Tuesday, January 27, 2009

Menembus Keterbatasan

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi
tubuhnya.

Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak
Korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu?

Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak Korek
api saja!


Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.


Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia
mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api.
Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai
ragu akan kemampuannya sendiri.


Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya
segini."

Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman.

Dia tidak membentur.

Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan ? Kemampuan saya
memang cuma segini. Inilah saya!"


Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih
terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak
korek api.

Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang
sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh
lingkungannya.


Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api.

Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan
memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya,
sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda
mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru
tersinggung.

Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.


Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api.

Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras
seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok."

Ingat! Mereka adalah kotak korek api.

Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.


Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna,
tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya.


Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi
dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas
sehari-hari.


Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take
action untuk menembus kotak korek api itu.


Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia
mampu menjadi presenter di televisi.


Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan
"gagu" dia mampu lulus dari Harvard University.


Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu
menjadi "raja" komputer.

Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi
motivator nomor satu di Indonesia .


Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang
pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak
menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau
pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.


Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan
setelah usianya lewat 65 tahun.


Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika
usianya sudah lebih dari 62 tahun.


Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada
hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba,
Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela
adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api.


Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus
berbagai keterbatasan.


BREAK YOUR BORDER . . . . TOUCH THE SKY . . . . !

Sunday, January 18, 2009

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua :
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu :"Contohnya? "

Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :

"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:

"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Hidup adalah Pilihan

Ada 2 bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar,aku ingin menjejakkan akarku dalam2 di tanah ini dan menjulangkan tunas2ku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk2 daunku"...Dan bibit itupun tumbuh,makin menjulang...

Bibit yang kedua berguman..."Aku takut,jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini,aku tak tahu apa yang akan kutemui dibawah sana.Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas,bukankah nanti keindahan tunas2ku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siput2 mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman"...Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera.

Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon2 yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan,kebimbangan2 yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan2 untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah..Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak... 

Thursday, January 15, 2009

Bunga Gurun

oleh Loki (seorang tabib Indian Sioux)

Kisah ini terjadi bermusim-musim panas yang lalu.

Dahulu kala hiduplah setumbuh bunga muda di gurun pasir yang kering dan semuanya tampak muram...Ia tumbuh dengan sendirinya...menikmati hari demi hari dan bertanya kepada matahari, "Kapan aku tumbuh besar?" Dan Matahari menjawab,"Sabarlah! Engkau akan tumbuh sedikit demi sedikit, setiap aku menyentuhmu". Dan si bunga merasa sangat senang karena ia berkesempatan memberikan keindahan pada sudut gurun ini.

Suatu hari seorang pemburu datang, dan menginjaknya. Ia sekarat dan merasa sedih. Bukan karena ia akan mati tapi karena ia tak sempat memberikan sedikit keindahan pada sudut gurun.

Roh Agung melihatnya, dan mendengar ratapannya. Ia berkata, "Sebenarnyalah ia harus hidup!".. Dan Ia merengkuh dan menyentuhnya, memberinya kehidupan.

Dan ia tumbuh sebagai bunga yang cantik...sehingga sudut gurun ini menjadi sangat indah karena keberadaannya.

Setongkol Jagung yang Terlupakan

Cerita Suku Indian Sioux Amerika : Diceritakan kembali oleh Marie L. McLaughlin in "Myths and Legends of the Sioux" ; 1913.

Seorang perempuan Arikara sedang mengumpulkan jagung dari ladang untuk disimpan guna cadangan musim dingin, Ia beringsut dari batang ke batang, memetik tongkol-tongkol jagung dan menjatuhkannya ke atas rok panjangnya yang dilipat.

Ketika semuanya telah terkumpul dan ia hendak beranjak pergi, ia mendengar suara merintih, seperti suara seorang bocah yang menangis dan memanggil-manggil : "Oh, jangan tinggal aku! Jangan pergi tanpa aku.”

Wanita itu terheran-heran. “Anak macam mana pula itu?,” bathinnya. “Anak siapakah yang tersesat di kebun jagung?”

Ia melepaskan ikatan rok panjangnya di mana ia menaruh jagungnya, dan berbalik untuk melakukan pencarian; namun ia tak menemukan apapun. Ketika ia hendak pergi didengarnya lagi suara itu,” Oh, jangan tinggal aku. Jangan pergi tanpa aku.”

