Thursday, January 27, 2011

Bagaimana Menyikapi Hidup



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 27 Januari 2011 jam 15:32

BLOG RKI: http://nowilkirin.blogspot.com/

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥




Banyak orang yang bertanya bagaimana menyikapi hidup?


ada yang bilang: “Jalani aja…”

ada yang bilang: “seperti air mengalir, jangan di bendung biar saja mengalir”

“Jangan kau lihat kebelakang… tataplah kedepan”

“Jangan hidup dengan masa lalu… jadikan masa lalumu membuat kau lebih hidup!”

“Jangan Melawan kehendak alam, dengarkan suara hatimu, dan jangan kau tentang nuranimu…”

“Jangan membuat hari-harimu menderita karena pikiranmu”



Semua pesan-pesan diatas, benar adanya.. tetapi semua penuh dengan kata JANGAN….. Jangan ini Jangan itu…. Jangan begini Jangan begitu… Sepintas memang kata-kata yang bijaksana…

Tetapi secara umum, orang yang sedang gundah, tidak senang mendengar kata JANGAN, karena baginya itu adalah larangan. dan siapapun tidak menyukai larangan, walalupun hai itu positif…

Jadi gimana dong?



Diganti kali yah sentuhan kata-katanya:

“Cobalah kita bersama menjalaninya… kamu tidak sendirian, saya pun sedang belajar melangkah dalam kehidupan ini…”

“Hidup ini memang seperti air yang mengalir, biarkanlah ia mengalir ke tempat-tempat yang memerlukannya…”

“Memang setiap manusia memiliki masa lalunya, bahagia dan sedih adalah satu proses yang kita jalani, semua itu dapat menjadikan kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini… mari melangkah mantap ke depan sana… langkahkan kakimu… satu dua…tiga…”

“Biarlah kau telah menderita kemarin, marilah isi kebahagiaan bagi masa depan nantinya”




Akhirnya:

Bersikap ramah pada siapapun merupakan kewajiban yang perlu kita jalankan…..

Bersikap luwes pada apapun merupakan sikap yang perlu dikembangkan…

Tetapi tidak menjadi lemah dan lemes dalam menghadapi segala persoalan hidup..

Jalani dan isilah hari-harimu dengan hal-hal positif yang membuatmu tegar….

Tuesday, January 25, 2011

a letter for my lover

Mungkin engkau sering bertanya-tanya dalam hati atau mungkin menerka-nerka mengenai perasaanku kepada dirimu untuk saat ini.

Inilah jawaban atas pertanyaanmu itu………….
Kekasihku yang aku cintai karena Allah,
Andaikan engkau tahu seandainya memandang mu tidaklah dosa maka aku akan terus memandang mu.
Andaikan rindu ini adalah halal maka aku akan menghubungimu hingga berjam-jam dan meminta mu untuk datang menemuiku.
Andaikan di saat engkau memegang tanganku, memelukku, dan menciumku ini adalah halal bagi kita berdua. Maka akulah orang yang paling bahagia.
Tetapi ketika kau memegang tanganku dan memelukku dalam hati ku bercampur baur antara bahagia dan takut akan dosa, Andaikan aku bukan orang yang paham akan hukum Allah maka akulah orang yang ingin selalu engkau sentuh dan engkau peluk. Tapi aku sudah tahu hukumnya:

“Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: Muslim]

“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283, lihat Ash Shohihah 1/447/226)

Apakah engkau tahu setiap hari, setiap menit aku ingat padamu dan berharap engkau menghubungiku.
Tapi yang aku bisa hanya menatap wajahmu dari sebuah foto yang terpajang dalam jejaring social.
Mungkin engkau menganggapku kolot, tapi aku mengetahui satu hal :
”Melepaskan pandangan kepada yang haram akan mengakibatkan kecemasan, kesedihan dan luka di hati. Orang yang bahagia adalah orang yang dapat menundukkan pandangannya dan takut kepada Tuhannya”

Mungkin engkau merasa aku bukanlah orang yang romantis, aku tidak perhatian dan kau tidak pernah aku perdulikan.
Mungkin untuk saat ini aku memanglah begitu karena aku takut akan hukum Allah, bukan hanya aku yang akan Allah beri balasan tetapi kita berdua dan kedua orang tua kita yang membiarkan kita.

Sudah seminggu ini engkau sulit menghubungiku dan ketika engkau tahu nomer telepon ku yang baru, engkau bertanya kenapa aku tidak memberitahumu…
Aku berusaha agar kau tidak menghubungiku sehingga engkau bosan dan dapat meninggalkan aku cepat.
Tapi apakah engkau tahu di dalam hati kecilku….engkaulah orang pertama yang paling ingin aku beritahu. Dan memberikan solusi kenapa nomerku tidak aktiv lagi.

Hari jumat aku sakit demam dan flu,
Tahukah kamu aku ingin sekali engkau datang dan menghawatirkan aku.
Malam itu engkau mengirimiku sebuah pesan bahwa kau tidak datang,…
Tahukah kau, aku ingin sekali membalas pesan mu dan mengatakan aku sedang sakit.
Dan berharap engkau akan datang cepat dengan mencemaskan aku atau setidaknya engkau akan mengirimiku atau menelepon mencemaskan aku.
Berkali-kali aku baca pesanmu dan mencoba membalasnya. Ketika aku mengetik sebuah kata kemudian aku menghapusnya dan terjadi berulang-ulang.
Apakah engkau tahu mengapa aku tidak membalas pesanmu
karena dua buah kata yaitu tidaklah halal. Ya karena hubungan kita tidak halal jadi aku takut Allah akan marah.

