Wednesday, October 22, 2008

Semangkuk Mie

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

“Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi… ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang lalu berkata:

“Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”

Ana terhenyak mendengar hal tsb.

“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal , aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah

“Ana, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang”

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang s angat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

sumber : http://mylighter.multiply.com/tag/inspiration

Thursday, October 16, 2008

由Gloria · Steinem总问乌龟

Gloria Steinem、 作家和领导在女权运动,在地质 实地考察曾经学到了一个重要政治教训作为一名学生。
“我采取了地质,因为我认为它是最少科学的 科学, “她告诉了观众在史密斯学院。

“在实地考察,而所有的人是看蜿蜒地流的 康涅狄格河,我支付没有注意。 反而,我有 发现在另一条路的堤防上升了在河外面,爬行 土路,并且在泥的一只巨型,巨型乌龟, 表面上爬行对此和得到压乘汽车。

“如此,是一好codependent与世界,我用力拖了并且推挤了并且 拉扯了,直到我设法运载这只巨大,重,恼怒的鳄龟 堤防和击倒路。

“我是正义的投入它回到河,当我的地质教授 到达了并且说, ‘您知道,乌龟在泥大概度过了 爬行那条土路的一个月由路的边下它的蛋,并且 您在河放回它。‘

“很好,我感到可怕。 但在最新岁月,我体会这是 最重要的政治教训学会的I,警告我关于左右 的两个独裁冲动的一。

“总问乌龟”。

Gloria Steinem

什么是成功?

经常和笑;

赢取聪明的 人民尊敬
并且孩子的喜爱;

赢得诚实的 评论家的欣赏
并且忍受错误朋友背叛;

赞赏 秀丽;
发现最佳在其他;

留给 世界好,还是
一个健康孩子,庭院补丁
或一个 被赎回的社会情况;

要知道甚而 一生活呼吸了
更加容易,因为您居住;

这是为了 成功。

Ralph Waldo爱默生

De pijn van de Ziel

In onze maatschappij, getuigen wij de daling van geweten. Het is gezamenlijk met unfashionability en de politieke onjuistheid van een bepaald traditioneel geloof. Ziet om het even wie geen verbinding?
Als u aan dit traditionele geloof intekent, wordt u onmiddellijk gestereotypeerd als wild-eyed fanatic, en slechter, enkel voor het geloven van het zelfde bericht dat door miljoenen eeuwenlang wordt goedgekeurd. Maar toch precies gezamenlijk met het dalende geweten van vandaag en verdere verhoging van misdaad, haat, zijn het immorele gedrag en de apathie, het openbare trashing van dit traditionele geloof geweest. Ik, opnieuw zegt iedereen ziet geen verbinding? De enige groep dat het eigenlijk „politiek correct“ is te haten is de groep die nog dit traditionele geloof houdt.
De schuld is iets geworden dat aan al kosten moet worden gezuiverd. Maar de schuld is als pijn, slechts voor de ziel. Als u al pijn verzacht, vroeg of laat zult u tegen een heet fornuis leunen en zult van uw vingers branden. Als u al schuld verzacht, zult u uiteindelijk de rest van uw lichaam in een gelijkaardige situatie vinden.

