kepada saya sebagai ayah saya.
Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling memandang untuk waktu
sesaat. Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah menstarter mobil, dan kami
pulang.
Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan
bertanggung jawab
Labels:
Ayah,
cerita,
cinta,
ibu,
inspirasi,
inspiratif,
kisah,
menyentuh hati
Friday, July 4, 2014
Dimanakah Letak Kebahagiaan ?
Menurut Anda dimana letak kebahagiaan itu???
Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.Lewatlah sebuah motor di depan mereka.Berkatalah petani ini pada istrinya:"Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naikmotor itu,meskipun mereka juga kehujanan,tapi mereka bisa cepat sampai di rumah.Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah.
"Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedangberboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick uplewat di depan mereka.Pengendara motor itu berkata kepada istrinya:"Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu.Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.
"Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka:"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok.
"Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuranair hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya:"Betapa bahagianya suami istri itu.Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini.Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.
"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.
Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.
Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.Lewatlah sebuah motor di depan mereka.Berkatalah petani ini pada istrinya:"Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naikmotor itu,meskipun mereka juga kehujanan,tapi mereka bisa cepat sampai di rumah.Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah.
"Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedangberboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick uplewat di depan mereka.Pengendara motor itu berkata kepada istrinya:"Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu.Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.
"Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka:"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok.
"Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuranair hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya:"Betapa bahagianya suami istri itu.Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini.Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.
"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.
Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.
Tuesday, July 1, 2014
Mana Ciuman Untukku?
Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam
seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama
kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas
rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada
satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.
Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk
pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat
tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua.
“Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie.
“Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie.
Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman
apappun padanya..
Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring
sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu ..
Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya.
“Kau senang di rumah Debbie?” tanya ibunya.
“Rumah ini sepi sekali tanpa kau,” kata ayahnya.
Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya.
Kenapa mereka tak pernah menciumnya?
Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ?
Apa mereka tidak menyayanginya?
Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie.
Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya.
Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.
Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya.
“Selamat malam,”katanya.
Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh.
“Selamat malam,” sahut ayahnya.
Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum.
“Selamat malam, Cindy.”
Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi.
“Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya.
Ibunya tampak bingung.
“Yah,” katanya terbata-bata,
“sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih
kecil. Itu saja.”
Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia
memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia
tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia
mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak
berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal
bersama orangtua Debbie.
Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak
menyenangkan.
Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya
bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy
tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku.
Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat
gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk
kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya
sedang duduk dengan ekspresi cemas.
Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,” Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”.
Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi,
sambil berkata,”Aku sayang padamu,Bu.”
Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.
Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Selamat malam,
Yah. Aku sayang padamu,”
Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur.
Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan
ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.
“Hai, Bu,”katanya.
“Aku sayang padamu.”
Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-
kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang
mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy
tidak putus asa.
Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia
lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan
ibunya masuk.
“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya, pura-pura marah.
Cindy duduk tegak.
“Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya.
“Aku sayang padalmu, Bu.” Kemudian ia berbaring lagi.
“Selamat malam,”katanya, lalu memejamkan mata.
Tapi ibunya tidak segera keluar.
Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.”
Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy.
“Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy
tertawa.
“Baiklah,”katanya.
Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak
sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil
bayinya menjadi merah.
Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, “Mana ciuman
untukku?”
Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu.
Kau tahu itu, bukan?”
“Ya,Bu,” kata Cindy.
“Sejak dulu aku sudah tahu.”
seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama
kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas
rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada
satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.
Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk
pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat
tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua.
“Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie.
“Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie.
Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman
apappun padanya..
Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring
sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu ..
Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya.
“Kau senang di rumah Debbie?” tanya ibunya.
“Rumah ini sepi sekali tanpa kau,” kata ayahnya.
Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya.
Kenapa mereka tak pernah menciumnya?
Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ?
Apa mereka tidak menyayanginya?
Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie.
Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya.
Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.
Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya.
“Selamat malam,”katanya.
Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh.
“Selamat malam,” sahut ayahnya.
Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum.
“Selamat malam, Cindy.”
Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi.
“Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya.