Inilah jawaban atas tanyamu………
Engkau datang memberikan aku kebahagiaan dan sekaligus memberikan aku sebuah kecemasan.
Oleh karena itu aku menuliskan surat ini untuk mu kekasihku…….

Dan inilah yang ku rasakan………..
Untuk kekasihku mungkin aku tidak tahu seberapa besar cintamu kepadaku dan apakah aku lah seorang yang berada di hatimu.
Tetapi aku sangat tahu bahwa aku cinta padamu, aku rindu padamu, dan untuk saat ini engkaulah seorang yang berada di hatiku.

Aku berterima kasih kepada Allah telah mempertemukan kita berdua. Dan aku berterima kasih kepadamu sudah menjadi bagian yang menempati ruang kosong di hatiku. Semoga allah merahmati kita berdua. Dan apabila kau tidak bisa bersabar untuk menungguku, mungkin itulah jalan terbaik yang diberikan oleh Allah sehingga kita berdua akan menemukan pasangan yang terbaik untuk kita.

Semoga Allah mengganti kecemasan dan kekecewaan ini dengan sesuatu yang dapat menenangkan di kemudian hari. Amin..

Inilah surat dari hatiku untuk kekasihku yang aku cintai karena Allah.

Wahai Suamiku Ajarilah Aku Untuk Mencintai-Nya

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 25 Januari 2011 jam 21:14

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥





Wahai suamiku, aku ingin menceritakan bagian dari sejarah hidupku, mau kah engkau mendengarnya…?



“baiklah, aku akan mendengarkannya”



Aku belum puas dan tidak akan cukup jika engkau datang hanya memberikan aku sebuah surga dunia.



Wahai suamiku, jikalau engkau rela menghabiskan sebagian gajimu untuk mencicil ataupun membeli rumah walaupun RSSSSSS (rumah sangat small sehingga selonjoranpun susah sekali)…maukah kau berjanji mencicil dari sekarang untuk membangunkan aku sebuah rumah di akhirat nanti….?


Untuk saat ini aku rela engkau membelikan RSSSSSS tapi ketika nanti kita memiliki anak, tolong donk “S”nya dikurangi 5 menjadi rumah agak small. Mengenai masalah rumah dunia itu bisa kita negosiasikan. Tapi mengenai masalah rumah akhirat aku tidak ingin bernegosiasi.


Asal kamu ketahui wahai suamiku, kamu harus membayar waktu-waktu yang telah berlalu karena telah membuat aku menunggu kedatanganmu terlalu lama.



Tahukah engkau wahai suamiku, sebelum engkau datang ada beberapa lelaki yang sempat singgah dan telah mengisi hari-hariku.


Si fulan yang pertama datang dengan cinta tapi dia berkata untuk tahap pengenalan dia ingin pacaran dengan aku sebagai tahap awal hubungan kami. Tahukah kamu wahai suamiku, si fulan orangnya tampan, orang berada dan berpendidikan. Banyak sekali teman kuliahku yang jatuh hati padanya. Dan tahukah suamiku aku telah menolaknya…



Bukan bermaksud sok jual mahal tapi memang kita…. Eh maksudnya aku sebagai perempuan memiliki aurat yang sifatnya mahal jadi tidak sembarang orang asal tembak dan aku asal terima.


Dan Belum apa-apa si fulan udah megang-megang tangan aku…



“maaf ya suami ku kalau aku pernah di sentuh oleh orang yang bukan muhrimnya…”



Tapi wahai suamiku…ketika dia melakukan itu kemudian aku mengingat Allah dan aku tidak ingin mengulanginya lagi selain dengan muhrimku.





tahukah apa yang aku rasakan pada saat itu, suamiku..





“apa yang kamu rasakan pada saat itu..”





Lelaki itu tidak sayang kepadaku….


“kenapa kamu berpikir seperti itu…bukannya dia bilang cinta sama kamu..”


Lelaki itu tidak sayang kepadaku karena kalau dia benar-benar sayang dan cinta kepadaku dia tidak akan menuruti hawa nafsu dengan menyentuh tanganku yang bukan muhrimnya, kalau benar dia cinta kepadaku ketika dia datang ke rumahku maka temuilah orang tuaku untuk melamarku dan menjadikan aku halal baginya. Bukan sebaliknya dia datang ke rumah untuk bertemu dengan aku dan menjerumuskan aku ke dalam api neraka”


“suamiku…maukah engkau mendengarkan ceritaku yang ke dua…atau kau sudah mengantuk..?

“baik, aku akan mendengarkan ceritamu lagi. Ayo lanjutkan”


Si fulan datang dengan cinta, segala kekurangan si fulan telah aku terima dengan lapang dada, baik mengenai keluarga, ekonomi dan pendidikan. Tahukah kau wahai suamiku aku pernah berencana untuk menikah dengan si fulan. Si fulan sudah menemui orang tuaku.

Tapi pernah suatu ketika dia menanyakan suatu pertanyaan dan sekaligus permintaan yang sama sekali aku tidak bisa menerimanya..


“pertanyaan apakah itu wahai isteriku..?”

Dia pernah berkata “boleh tidak sebelum kita menikah, kamu membuka jilbab kamu…setidaknya aku ingin mengetahui kondisi fisik kamu.”


Tahukah wahai suamiku apa yang ingin aku ucapkan di hadapan si fulan…inilah yang ingin aku ucapkan “dasar lelaki goblok!!!!”.


Maaf ya wahai suamiku, aku menggunakan kata tidak sopan. Tapi bukankah perbuatan si fulan terhadapku melampaui kata tidak sopan.