Ia mencari cukup lama. Pada akhirnya, di sesudut ladang, tersembunyi di balik daun-daun batang jagung, ia menemukan setongkol jagung kecil.

Tongkol inilah yang tadi menangis, meratap-ratap. Semenjak peristiwa itu semua perempuan Indian kemudian memelihara ladang jagungnya dengan sangat hati-hati, sehingga tidak ada sebiji hasil pangan pun yang terlupakan atau terbuang, dan membuat kecewa sang Misteri Agung

Wednesday, January 14, 2009

PERBEDAAN PERSEPSI

> Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA 
> hal kepada 2 anak laki-lakinya : 

> - Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang 
> kepadamu. 
> - Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar 
> matahari. 

> Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah 
> ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu 
> menjadi semakin miskin. 

> Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka. 

> Jawab anak yang bungsu : 

> "Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak 
> boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya 
> modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar 
> sementara aku tidak boleh menagih". 
> "Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko 
> dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus 
> naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, 
> tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak". 

> Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal 
> yang sama. 
> Jawab anak sulung : 

> "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan 
> supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka 
> saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal 
> tidak susut". 

> "Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang 
> dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko 
> sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. 
> Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah 
> toko yang lain tutup." 

> "Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi 
> laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama". 

> MORAL CERITA : 
> Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan 
> presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka 
> segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses 
> tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas 
> kita... pilihan ada di tangan anda. 

> 'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'

Sunday, January 11, 2009

MEJA KAYU

SUATU KETIKA, HIDUPLAH SEORANG KAKEK YANG TINGGAL BERSAMA ANAK, MENANTU, DAN CUCUNYA YANG BERUSIA 6 TAHUN. TANGAN ORANG TUA INI BEGITU RAPUH, DAN SERING BERGERAK TIDAK MENENTU. PENGLIHATANNYA BURAM, DAN CARA BERJALANNYA PUN RINGKIH.
KELUARGA INI BIASA MAKAN BERSAMA DI MEJA MAKAN. NAMUN SANG KAKEK KERAP KALI MENGACAUKAN SEGALANYA. MATANYA YANG RABUN DAN TANGANNYA YANG BERGETAR, MEMBUATNYA SUSAH UNTUK MENYANTAP MAKANAN. SENDOK DAN GARPU SERING KALI JATUH KE LANTAI. MINUMAN PUN SERING TUMPAH MEMBASAHI TAPLAK MEJA.
ANAK DAN MENANTUNYA PUN MENJADI SANGAT GUSAR. MEREKA MERASA DIREPOTKAN DENGAN SEMUA INI. “KITA HARUS MELAKUKAN SESUATU,” UJAR SANG SUAMI. “AKU SUDAH BOSAN UNTUK SELALU MEMBERESKAN SEMUA INI.”
LALU MEREKA MEMBUAT SATU MEJA KECIL DI SUDUT RUANGAN UNTUK TEMPAT MAKAN PAK TUA ITU.
DISANA SANG KAKEK DUDUK MAKAN SENDIRIAN, SAAT YANG LAINNYA DUDUK MENYANTAP MAKANAN BERSAMA. PIRING PLASTIK PUN DIBERIKAN AGAR SI KAKEK TIDAK MEMECAHKAN LAGI MANGKUKNYA. KAKEK MENJADI SEDIH, AIR MATA PUN MENGALIR MEMBASAHI GURAT – GURAT DI WAJAHNYA. TERKADANG TERDENGAR ISAK TANGIS DARI SUDUT RUANGAN, NAMUN KATA YANG KELUAR DARI SUAMI ISTRI INI SELALU OMELAN AGAR TIDAK MENJATUHKAN MAKANAN LAGI.
ANAK MEREKA YANG BERUSIA 6 TAHUN MEMANDANGI SEMUA DALAM DIAM. SUATU MALAM , SEBELUM TIDUR, SANG AYAH MELIHAT ANAKNYA SEDANG MEMAINKAN MAINAN KAYU. AYAHNYA MENGHAMPIRINYA DAN BERKATA DENGAN LEMBUT, “KAMU SEDANG MEMBUAT APA?” ANAKNYA DENGAN POLOS MENJAWAB, “AKU SEDANG MEMBUAT MEJA KAYU UNTUK TEMPAT MAKAN AYAH DAN IBU SAAT AKU BESAR NANTI. AKAN KU LETAJKAN DI SUSUT RUANGAN, DEKAT TEMPAT KAKEK BIASA MAKAN.”
ANAK ITU PUN TERSENYUM DAN MELANJUTKAN PEKERJAANNYA. JAWABANYA MEMBUAT KEDUA ORANGTUANYA SEDIH DAN BEGITU TERPUKUL. MEREKA TAK MAMPU BERKATA – KATA LAGI. AIR MATA PUN BERGULIR DARI KEDUA PIPI MEREKA, DAN MEREKA PUN SADAR BAHWA ADA YANG HARUS DIPERBAIKI.
MULAI KEESOKAN HARINYA, MEREKA MENUNTUN TANGAN SI KAKEK UNTUK KEMBALI MAKAN DI MEJA MAKAN. TAK ADA LAGI OMELAN YANG KELUAR MESKIPUN KAKEK MENJATUHKAN MAKANANNYA, DAN MINUMAN TUMPAH MEMBASAHI TAPLAK MEJA. KINI, KELUARGA ITU BISA KEMBALI MAKAN BERSAMA DENGAN DAMAI.
- Sudahkah kau berbakti pada orang tua mu??