Ibunya tampak bingung.
“Yah,” katanya terbata-bata,
“sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih
kecil. Itu saja.”
Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia
memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia
tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia
mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak
berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal
bersama orangtua Debbie.
Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak
menyenangkan.
Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya
bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy
tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku.
Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat
gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk
kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya
sedang duduk dengan ekspresi cemas.
Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,” Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”.
Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi,
sambil berkata,”Aku sayang padamu,Bu.”
Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.
Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Selamat malam,
Yah. Aku sayang padamu,”
Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur.
Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan
ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.
“Hai, Bu,”katanya.
“Aku sayang padamu.”
Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-
kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang
mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy
tidak putus asa.
Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia
lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan
ibunya masuk.
“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya, pura-pura marah.
Cindy duduk tegak.
“Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya.
“Aku sayang padalmu, Bu.” Kemudian ia berbaring lagi.
“Selamat malam,”katanya, lalu memejamkan mata.
Tapi ibunya tidak segera keluar.
Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.”
Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy.
“Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy
tertawa.
“Baiklah,”katanya.
Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak
sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil
bayinya menjadi merah.
Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, “Mana ciuman
untukku?”
Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu.
Kau tahu itu, bukan?”
“Ya,Bu,” kata Cindy.
“Sejak dulu aku sudah tahu.”
Kisah Anak Laki-Laki
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang
bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya
yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan
tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan
semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih
hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti
cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada
musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es,
suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil
yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan
paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat
mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil
tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat
Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang
saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-
lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang
ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya”.
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal
bersamanya. Bersama-sama,mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap
optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi
seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain
beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”,
panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting
bagiku. Aku mohon ?”
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar
pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan
mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang
kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa
hari ini.
“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.
“Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu”. Hati Luke bergetar
saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia
berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola
yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain
sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.
“Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “Aku tidak pernah
melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?”
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata
kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih,
ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih.
Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu
lalu,……Ibuku meninggal”. Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air
matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,….hari ini adalah
pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk
bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan
mereka…….Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan
Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat
baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak
mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan
sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak…..
Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar
banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang
terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi
selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang
pelatih yang sudah berumur 40an tahun itu sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya
masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya,
membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia
menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya…
bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya
yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan
tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan
semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih
hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti
cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada
musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es,
suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil
yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan
paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat
mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil
tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat
Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang
saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-
lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang
ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya”.
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal
bersamanya. Bersama-sama,mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap
optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi
seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain
beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”,
panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting
bagiku. Aku mohon ?”
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar
pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan
mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang
kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa
hari ini.
“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.
“Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu”. Hati Luke bergetar
saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia
berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola
yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain
sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.
“Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “Aku tidak pernah
melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?”
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata
kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih,
ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih.
Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu
lalu,……Ibuku meninggal”. Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air
matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,….hari ini adalah
pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk
bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan
mereka…….Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan
Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat
baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak
mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan
sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak…..
Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar
banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang
terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi
selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang
pelatih yang sudah berumur 40an tahun itu sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya
masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya,
membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia
menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya…
Pemancing Yang Hebat
Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang pemancing yang sama-sama
hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah
kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah
danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan
10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail
mereka.
Ke sepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua
pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing
berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang
senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.
Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan
tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-
masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika
masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah
ikantangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu
memberikan apapun.
Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik
memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing diantara pemancing itu
mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan.
Disamping mendapatkan `bonus‟ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si
B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi
ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B.
Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila
diamalkan.
“Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil
selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone.
Karena tindakan tersebut disamping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan,
kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial,
dan lain sebagainya.
“Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan
tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat.
Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya,
melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan
lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to
somebody. Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson.
Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan
sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.
hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah
kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah
danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan
10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail
mereka.
Ke sepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua
pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing
berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang
senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.
Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan
tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-
masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika
masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah
ikantangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu
memberikan apapun.
Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik
memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing diantara pemancing itu
mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan.
Disamping mendapatkan `bonus‟ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si
B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi
ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B.
Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila
diamalkan.
“Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil
selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone.
Karena tindakan tersebut disamping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan,
kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial,
dan lain sebagainya.
“Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan
tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat.
Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya,
melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan
lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to
somebody. Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson.
Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan
sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.
Kisah Beruang
Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dgn sabar ditepi
sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.
Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air.
Namun,tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali
mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.
Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap
pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.” “Mengapa ? ” tanya
beruang.
“Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat
celah-celah gigimu,” rintih sang ikan. ”
Lalu kenapa?” tanya beruang lagi. “Begini saja,tolong kembalikan aku ke
sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di
saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu.”
kata ikan. “Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya
beruang “Mengapa,” ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang
telah tergenggam di tangan !” jawab beruang sambil tersenyum mantap. “Ops !”
teriak sang ikan.
Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kitatidak
mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang
Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya
akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita
harus berucap :”Ohhhh… andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu
dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan
dalam hidup kita.
Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;….
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ….
Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ….
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali
yang terbaik untuk hidup kita….
Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang
besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi
kesempatan yang besar
sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.
Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air.
Namun,tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali
mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.
Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap
pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.” “Mengapa ? ” tanya
beruang.
“Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat
celah-celah gigimu,” rintih sang ikan. ”
Lalu kenapa?” tanya beruang lagi. “Begini saja,tolong kembalikan aku ke
sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di
saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu.”
kata ikan. “Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya
beruang “Mengapa,” ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang
telah tergenggam di tangan !” jawab beruang sambil tersenyum mantap. “Ops !”
teriak sang ikan.
Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kitatidak
mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang
Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya
akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita
harus berucap :”Ohhhh… andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu
dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan
dalam hidup kita.
Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;….
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ….
Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ….
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali
yang terbaik untuk hidup kita….
Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang
besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi
kesempatan yang besar
Perangkap Tikus
Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus”
Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku
lakukan”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sng ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan
menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus
menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
apabila suatu hari, ketika anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan anda, pikirkan lagi.
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus”
Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku
lakukan”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sng ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan
menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus
menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
apabila suatu hari, ketika anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan anda, pikirkan lagi.
Monday, June 30, 2014
Semuanya adalah Anugerah
Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor. Melakukan apa ? tanya Ralph.
Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor.
Oh, kata Ralph, selama perang …..Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal. Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya …….
Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir,
sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.
Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.
Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.
Nilai manusia …….
tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT
…….
Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..
Bila Cinta Berbicara
Suatu ketika, seorang wanita kelihatan amat sedih. Wajahnya kusut masai. Air mukanya letih menahan tangis. Rupanya, dia baru saja kehilangan anak tercintanya untuk selama- lamanya.
Atas nasihat orang di desa, ia menemui seorang tua bijak di pinggir hutan. Mereka berkata, siapa tahu orang bijak itu dapat membantu menyelesaikan masalahnya. Kerana merasa amat cinta kepada anaknya yang telah mati itu, ia amat berharap agar dapat bertemu dengan orang bijak itu. Ditempuhlah perjalanan yang jauh dengan cepatnya.
Sesampainya disana, dia bertanya, “Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk mengembalikan anakku?”
Sang Guru tidak berusaha untuk berbalah atau menghalau wanita itu kerana permintaannya yang tidak masuk akal.
Dia cuma berkata, “Carilah bunga merah dari rumah yang tidak mengenal “kesedihan”. Setelah kamu bertemu bunga itu, kita akan bersama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan kembali puteramu.”
Selesai mendengar itu, wanita tersebut segera berangkat mencari kemahuan sang guru.
Dalam perjalanan, dia nampak bingung. Tak ada satu petunjuk pun tentang di mana dan bagaimana bentuk rumah itu. Hinggalah, dia tiba di depan rumah mewah.
“Mungkin, penghuni rumah itu tak pernah mengenal kesedihan,”ucap wanita itu dalam hati.