Wahai suamiku, ketika dia menanyakan hal itu, aku bagaikan sebuah manakin dimana jilbabku hanya selembar kain yang siap lepas siapapun ingin membeli dan jika tidak jadi maka selembar kain itu siap menempel di kepalaku kembali.


Si fulan tidak mencintaiku….

“bukankah dia pernah mengatakan cinta padamu dan dia sudah menemui orang tua mu untuk menikahi kamu…?”


Yang aku tahu ketika seseorang mencintai orang lain maka orang tersebut akan menjaga kehormatan dan kemaluan orang yang dia cintai.

Tapi apa yang terjadi dengan si fulan…dia malah ingin melihat rambutku yang merupakan salah satu aurat dari seorang perempuan.


Tidakkah itu menghina aku…bukan…bukan aku yang telah si fulan hina…tapi agamaku telah ia hina dengan mengatakan hal tersebut tidakkah itu menginjak-injak kesucianku yang telah dijaga oleh agamaku….


“kemudian apa yang kamu katakana untuk membatalkan rencana pernikahan kalian?”.

“Pertanyaan bagus sekali wahai suamiku…


Seminggu berselang dari pertanyaan bodoh si fulan kami tidak saling bertemu. Dan kemudian aku mengatakan bahwa aku ingin memutuskan untuk batal menikah dan menjelaskan pernyataan-pernyataan klise dan aku ingin melanjutkan kuliahku di luar kota (ga bohong loh) sehingga dia percaya bahwa kami memang tidak sesuai.


Sebenarnya aku tidak marah sedikitpun kepada si fulan. Malah aku berterima kasih kepada Allah telah membukakan pintu sehingga aku bertemu dengan si fulan ke 3….mau tahukah engkau wahai suamiku siapa gerangan si fulan yang ke 3….


“siapakah si fulan yang ke 3 wahai istriku…?”


Si fulan yang ke 3 tidak banyak cerita…karena motto hidupnya ‘talk less, do more’. Gayanya kampungan banget. Mau nikahin aku tapi malah deketin orang tua dan kakakku. Yang jelas pada awalnya aku tidak menyukainya.

Kalau ketemu aku bukannya tanyain kabar aku malah tanyain kabar orang tuaku.

Kalau ketemu aku, dia malah buang muka.

Kalaupun ngobrol sama aku, si fulan tidak banyak bicara selain itu juga kalau aku berbicara suka langsung ditinggal. Tidak sopan banget kan….

Kalau ketemu dengan aku, si fulan tidak menanyai aku sudah makan apa belum tapi malah Tanya aku sudah sholat apa belum.

Si fulan tidak menanyai aku kerja di mana tapi si fulan menanyai aku…apakah bahagia kerja di tempat aku bekerja…



Selain itu setiap malam gangguin aku tidur lagi… masa jam 3 sering miscall ga jelas…waktu aku angkat eh malah di matiin.





Dan yang paling menjengkelkan tiba-toba datang ke rumah untuk melamarku mendadak banget. Memang sih…si fulan datang hanya bersama kedua orang tuanya tapi mau di taruh di mana mukaku yang panik ini.





Satu dua jam orang tua si fulan dan orang tua ku membicarakan hal-hal yang membuatku sangat tidak aku mengerti pada saat itu.





Kemudian ada sebuah pertanyaan terlontar dari ayahku..





”kalau kami sih setuju saja jika anak kami setuju…bagaimana Ai..kamu setuju tidak”

“anu…a….a…kakak bisa memberikan aku rumah?”tiba-tiba pertanyaan ini terlontar dan memang ini merupakan pertanyaan ampuh untuk menolak lamaran laki-laki. Biarlah aku dibilang perempuan matrealistis.





“insyaallah saya sudah dan sedang mencicil sebuah rumah untuk kelak keluarga saya…selain itu saya ingin membangun rumah ke 2 untuk keluarga saya kelak…” ternyata pertanyaan pertama berhasil dijawab oleh si fulan.





“maksudnya rumah ke 2….kamu mau membangun 2 rumah untuk isteri pertama dan isteri kedua..?”dengan penjelasan si fulan aku langsung melontarkan pertanyaan di luar dugaan selain itu pertanyaan ini sebagai senjata pula untuk menolaknya.





“O…..bukan..bukan itu maksud saya… maksud saya yaitu 1 rumah untuk kehidupan sekarang dan 1 rumah untuk kehidupan akhirat. Insyaallah saya ingin membahagiakan isteri dan anak kami kelak tidak hanya untuk di dunia tapi untuk di akhirat juga….jadi bagaimana dek Ai…apakah penjelasan saya sudah cukup..”

“apa yang bisa kak Rama janjikan jika kelak aku menjadi isteri kakak?”pada saat itu aku berusaha untuk mencari celah agar dapat alasan untuk menolak si fulan.





“mengenai harta aku tidak bisa menjanjikan apa-apa karena untuk saat ini alhamdulillah aku hanya seorang karyawan biasa di mana aku harus membiayai sekolah adikku dan kehidupan keluargaku. Tapi yang jelas aku ingin menjanjikan kebersamaan di mana kita hidup susah senang bersama. Meraih mimpi-mimpi kita bersama. Dan aku ingin sekali menggenggam tangan isteriku dan anak-anakku ketika memasuki pintu syurga.





Jikalau janji-janji ini memang tidak berkenan di hati dek Ai, saya akan terima dengan ikhlas dan semoga ada seseorang yang bisa memberikan janji yang lebih indah dari pada diri saya.”