De ontwerper

Het is een de recente zomernacht op de kust van Oregon op een volledig-moonlit nacht. Het is zo helder, is het bijna als dag. De reusachtige rotsvormingen langs een flikkerend strand zijn zo mooi ik enkel moeten ophouden. Lopend langs dit strand, dat de rotsvormingen eyeing, het strand, de maan, de starry hemel, word ik geslagen met een ongelooflijke gedachte. Dit kon onmogelijk net gebeurd zijn! Laat me verklaren.
Al mijn volwassen leven ben ik een professionele grafische ontwerper geweest. De meeste mensen begrijpen wat niet dat is.
Zij zeggen, „u bent een caricaturist?“
„Nr, ontwerp ik dingen voor druk--als deze brochure.“ Ik zou antwoorden, overhandigend hen een steekproef.
„Maar dit heeft geen beeldverhalen daarin. Nam u deze foto's? „
„Nr, een commerciële fotograaf.“
„Goed, deed u dit het van letters voorzien?“
„Nr, dat type is plaatste op mijn computer.“
„Goed, drukte u het?“
„Nr, een printer!“
„Goed, wat u?“
„Ik ONTWIERP het! Iemand moet beslissen welke grootte en het kleur gaat zijn, wat voor foto's of kunstwerk te gebruiken hoe te om hen te bebouwen waar te om hen op de pagina te zetten, welke typestijl aan gebruik en hoe groot, hoeveel kolommen voor het lichaam te gebruiken, kopiëren hoe te om het te vouwen hoe te om het uitnodigend te maken om te lezen, welk soort te gebruiken document, of het zelf-post of in een envelop gaan en hoe te om de envelop te ontwerpen zal! In het kort, moet iemand de beste manier beslissen om in druk te communiceren. Het GEBEURT niet alleen!
Bingo! De zelfde dingsmensen hadden aan me jarenlang gedaan, had ik aan de Grote Ontwerper gedaan. Een gedrukt stuk gebeurt niet alleen zonder wordt ontworpen en wordt veroorzaakt. Of het haphazardly door Joe Printer of zorgvuldig door een professionele ontwerper heeft gedaan, moet het worden ontworpen en worden geproduceerd of het bestaat niet. Op de zelfde manier, kon deze mooie kustlijn niet net zonder een Ontwerper gebeurd zijn. Duidelijk, heeft het heelal ontwerp. De installaties worden gebouwd om in kooldioxide te nemen en zuurstof uit te zenden, worden de dieren en de mensen ontworpen om zuurstof te ademen en kooldioxide uit te ademen. Dit is ontwerp. Hoe kon het ontwerp zonder een Ontwerper hebben? Hoe kon het zonder de Grote Ontwerper bestaan?

Monday, October 13, 2008

CERITA BIJAK : EMPAT KALI TUJUH

"Empat kali tujuh adalah dua puluh tujuh" : Kata pria pertama

"Empat kali tujuh adalah dua puluh delapan" : Kata pria kedua



Kedua orang itupun berterngkar sampai menjadi jengkel lalu berkelahi, dan dibawa menemui hakim setempat yang memerintahkan agar orang yang kedua dipenjara.



Orang itu berteriak memprotes. “Kamu sangat bodoh” , kata hakim dengan tenangnya, “sampai mau bertengkar dengan seorang yang dengan tololnya mengatakan bahwa empat kali tujuh adalah dua puluh tujuh. Bukankah kamu yang seharusnya dihukum?”



Orang itu pada akhirnya mengangguk setuju dan mengakui bahwa hakim benar.



Moral Cerita:

Diam adalah emas, ketika tidak ada gunanya berargumentasi. Jika orang kedua itu rational, dia mungkin tidak jatuh kedalam kesulitan karena menanggapi orang bodoh yang serius. Tetapi dalam hali ini, hukuman orang yang pertama akan lebih buruk dibandingkan yang kedua karena dia tidak pernah mengetahui bahwa dia salah


** siambil dari buku cerita Cina **

Apa benar kita musti diam kalau ada yang salah ?

Sunday, October 12, 2008

Real Prophets, Real Men: Opposing Pornography

True prophets in biblical times were always speaking out against popular but evil trends. The intellectuals, the elite, the celebrities, and other opinion molders of the day often despised the prophets. Modern LDS prophets are in good company. Have you noted how often President Hinckley and other prophets speak out against pornography? In a day when it is so popular and widespread, their constant warnings are hardly tailored for popularity and mass acceptance. But the message is a vital one.

I am so grateful to belong to a Church that doesn't just say what people want to hear. I believe that the For the Strength of Youth booklet for youth truly is inspired, and am so glad that young people in this Church are warned of the dangers of sin and the blessings of chastity and freedom from pornography. I appreciate the suggestions for regulating media in our homes that the Church provides. I am proud of the First Presidency for speaking out against pornography so frequently. In this degrading era where Dr. Ruth is held up as a hero, and vile organizations like Planned Parenthood are more given far more respect than the Church or Christianity in general, people need the guidance that comes from a true prophet.