Thursday, January 8, 2009

Dimana Kebahagiaan??

Mencari kebahagiaan adalah fitrah murni setiap manusia. Tidak melihat apakah itu lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang kaya atau orang miskin, orang besar atau orang kecil. Semua menginginkan kebahagiaan. Segala tindak tanduk manusia dapat kita lihat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencari kebahagiaan.
Kebahagiaan itu bukan terletak pada tangan, mata, kaki, telinga atau yang lainnya. Tetapi kebahagiaan itu terletak pada hati atau jiwa. Orang yang mendapat kebahagiaan akan merasa ketenangan hati, ketenangan jiwa dan keindahan ruh. Kalau kita lihat berbagai cara dan jalan telah ditempuh oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ada yang mencari kebahagiaan melalui kekayaan, pangkat, nama, kemasyhuran atau isteri yang cantik. Tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah, benarkan semua itu dapat memuaskan hati manusia dengan mutlak?
Kalau mencari kebahagiaan itu diusahakan dengan kebendaan, percayalah…manusia akan gagal mencapai kebahagiaan,yang ada adalah manusia akan mencapai kekecewaan, manusia akan merasa malang sepanjang hari, jiwa tidak tenang, tidak tenteram sepanjang masa. Inilah yang dikatakan Neraka sementara sebelum merasakan Neraka yang hakiki dan dahsyat serta mengerikan di akhirat nanti.
Buktinya dapat kita lihat, orang-orang yang mencari kebahagiaan melalui :
1.Kekayaan
Setelah manusia itu mendapat kekayaan, ia tidak akan dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak menyenangkan. Yaitu ujian-ujian. Ujian-ujian itu merupakan sunnatullah yang sengaja Allah datangkan kepada setiap manusia. Contohnya, ia tidak dapat terhindar dari sakit yang Allah datangkan kepadanya. Jika sudah ditimpakan kesakitan maka diwaktu itu kekayaan tidak berguna lagi. Atau dalam waktu-waktu yang lain terjadi pencurian, kebakaran, diancam dan sebagainya. Kalau semua itu terjadi, walau sekaya apapun ia, tidak dapat memberi kebahagiaan kepada manusia.
2.Pangkat dan Jabatan
Dalam keadaan mencari kebahagiaan melalui pangkat, ia juga tidak dapat terhindar daripada dihina oleh orang yang diatasnya. Ia tidak dapat terhindar dari hasad dengki dari orang lain yang berada di atasnya, semua orang akan benci sebab untuk mendapatkan pangkat ia selalu mengumpat orang, memfitnah, menjatuhkan orang lain agar orang memberi perhatian kepadanya. Apabila sudah mendapat pangkat apakah ia dapat terhindar dari ujian-ujian yang Allah datangkan kepadanya?. Apakah ia dapat terhindar dari kematian anak, isteri, keluarga atau orang yang dicintai? Apakah pangkat tersebut dapat memberi kebahagiaan dan ketenangan jiwa pada seseorang?
3.Nama dan Glamor
Begitu juga kalau seseorang itu mencari kebahagiaan dengan nama kemasyhuran dan isteri cantik, ia tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Orang yang mencari kebahagiaan dengan dunia atau material semata-mata tidak akan menemui kebahagiaan selama-lamanya. Kebahagiaan yang diharapkan tetapi kecelakaan yang datang, yaitu kesengsaraan dan penderitaan di dunia lagi.
Kita lihat beberapa contoh :
Bintang film terkenal yang dipuja orang yaitu Marilyn Monroe dan Elvis Presley mati bunuh diri. Dikalangan selebritis kita perceraian sudah menjadi budaya,baru menikah 3 sampai 5 tahun rumah tangga sudah hancur dan anak terkorban, sedangkan mereka pada lahiriah atau materiil seolah-olah sudah mendapat kebahagiaan, kaya dan berkecukupan,muda usia, wajah ganteng dan cantik. Tetapi mengapa terjadi demikian?