“memang janji-janji itu tidaklah sesui dengan harapan saya,tahukah kau…aku ingin sekali calon suamiku menjanjikan aku mas kawin yang mahal, pesta pernikahan yang megah, rumah yang siap huni, mobil yang akan terpakir di garasi. Tapi sangat sayang…janjimu sungguh lebih menggiurkan…dari pada itu semua. Baiklah kak, 6 bulan dari sekarang aku ingin menagih janji-janjimu.” tanpa berpikir lama dan panjang lebar lagi seakan-akan pertanyaan jebakanku telah terjawab sempurna oleh si fulan. Sederhana tetapi indah. Pada saat itu yang tergambar di benakku adalah keluarga yang indah tawa dan canda menghiasi perkarangan rumah.





Selama 6 bulan dari masa lamaran si fulan tidak berbuat yang aneh-aneh yang bisa membuat aku membatalkan rencana pernikahan untuk yang kedua kalinya.





Setiap bertemu dengan si fulan ada saja pelajaran untuk lebih mencintai-Nya. Ketidak sukaan kepada si fulan pada saat awal berangsur menjadi mengaguminya.





Sampai akhirnya 6bulan yang di tunggupun datang dengan sempurna akhirnya Aisyah ingin menagih janji-janji Muhammad Rama dalam sebuah pernikahan.





Wahai suamiku, sudah kau lihat kan…untuk menunggu dirimu aku harus melewati si fulan - si fulan itu… ternyata untuk bertemu dengan dirimu, aku harus melewati itu semua.



Tapi Yang jelas wahai suamiku aku belum puas dengan surga dunia yang telah engkau berikan berikanlah aku janjimu yang terakhir yaitu menggenggam tangan ku dan anak-anak kita ke dalam pintu syurga





Dan wahai suamiku untuk menggapai janji mu yang terakhir maka ajarilah aku untuk mencintai-Nya

Damai dalam Hati


Damai dalam Hati: “Mudah untuk diucapkan….. tetapi sangat sulit dilakukan!”

ini adalah ungkapan yang biasa klise di ucapkan setiap orang yang merasa sulit menemukan kedamaian.

Bahkan bagi mereka yang merasa sudah memiliki sedikit ketenangan bathin sekalipun, masih sulit mempertahankan ketenangan itu ketika satu “tamparan” mendarat di pipinya. Apalagi tamparan dalam bentuk kasat mata yang menampar harga dirinya dan ke’Aku’annya, akan meledak rasanya dan lenyap sudah raut ketenangan di wajahnya.



Hal ini adalah hal biasa karena kita adalah MANUSIA. seorang manusia biasa yang belum terlepas dari Kekotoran bathin, belum terlepas dari kesombongan, keangkuhan dan keserakahan, serta kebencian.

Masih diliputi oleh keinginan akan nama baik, jabatan, dan pujian. sulitnya untuk menerima kritikan, dan ingin selalu tampil dipermukaan. padahal tanpa disadari kita sering menilai orang lain, menjudge atau menghakimi orang lain tanpa melihat kekurangan dan kesalahan kita sendiri.



Kedamaian tidak akan muncul hanya karena teori diatas kertas, kedamaian juga tidak dapat muncul bila hanya melihat dari kulit luarnya saja. Kedamaian harus dirasakan, dijalani, dipraktekan.

Tidak membuat rugi diri sendiri dan tidak pula membuat rugi orang lain. Tidak menyakiti diri sendiri, dan tidak menyakiti orang lain.



Melatih kesabaran kita , membuat kita dapat melihat segala persoalan dengan lebih jernih lagi.

Praktek yang sulit untuk menciptakan kedamaian, padahal Ajaran universal ini berlaku kepada siapa saja dan mengatasi ruang dan waktu, tetapi sulit diwujudkan, selama kemarahan, kebencian, kebodohan bathin masih menguasai kita semua.

tetapi apapun bentuknya kita bertekad untuk mewujudkan hal tersebut, dimulai dari dalam hati, dimulai dengan mengintrospeksi diri sendiri, dimulai dengan melihat bentuk-bentuk pikiran kita, dimulai dengan semakin membuka diri kita, melihat bahwa setiap orang memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi buruk



Tidak ada orang yang 100% baik dan tidak ada orang yang 100% jahat……… dengan menyadari hal ini semoga hidup kita akan jauh lebih damai.

Sampah Bathin dan Pupuk Kehidupan

Banyak orang yang menderita di dunia ini, dengan berbagai bentuk penderitaan hidupnya sendiri, demikian juga banyak orang yang sering mengeluh dengan derita hidupnya sendiri, tanpa kita sadari inilah yang kemudian menjadi “sampah” bagi hati kita.

Dan lucunya sebagian dari kita, begitu mendapat satu masalah, dengan dirinya maka akan secepat mungkin mencari teman untuk meluapkan dan sharing tentang permasalahnya hidupnya… artinya kita tanpa disadari telah membagi “sampah” bagi orang lain juga.



Dan kenyataan yang terjadi adalah kita jarang membagi kebahagiaan atau bercerita tentang hal yang menarik dan hal yang bahagia kepada orang lain, bila Happy biasanya hanya diri sendiri yang merasakannya. Bila senang hanya dirasakan sendiri oleh dirinya. Ibarat menyimpan “permata” hanya untuk dirinya sendiri.