Setelah mengetuk pintu, dia berkata, “saya mencari rumah yang tidak pernah mengalami kesedihan. Inikah tempatnya ?”
Wajah sang wanita masih memperlihatkan raut bersedih. Dari dalam rumah, terlihat wajah yang tak kalah sedih.
Pemilik rumah itu menjawab, “Kamu datang ke rumah yang salah.”
Pemilik rumah itu bercerita tentang tragedi yang dialami keluarganya . Ia tak hanya kehilangan seorang anak, tapi juga suami dan kedua orangtuanya kerana kemalangan. Si wanita berasa amat kecewa.
Namun, dia menjadi terharu dengan cerita tuan rumah. Ia berfikir, “Siapa yang boleh membantu orang yang nasibnya lebih malang dari saya ini?”
Dia memutuskan untuk tinggal di sana dan menghiburkan pemilik rumah itu. Beberapa hari lamanya, dia bersama wanita pemilik rumah itu, saling bantu-membantu untuk menjalani hidup.
Beberapa minggu berlalu, wanita itu pun berasa si tuan rumah sudah kelihatan lebih baik. Lalu, ia berangkat lagi mencari rumah berikutnya. Tetapi, ke mana pun dia pergi, selalu bertemu kesedihan orang lain. Akhirnya, dia berasa bertanggungjawab untuk menghiburkan semua orang yang dikunjunginya. Hingga akhirnya, dia pun melupakan misinya.
Note :
Kita belajar makna cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam dukungan. Kedua belah tangannya sibuk membetulkan selimut si bayi. Dalam dadanya tiada sesuatu selain ketulusan memberi atas nama cinta.
Kita belajar makna cinta dari seorang ayah yang membawa pulang sekarung padi dan sejag air setelah seharian berpenat-lelah di sawah. Dalam dadanya, tiada sesuatu selain kegembiraan memberi atas nama cinta.
Kerana cinta bukan hanya sekadar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh romantis. Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari, dari sepasang merpati, dari sujud dan tengadah doa. Dari apapun!
Pada semua kelahiran yang bersambut dengan cinta, hingga kematian dalam cinta, kita dalam hidup ini, tiada lain selain mewujudkan cinta.
Kerana itu, tiada yang boleh kita lakukan selain atas nama cinta kita yang teragung: cinta buat Yang Maha Agung, Allah SWT.
Apapun keputusan-NYA buat kita, Allah yang berbicara, yang menentukan untung-nasib kita, kerana setiap sesuatu yang menyedihkan itu ada hikmah-Nya.
Atas nasihat orang di desa, ia menemui seorang tua bijak di pinggir hutan. Mereka berkata, siapa tahu orang bijak itu dapat membantu menyelesaikan masalahnya. Kerana merasa amat cinta kepada anaknya yang telah mati itu, ia amat berharap agar dapat bertemu dengan orang bijak itu. Ditempuhlah perjalanan yang jauh dengan cepatnya.
Sesampainya disana, dia bertanya, “Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk mengembalikan anakku?”
Sang Guru tidak berusaha untuk berbalah atau menghalau wanita itu kerana permintaannya yang tidak masuk akal.
Dia cuma berkata, “Carilah bunga merah dari rumah yang tidak mengenal “kesedihan”. Setelah kamu bertemu bunga itu, kita akan bersama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan kembali puteramu.”
Selesai mendengar itu, wanita tersebut segera berangkat mencari kemahuan sang guru.
Dalam perjalanan, dia nampak bingung. Tak ada satu petunjuk pun tentang di mana dan bagaimana bentuk rumah itu. Hinggalah, dia tiba di depan rumah mewah.
“Mungkin, penghuni rumah itu tak pernah mengenal kesedihan,”ucap wanita itu dalam hati.
Setelah mengetuk pintu, dia berkata, “saya mencari rumah yang tidak pernah mengalami kesedihan. Inikah tempatnya ?”
Wajah sang wanita masih memperlihatkan raut bersedih. Dari dalam rumah, terlihat wajah yang tak kalah sedih.