Why do I care? Because so many times I have seen the devastating effects of pornography. I have seen it wreck marriages for people that I cared about. I have dealt with many victims of sexual abuse, and know that pornography almost always plays a role in the sordid pattern of behavior associated with such crimes. I have seen people become calloused not only to the promptings of the Spirit, but to the feelings of other people. I have seen pornography change the mindset of others so that they viewed women as little more than slabs of flesh to play with, rather than the daughters of God that they are. I know that the MISINFORMATION it provides interferes with the ability of people to properly experience and grow from the real joys of intimacy in marriage - it leaves the disappointed, selfish, and even pathetic. It makes losers out of people who could have been great. Pornography is all about becoming a loser. Real men don't do pornography! Neither do real women. And real prophets speak out against these evils. Praise God that we have a real prophet today.

A related resource I offer is my page, "Mormon Answers: Love, Dating, and Marriage for Mormons" with my answers at some common questions dealing with morality.

Related thoughts:

I have little respect for the arrogance of self-styled intellectuals in the Church who sneer at prophetic warnings on morality and modesty, and think that they are in a different class of people who can "handle" pornography or making out or whatever. There is great wisdom and inspiration in our Prophet who urges us to flee pornography as if it were the plague. Those who think they are too smart for that might as well sneer at health officials who warn us to wash our hands and avoid drinking water contaminated with sewage.

I also know that the Church's program of interviews with Church leaders, so often mocked by critics in and out of the Church, is a powerful resource to help people get the help they need to overcome sin. Dealing with addictive problems like pornography or immorality of any kind (masturbation and beyond) can be very difficult for a person to do without the power that comes from honestly confessing and seeking counsel. People need a confidential outlet to discuss such problems, and coupled with the power of the Spirit and priesthood guidance, miracles can occur. (But these interviews need to be kept uplifting and non-threatening and comfortable, not prying improperly, always showing respect and compassion for the person being interviewed.)

On a final note, let me mention somebody you probably haven't heard about recently, unless you have access to a TV, radio, newspaper, or computer: Ronald Reagan. Among all the endless discussions of Ronald Reagan in the past few days, one thing I haven't heard the media mention at all was Ronald Reagan's moral stand against pornography. The controversial Meese Commission Report on pornography that came from the Reagan era has been denounced by almost everyone in the media. I suspect that the percentage of critics of the report who actually read it is about the same as the fraction of anti-Mormon writers who have read the Book of Mormon. I am one of the very few Americans who actually read the report (still have a copy of it). I feel the report has been grossly misreported and underreported, and that its documentation indeed provides powerful evidence that the porn industry does great harm to America and to many specific victims. It did not call for a new era of draconian censorship, but mostly called for enforcement of already existing Constitutionally valid laws. Reasonable people might disagree with some of its conclusions, but I have almost never heard reasonable people discussing what it actually said, or the evidence behind the recommendations.


Source :http://mormanity.blogspot.com/2004/06/real-prophets-real-men-opposing.html

The Something in Nothing


Here is a story from the Chhandogya Upanishad:

After years away at school, Shvetaketu returned home to his father, Uddalaka. Uddalaka could tell from Shvetaketu's boasting about how much he'd learned that he hadn't learned anything at all. Or at least nothing really worth knowing.
"Did your teacher teach you how to hear that which cant be heard or know what cant be known?" Uddalaka asked.
"Oh-oh. That wasn't in the curriculum."

"Go outside and get me a fruit from the banyan tree." Shvetaketu ran outside for the fruit.
"Now cut it in half," his father instructed. "What do you see?"
"I see the seeds, dad."
"Cut one of those in half." This wasn't very easy, banyan seeds are extremely small. Finally Shvetaketu managed to slice one evenly. "What do you see?" Uddalaka asked.
The boy was baffled. "What do you mean dad? There is nothing there."
Uddalaka looked his son in the eye, "From that 'nothing' an enormous tree arises. When you understand that 'nothing' is, you will understand yourself. The nothing you cant see is the very essence of the reality of the tree. The unperceivable essence of being is also what you are. You are that, Shvetaketu."
"Pour some salt into this bucket of water," Uddalaka continued. Shvetaketu obeyed. "Now give me the salt back."
"I cant do that!" Shvetaketu objected. "It is gone!"
"Take a sip of the water. You taste the salt, don't you? You couldn't see it, yet it was there all along. Just as the salt pervades the water, so the subtle essence of reality pervades your body. That subtle essence is true being. You are that, Shvetaketu."

source : http://www.storiesofwisdom.com/the-something-in-nothing/

Kisah Orang Tua Bijak

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja
menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum
pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda
jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak :
"Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah
seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual
seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana
kita dapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin
dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di
kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua
bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan
bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan
bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana
mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu
berharga ? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh
minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan
dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda
dikutuk oleh kemalangan".

Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat.
Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di
kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah
penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana
Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat
menghakimi ?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan
menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami
bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di
perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah
kutukan".

Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu
hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi.
Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau
berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat
hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan
terjadi nanti ?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu
gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol;
kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari
uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang
potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar
dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang
ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak
lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah
membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di
curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali,
ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya.
Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang
potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, kamu
benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan
sebenarnya berkat. Maafkan kami".

Jawab orang itu : "Sekali lagi kalian bertindak
gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik.
Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia,
tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini
adalah berkat ? Anda hanya melihat sepotong saja.
Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita,
bagaimana anda dapat menilai ? Kalian hanya membaca
satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai
seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari
sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh
ungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai
seluruh hidup berdasar! kan satu halaman atau satu
kata.Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan
itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah
puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu
karena apa yang saya tidak tahu".

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu
kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak
berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia
salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda
liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit,
binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak
muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah
beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan
kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul
sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar", kata
mereka : "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.
Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang
dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk
membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi. Orang
tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan
pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.
Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu
itu berkat atau kutukan ? Tidak ada yang tahu. Kita
hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang
sepotong-sepotong".Maka terjadilah dua minggu kemudian
negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua
anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya
anak si orang tua tidak diminta karena ia
terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua
itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak
mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali
kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan
perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan
melihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang
tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini
buktinya. Kecelakaan anakmu
merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak
ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk
selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk
berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik
kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini :
anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya
tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau
kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk
mengetahui. Hanya Allah yang tahu".

Moral cerita :
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari
seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian
hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku
besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Tuesday, October 7, 2008

Go For The Fruit

It takes courage to begin something new. It takes courage to step out into the unknown. Life has no guarantees, but the reward for living your dream is filled with much fruit.

Starting is the key. We can have the best plans, projects, or ideas, but all is fruitless if we don't take that first step. You must be willing to act, willing to fail, and willing to persist until you achieve your dream.

Are you compelled to achieve success or do you tend to stay at rest? Sir Isaac Newton states that one continues to stay at rest unless compelled to change by forces impressed upon them. Once you're moving, you can keep moving.

Do you have that urge within to break out of the routine and begin to do what you've always wanted to do? Follow your heart. Follow your passion, and don't be afraid to go out on a limb, for that is where all the FRUIT is.

Go for the fruit!

David Croston
Motivational Concepts and Training

Worry

The harm that worry causes in our lives has been well documented by health professionals and others. Worry can weaken and sicken us, and make our days unbearable. At the very least, it prevents us from living fully and happily the only life that we will ever have. At its worse, it can destroy us.

"A god, invisible but omnipotent. It steals the bloom from the cheek and lightness from the pulse; it takes away the appetite and turns the hair gray." - Benjamin Disraeli (1804-1881)

It does a lot more than that, Benjamin!

But the worry disease can be cured and it certainly can be reduced. Of course it requires a change in our thinking - how to view and react to situations. Worrying over things that 'might' happen can waste large portions of our lives, considering that so often it is for nothing, and almost certainly does no good.

"If you can solve your problem, then what is the need of worrying? If you cannot solve it, then what is the use of worrying?" - Shantideva

Worrying about things that have happened will not turn back the hands of time to give you another try at doing it right. So that is a waste of time too. So many of our anxieties and fears are for nothing. Most of the rest can simply be discarded because worrying just isn't going to do any good. So let's spend our time thinking about the good and pleasant things in our lives, and move on in a peaceful and contented state of mind.

"I think these difficult times have helped me to understand better than before how infinitely rich and beautiful life is in every way and that so many things that one goes around worrying about are of no importance whatsoever." - Isak Dinesen

A program to become knowledgeable on the subject of worry, through reading and other instruction, can help in turning our lives around. A life filled with contentment and lacking stress and worry are the goals to be achieved.

It's never too late to start eliminating worry.

source: http://mymotivate.blogspot.com/