Terus kita harus bagaimana dong? Nah pertanyaan yang bagus.. Tergantung tekad masing-masing orang. Manusia Besar yang penuh dengan Welas Asih, dan Kasih Sayang akan senang menampung “sampah”nya orang lain dan me”recycle” nya menjadi “Pupuk Kehidupan” yang tentu saja bermanfaat bagi kita semua. Dengan turut merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan dirinya sendiri, menjadikan deritamu sebagai deritanya…. dan mengubahnya menjadi pupuk yang menyuburkan bibit-bibit cinta kasih dalam diri kita, bibit-bibit kebijaksanaan dalam hati kita.



Bedanya Para Bijaksana yang menampung “sampah” mereka yang menderita, tanpa harus tercemar olehnya. Demikianlah kita yang memiliki masalah, selama belum dapat menyelesaikan masalah hidup kita sendiri, sudah sebaiknya mencari orang yang cocok dan cukup bijak untuk menyelesaikan semua masalah kehidupan bagi diri kita sendiri. Karena tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.



Marilah jaga diri kita dari “sampah bathin” yang mencemari diri kita, buang semua “sampah” dari dalam diri kita, tidak perlu disimpan dan dibawa-bawa karena itu hanya akan membebani hidupmu. Daur Ulanglah “sampah” bathinmu menjadi “Pupuk Kehidupan”

Menghargai sebuah “Perjuangan” untuk Berubah

Banyak orang yang mengeluh, sulitnya untuk mengubah orang lain, tetapi setelah merenung lagi jauh ke dalam dirinya, faktanya menjadi sangat sulit mengubah diri sendiri…
Bila diri sendiri saja sulit diubah, apa lagi mati-matian mau menuntut orang lain untuk berubah?

Masalahnya ada juga orang yang sudah ingin berubah, tetapi kondisinya belum memungkinkan baginya untuk berubah.
Ada juga yang sudah mulai mengubah kebiasaan negatifnya, mengubah sifat buruknya, tapi sama sekali tidak mendapat penghargaan dan perhatian dari orang terdekatnya, akibatnya ia pun merasa sia-sia mengubah diri…
Ada juga yang berani tampil beda, dengan berusaha mencari perhatian dari sekitarnya, maksud hatinya mau memberitahu pada dunia kalau dia sudah berubah, tetapi malah cemooh dan tampang-tampang sinis, yang dihadapinya. Mungkin karena terlalu over confidence kali yeee…
Ada yang akhirnya trauma untuk mengubah sifat dan karakternya, karena dibilang “sok suci, elo udah bukan lagi diri loe..”
Ada yang nekad mati-matian untuk merayu orang-orang yang dulu sebagai temannya, yang telah menjauhinya karena sikap dirinya, yang dulu dianggap mereka sudah kelewatan, untuk berteman dan bersahabat lagi, tetapi mendapat reaksi yang membuatnya kecewa dan menjadi ‘mundur dan minder’ dalam menjalin hubungan persahabatan kembali.

Masih banyak lagi tentunya, kasus-kasus yang didapatkan dalam kehidupan ini, yang terjadi di depan mata, yang ada disekitar kita, yang menghiasi hari-hari kita……

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, kita harus “Menghargai” Perjuangan seseorang untuk mengubah dirinya, dengan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki dirinya.
Jangan selalu menuntut orang lain untuk berubah, karena kita sendiri butuh proses dan perjuangan untuk mengubahnya.
Berikan dukungan moral, dan dorongan bagi mereka yang ingin memperbaiki ‘hubungan’ yang kurang harmonis menjadi hubungan yang jauh lebih mesra dan harmonis.
Berikan kesempatan bagi mereka yang ingin menjalin kembali tali-tali persahabatan yang telah putus, atau yang telah diulur sampai kendur…

Mudah untuk mencari musuh, tetapi sulit untuk mencari sahabat;
mudah mencari pasangan hidup baru, tetapi sulit mempertahankan pasangannya sendiri;
mudah mencari cinta semu, tetapi sulit mencari cinta yang tulus;
mudah menyalahkan orang lain, tetapi sulit melihat kesalahan sendiri;
mudah untuk berkata ‘mundur’, tetapi sulit untuk melangkah ‘maju’ kembali;
mudah untuk berpisah, mengapa sulit untuk ‘bersatu’ lagi?
mudah memberi ‘label’ pada seseorang, tetapi mengapa sulit mencabut ‘label’ yang sudah diberikan?

Nah.. bila anda seorang pejuang, maka akan sangat mengerti arti sebuah pengorbanan.
Bila anda adalah seorang yang senang berkorban, maka akan sangat mengerti arti menjadi ‘korban’ itu sendiri, dan jangan mencari ‘korban’ baru, dengan mengorbankan orang lain…
Bila anda adalah orang yang optimis, maka bantulah orang-orang yang pesimis.
Bila anda adalah seorang pesimis, mengapa tidak mencari teman orang yang realistis?

Apapun gaya hidup anda, apapun pengorbanan anda, bagaimanapun perjuangan anda…
semua itu tidak akan sia-sia… dan ingatlah, bila orang-orang masih sulit menerima anda,
minimal di sisi lain, pasti banyak yang menanti kebaikan anda.
Bila teman, sahabat, pasangan anda yang lalu tidak dapat kembali disisimu lagi,
jangan khawatir pasti masih banyak orang yang ingin menerima anda menjadi temen,
sahabat, saudara, ataupun pasangan anda.
Jangan menyerah…
Tiada seorang pejuang yang mudah menyerah…

Semoga semua orang yang berhubungan dengan anda, akan dapat menghargai perjuanganmuuntuk melangkah ke arah yang lebih terang, baik, damai, dan tenang……
masa lalu biarlah berlalu, sambutlah masa depan yang ceria, dengan memperbaiki diri kita yang sekarang.Tidak perlu dengar “apa kata orang” tapi dengarlah “apa kata hatimu saat ini”
tentunya dengarkanlah kata hati yang tidak ‘makan hati’….