Pemilik rumah itu menjawab, “Kamu datang ke rumah yang salah.”
Pemilik rumah itu bercerita tentang tragedi yang dialami keluarganya . Ia tak hanya kehilangan seorang anak, tapi juga suami dan kedua orangtuanya kerana kemalangan. Si wanita berasa amat kecewa.
Namun, dia menjadi terharu dengan cerita tuan rumah. Ia berfikir, “Siapa yang boleh membantu orang yang nasibnya lebih malang dari saya ini?”
Dia memutuskan untuk tinggal di sana dan menghiburkan pemilik rumah itu. Beberapa hari lamanya, dia bersama wanita pemilik rumah itu, saling bantu-membantu untuk menjalani hidup.
Beberapa minggu berlalu, wanita itu pun berasa si tuan rumah sudah kelihatan lebih baik. Lalu, ia berangkat lagi mencari rumah berikutnya. Tetapi, ke mana pun dia pergi, selalu bertemu kesedihan orang lain. Akhirnya, dia berasa bertanggungjawab untuk menghiburkan semua orang yang dikunjunginya. Hingga akhirnya, dia pun melupakan misinya.
Note :
Kita belajar makna cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam dukungan. Kedua belah tangannya sibuk membetulkan selimut si bayi. Dalam dadanya tiada sesuatu selain ketulusan memberi atas nama cinta.
Kita belajar makna cinta dari seorang ayah yang membawa pulang sekarung padi dan sejag air setelah seharian berpenat-lelah di sawah. Dalam dadanya, tiada sesuatu selain kegembiraan memberi atas nama cinta.
Kerana cinta bukan hanya sekadar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh romantis. Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari, dari sepasang merpati, dari sujud dan tengadah doa. Dari apapun!
Pada semua kelahiran yang bersambut dengan cinta, hingga kematian dalam cinta, kita dalam hidup ini, tiada lain selain mewujudkan cinta.
Kerana itu, tiada yang boleh kita lakukan selain atas nama cinta kita yang teragung: cinta buat Yang Maha Agung, Allah SWT.
Apapun keputusan-NYA buat kita, Allah yang berbicara, yang menentukan untung-nasib kita, kerana setiap sesuatu yang menyedihkan itu ada hikmah-Nya.
Sunday, June 29, 2014
Cinta Sejati
Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk.
Lalu aku baca tahun “1924″. Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, “Sayangku Michael”, yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah.
etapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. “Operator,” kataku pada bagian peneragan, “Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?”
Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, “Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda.” Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku
menunggu beberapa menit.
Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, “Ada orang yang ingin berbicara dengan anda.” Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, “Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!” “Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?” tanyaku. “Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu,” kata wanita itu. “Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada.” Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.
“Semua ini tampaknya konyol,” kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat
Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, “Ya, Hannah memang tinggal bersama kami.” Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. “Ok,” kata pria itu agak bersungut-sungut, “bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah.”
Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop
surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael.” Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, “Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu.” “Ya,” lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. “Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,…….”
Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ……katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda,” katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, “aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael.” Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, “Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?” Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, “Aku hanya mendapatkan nama belakang
pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini.” Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, “Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini.”
“Siapakah Pak Goldstein itu?” tanyaku. Tanganku mulai gemetar. “Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar.” Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, “Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan.” Kami menuju ke
satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, “Oh ya, dompetku hilang!” Perawat itu berkata, “Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?” Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, “Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi
sore. Aku akan memberimu hadiah.” “Ah tak usah,” kataku. “Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini.”
Senyumnya langsung menghilang. “Kamu membaca surat ini?” “Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang.” Wajahnya tiba-tiba pucat. “Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku,” ia memohon. “Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya,” kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, “Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok.” Ia menggenggam tanganku, “Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat
surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu
mencintainya.”
“Michael,” kataku, “Ayo ikuti aku.” Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan.
“Hannah,” kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. “Apakah anda tahu pria ini?” Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, “Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?” Hannah gemetar, “Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!” Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. “Lihatlah,” kataku. “Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah.”
Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. “Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!” Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka.
Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun
Subscribe to:
Posts (Atom)