Ada juga di kalangan mereka yang mencoba bunuh diri, tetapi dapat diselamatkan. Adayang tidak berani bunuh diri, tetapi terlibat dengan ganja, narkotik, minuman keras dan bermacam-macam kejahatan yang mengerikan dan merusak masyarakat. Mereka anggap itu kebahagian. Ada yang terliat dengan hiburan-hiburan yang tidak sehat, prostitusi, dll. Ada juga yang berusaha sungguh-sungguh agar dapat memberi kebahagiaan , kepuasan jiwa dan ketenangan hati. Mereka tinggalkan segala-galanya membawa diri mengikuti rasa hati, kesana kemari tidak tentu arah. Ada yang membiarkan pakaiannya compang camping, seolah-olah ingin hidup seperti rumput dan angin. Malah seringkali budaya seperti ini yang menjadi masalah pada masyarakat sekarang ini.
Benarlah firman Allah SWT yang artinya :
”Tidak ada hidup di dunia ini, melainkan harta benda yang menipu daya” Q.S Al Hadid : 20
Di dunia pun sudah tertipu dan mengecewakan,karena mereka yakin pangkat, kekayaan, nama dan kemahsyuran, serta isteri cantik dapat memberikan kebahagiaan , tetapi semua itu telah menipu mereka. Di akhirat nanti baru dia sadar bahwa dunia ini menipunya, hingga menjadikan dia lupa perintah Allah. Dunialah yang menyebabkan dia terjun ke Neraka.
Sehingga kelak akan terkejut dengan janji Allah dalam firmanNya yang artinya :
”Rasakanlah azab dan siksa yang pedih”
Kalau begitu dimanakah kebahagiaan yang hakiki? Apakah di dunia atau akhirat? kebahagiaan yang hakiki dan sejati adalah setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul serta melaksanakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang dengan sepenuh hati dan ikhlas.
Allah berfirman yang artinya :
”Ketahuilah bahwa dengan mengingati Allah itu hati akan tenang (jiwa akan tenang)” Q.S : Ar-Raad : 28.
Yang dimaksud tenang adalah tenang dengan dunia, tidak risau dengan dunia, tidak risau dengan rizkinya di dunia, tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia. Tetapi yang dirisaukan adalah nasibnya di akhirat serta dosa-dosanya kepada Allah
Dimana di akhirat nanti tidak berguna lagi harta kekayaan, pangkat, pujian dari orang dan isteri yang cantik. Semua tidak akan dapat memberi manfaat lagi dihari akhirat.
Firman Allah yang artinya :
”Di hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat sejahtera”Q.S : Asy-Syuaraa : 88 – 89
Berikut ada sebuah sajak dari Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi berjudul “Musafir Kelana” untuk kembali meyakinkan hati kita tentang hakikat hidup ini..
 
Kita di dunia adalah musafir kelana
Di sini bukan tempat tinggal berlama-lama
Hidup di dunia hanya sementara
Ke Akhirat sana tujuan kita

Di waktu musafir carilah barang-barang yang berguna sebanyak-banyaknya
Untuk dibawa pulang ke Akhirat sana
Jangan bawa barang-barang yang salah
Di sana nanti hukuman menunggu kita

Di waktu di dunia jangan kita lupa
Di dunia bukan tempat tinggal kita
Mau ataupun tidak mau kita terpaksa ke sana
Kalau tidak ada amal baik yang dibawa kecewalah kita

Ingatlah jangan kita terlalai
Berhati-hatilah dengan dunia yang menipu kita
Jika kita tersilap di dunia ini
Merana selamanya di Akhirat sana
Ingatlah sebelum terlambat…