Bahagia di Tengah Ketidakbahagiaan

Bahagialah Hidup tanpa membenci,
Bahagialah Hidup dengan Cinta kasih.
Bahagialah Hidup yang penuh harmonis.


Bahagia jugalah saat kita tidak berbahagia…
Karena begitu ketidakbahagiaan muncul,
sesungguhnya bahagia tidak pernah meninggalkan kita.
Tinggal mengubah pola pikir dan cara pandang kita,
bahagia kembali menjadi milik kita.
Dan Bertambahlah kebijaksanaan dari pengalaman yang ada.
karena ada ketidakbahagiaan, maka kita baru bisa menghargai kebahagiaan.



Bagaimana kita bisa mengubah pola pikir dan cara pandang kita?
ini yang perlu mendapat perhatian dari kita semua.

Pada saat hal yang tidak menyenangkan, kekesalan dan emosi datang pada kita, sesungguhnya gejolak dan permaian perasaan begitu hebatnya. Mengocang kesadaran kita, mengoncang harga diri dan ego kita. dalam hitungan seketika saja, kita menjadi tidak mood, menjadi bete, dan terasa sekali perubahan raut wajah, hilang nya senyum dari wajah yang tadinya manis, denyut nadi yang terus beretak tak teratur, membuat satu hari terasa sangat panjang dan kacau balau.

Membuat kita mau tidak mau, sadar tidak sadar untuk merenungi, bahwa ‘hal’ ini TIDAK BAIK, TIDAK BERMANFAAT, MERUGIKAN diri sendiri dan orang lain. memang SUSAH untuk mengendalikannya, tetapi yakinlah ada satu sisi PUTIH manusia yang bila “SUARA”nya di dengar akan dapat menaklukan suasana PERANG dalam hati.

Suara si PUTIH akan berkata: “Sudahlah… Capeee… apa nga capeee marah-marah sendiri, orang yang dimarahinya juga tidak tahu apa-apa kok”
“sudahlah….capeeee, yang cape hati dan pikiranmu!” sudah cukup bermain-main dengan sesuatu yang hanya membuat kita cepat tua, mendekati bahaya, serangan jantung, stroke semakin mendekat”
“sudahlah… lupakan semua, jangan lagi berperang dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan sifat dan karakter orang lain! Perhatikan sifat dan karakter sendiri, juga sama saja tidak jauh-jauh beda dengan orang lain, seharusnya kita memperbaiki diri sendiri dan menunjukan perubahan ini kepada orang lain sebelum kita menginginkan orang lain berubah untuk kita”

Mengapa suara itu nyaris tidak terdengar oleh kita?
Karena kita terlalu banyak mendengar suara si HITAM yang memang senang atau tidak senang suaranya jauh lebih besar dan jauh lebih berperan dari pada si PUTIH, Sebaliknya suara si PUTIH butuh kesadaran kita untuk mendengarkannya, karena suara itu begitu halus, lembut dan nyaris tak terdengar. Hanya hati yang sedang tenang baru bisa mendengarkannya.
maka pada saat emosi muncul, cara tercepat adalah keluarkan emosi itu segera, Bicaralah dengan Dinding yang akan setia mendengarkanmu (tapi hati-hati dengan tembok yang bertelinga…)
Guyurlah kepala yang sedang panas dengan air dingin, duduklah dan merenunglah, mulai untuk menjadi pendengar yang baik, maka akan ada pertarungan HITAM dan PUTIH, pertajam pendengaran kita dan amati suara si PUTIH. Maka keindahan itu ada disana. Jawaban dari persoalan hidup ada disana. Kebijaksaanan juga ada disana.

Bahagialah saat ketidakbahagiaan itu datang, karena kita akan semakin dewasa, kita dapat semakin bijaksana, belajar mengatasi masalah yang datang dalam diri sendiri, belajar mengatasi semuanya sendiri, dan mengembangkan potensi “pencerahan” di hati.

Monday, January 24, 2011

Sudah Habis Kata dan Rasa

oleh Sekar Andini S pada 24 Januari 2011 jam 21:29

Rasanya sudah selesai semua perjalananku ini... Dengan segala ketidakpastian karena bila pasti pun, tidak ada yang bisa menjamin sama sekali.


Dibenturkan dengan kenyataan bahwa aku harus menurut oleh perkataan orang tuaku terlebih permintaan seorang ibu yang bagiku sangat berarti. Pilih keinginanku sendiri atau menuruti kemauan orang tuaku???


Bingung ketika dihadapkan dengan kerasnya kemauan ibuku. Meski aku tahu, ia melakukan itu semua dengan berharap aku mendapat yang terbaik dalam hidupku. Ya, begitulah... Selama ini memang ibuku lah yang menjadi tempat segala curahan hatiku. Dan tentu feeling seorang ibu jauh lebih kuat dibandingkan keinginanku yang tentu belum pasti terbaik untuk masa depanku kelak.


Aku harus mengalahkan egoku, bahkan untuk orang yang aku cintai sekalipun. Karena ku sadari, keluargaku lah yang paling ku cintai dan tentu harus di utamakan dibandingkan dengan insan-insan lain yang ku cintai.


Sudah habis kata dan rasa.. Jika tidak mencintai keputusan ibuku, sama halnya tidak mencintaiku. Jika berani mengambil isi hatiku namun tak berani berizin pada keluargaku terlebih pada ibuku, jangan harap aku bisa balas mencintai.


Maafkan... sudah habis kata dan rasa. Biarkan semua ku pendam, hingga tiba masanya.. dan kelak berbicara. Bahwa aku mencintai yang mencintai keluargaku. Sudah sampai disini. Habis.....

Semua Tak Bisa Sempurna


Aku baru tersadar, di dunia ini tak ada yang bisa sempurna. Bahkan untuk mencapai kesempurnaan itu sendiri pun tidaklah mudah. Dan aku baru belajar untuk bisa memahami segalanya. Memahami sudut hati orang di sekitarku yang berbeda-beda. Tak bisa ku samakan yang satu dengan yang lainnya. Ya. Karena memang setiap orang itu berbeda. Keinginanku untuk bisa membuka diri nyatanya sulit terlampaui. Selalu ada kesenjangan antara ruang hatiku dengan ruang hati yang lainnya. Bermaksud baik, namun apa daya ternyata sikap dan caraku salah.

Banyak menyakiti hati orang lain rasanya tak tersadari olehku. Selalu ingin mendapat kesempurnaan yang ada hanya luka lara. Aku mencoba tak ingin menerima pemberian orang lain, aku mencoba untuk tak memberikan harapan sekecil apapun yang kelak akan mendatangkan kekecewaan. Tapi sekali lagi, ternyata keinginanku yang seperti itu SALAH BESAR! Kita tak bisa hidup sendiri. Kalaupun ada yang mau membantu dan memberi sesuatu, sepatutnya kita bisa menerima. Dan itu bukan pertanda memberi harapan. Itu hanya sebuah ungkapan persaudaraan serta kasih sayang sesama manusia. Dan apakah itu salah???

Tidak. Itu tidak salah. Yang salah hanya sikap ke-egoan dan menutup diri dari sekitar. Padahal sejatinya diri ini adalah milik ummat, dan sepatutnya lah seorang ~DLT bisa membalas perlakuan orang lain dengan balasan yang jauh lebih baik. Hanya saja, sikap ketakutan itulah yang membuat dirinya seolah menutup diri dan asing dunianya untuk disinggahi orang lain.

Robb.. Aku memang bersalah. Tapi ini bukan kemauanku. Aku ingin hidup menjadi biasa-biasa saja... Aku hanya tidak ingin kehadiranku menyakiti banyak hati orang lain dan akhirnya membuat luka membekas dalam kehidupan mereka. Aku hanya ingin berkarya, bukan ingin mendapat ketenaran. Sebab ketenaran hanya bersifat sementara dan sebuah efek dari apa yang selama ini aku lakukan.

Dan kini, aku harus bisa menerima. Menerima kenyataan pahit, bahwa aku telah mengecewakan banyak orang dengan sikapku yang seperti ini. Sungguh, tak ada niatan sedikitpun untuk menyakiti ruang-ruang hati mereka. Aku hanya ingin tak semuanya bisa menyelami duniaku... Karena aku tak ingin mengecewakan satu per satu orang yang berusaha menyinggahi isi hatiku.

Aku memang sulit dimengerti... Bahkan jika kau tanyakan itu padaku, dengan tegas ku jawab. Bahwa aku sendiri pun sulit untuk menjamah diriku. Aku belum mengerti, siapakah seorang ~DLT sebenarnya. Semoga bukan topeng kemunafikan yang tengah aku gunakan. Semoga masih terbuka jalan menuju perubahan. Ya. Perubahan untuk mencapai seperti apa yang temanku sampaikan. "Teman itu tidak selalu orang yang memberi. Tapi beri dirimu kesempatan menerima... pemberianku"


Dan aku tersadar... Bahwa semua tak bisa sempurna.


Kita hanya manusia biasa yang pun bisa tampil salah dalam keseharian, bisa melukai hati banyak orang... Dan kini aku hanya ingin bisa tuk dimaafkan. Bagi siapapun yang tersakiti olehku, oleh seorang ~DLT.

Prasangka Buruk Mengotori Hati

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Malam ini, aku ingin berbicara mengenai rasa kekecewaan seseorang terhadap saudara/inya.


Sebut saja namanya Fulanah. Begitu banyak prasangka yang hadir pada dirinya. Bukan sebagai pelaku yang berprasangka. Ternyata, ia adalah korban dari prasangka orang lain terhadapnya.



Menangis, deras dan tak henti... Mengingat kesalahan yang tak sepenuhnya harus ia tanggung. Berat beban yang berada di pundaknya. Menjalani hari-hari yang sebenarnya orang lain tak pernah tahu apa yang tengah diperjuangkannya.



Hal ini, membuatku jadi teringat... Bahwa berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun diatas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudara/inya yang lain. Kasihan sekali, korban yang menjadi tuduhannya... Iya kalau memang benar tuduhannya tersebut dan merasa bersalah, lah kalau ternyata yang dituduhkan padanya tak sepenuhnya benar, bagaimana???



Ternyata buruk sangka kepada orang lain atau su`uzhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Begitulah, ada saja orang yang kita prasangkakan. Namun, yang parahnya adalah terkadang perasangka kita itu tiadalah berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain bukan menyampaikan langsung pada orang yang kita tuduh melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Padahal su`uzhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang dalam agama.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ


“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)


Jadi, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut tidaklah terlarang. Hal itu memang merupakan tabiat manusia.


Subhanalloh, perlu begitu hati-hati terhadap sikap yang kita lakukan. Abu Hurairah pernah menyampaikan sebuah hadits yang berbunyi:


إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Alloh tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِBukhari Muslim)



Luar biasa... Ternyata Alloh sudah melarang jelas-jelas untuk tidak berprasangka pada orang lain. Apalagi terhadap saudara/inya sendiri yang telah diikat oleh tali ukhuwah. Bila ada yang kurang disenangi dengan apa yang dilakukan oleh saudara/i kita, alangkan lebih baiknya bila disampaikan secara langsung, tanpa membicarakannya di belakang dan diceritakan ke orang lain. Tak malu kah, aib saudara/inya diumbar? Tak jijikkah, memakan bangkai saudara/inya sendiri?


alu ohh malu... Ya Robb, lindungi diri dari berprasangka terhadap orang lain. Masih banyak waktu untuk bisa menghabiskan waktu dengan hal berguna. Mengapa kita terlalu memikirkan urusan orang lain? Mengapa juga kita selalu meributkan masalah sepele, padahal semuanya akan mudah jika disampaikan atau dibicarakan dari hati ke hati, bukan malah bermain belakang. Semoga, kita tak menganggap diri kita jauh lebih baik dari orang lain, semoga prasangka yang pernah kita jatuhkan pada saudara/i kita diampuni dan segera Alloh beri kesempatan kita untuk memperbaiki diri.





إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِإُمَّتِي مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ


“Sesungguhnya Alloh memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.” (HR. Bukhari Muslim)


Masih ada waktu untuk bermuhasabah diri... Membingkainya dalam munajat pada Ilahi. Dekatilah Tuhan sebelum Ia menjauhi... Dan akhirnya harus berpikir berkali-kali, sebelum dosa-dosa menelan bumi dan penyesalan yang mesti dihadapi.


*Belajar berintrospeksi diri, sebelum orang lain dihakimi. Belajar mencintai, sebelum cinta itu pergi.



Persembahan untuk saudara/iku yang sempat terkotori hatinya oleh prasangka, yuk berbenah diri dan tabayun sebelum prasangka mengotori hati.

Takdir MilikNya, Doa dan Usaha Milik Kita



Sebuah sms sampai di hapeku, "Takdir itu milikNya. Usaha dan doa milik kita". Seperti disiram air yang dingin, sejuk sekali membaca potongan kata yang sederhana tersebut. Sejauh ini, terkadang masih terbersit keraguan terhadap apa yang telah ditakdirkan olehNya, padahal.....


Bukankah Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya?

Takdir itu memang milik DIA, sebab DIA lah penentu bagi jalan hidup kita. Bukan orang lain yang menentukan apakah kita akan gagal dalam meraih impian atau apakah kita tidak akan bisa mengerjakan suatu hal. Bukan! Sejatinya, hanya Allah lah yang menentukan segala baik dan buruknya takdir bagi kita. Jikalau ujian datang, yakinlah bukan karena Alloh tak cinta, tapi justru karena Allah cinta lah maka ia memberikan ujian untuk kita agar semakin mendekat padaNya.


Sedangkan usaha dan doa itu milik kita. Ya! Sepakat sekali. Sebab Allah memerintahkan kita untuk berusaha secara maksimal demi mendapatkan apa yang diinginkan, bukan mudah putus asa dan menyerah begitu saja. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan sesuai kemampuan kita lalu imbangi dengan doa yang dipanjatkan sehingga semakin lengkap munajat kita padaNya. Allah Maha Melihat, segala bentuk ikhtiar kita dan sedalam apa lantunan doa yang dipanjatkan demi impian-impian yang ingin dicapai.



Lagi-lagi, sederhana saja.... "Takdir itu milikNya. Usaha dan doa milik kita"


Bahwa doa dan ikhtiar kita yang miliki, sedangkan takdir Allah yang menguasai..... Apapun yang terjadi, optimislah dalam menjalani. Semoga semua dalam berkahnya Ilahi.


*Terima kasih untuk seseorang yang selalu menginspirasi :)

Sunday, January 23, 2011

AKU CINTA KAU, WAHAI ISTRIKU.....



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 23 Januari 2011 jam 19:13

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Aku memilihmu bukan sekedar melihat betapa menawannya rupamu, dan bukan pula bukan karena tidak ada wanita lain yang mau padaku. istriku, semuala sekedar berharap akan keikhlasan dan ketulusanmu melayaniku aku memilihmu.


Kini, aku mulai sadar betapa dikau mempesonakanku. Ingatanku akan wajahmu mengalihkan sekian banyak akhwat-akhwat yang sering terlintas di balik sudut mataku. Aku terpesona istriku, aku terpedaya olehmu istriku. Sanggupkah aku hidup jauh tanpamu?


Tiga tahun terus berlalu, wajahmu tak berubah seperti dulu saja. Engkau dengan sabar walau terkadang memaksakan keinginan-keinginanmu. Aku tahu itu betapa engkau memang atas kehendak_Nya terpilih untukku. Tak terluput dalam setiap mimpi-mimpi indahku terlintas pula sapa mesra tertuju untukku. Aku terpesona dan terpesona...

Masih teringat waktu dulu pertama dalam hidupku seorang wanita menggandeng tanganku. Itulah kau istriku, aku bagaikan melangkah di atas air begitu ringan. sejuk bagaikan tersesat di padang pasir tertimpa hujan salju, bagai melayang seringan anai-anai diterpai angin.



Aku tlah jatuh cinta...

Ketika kutatap wajah istriku, betapa aku sangat bersyukur kepada Allah, atas anugerah terbesar yang pernah aku terima. Seorang wanita yang sederhana, namun keridhoan dan keikhlasannya menerima diriku sebagai suaminya, membuat aku tidak berhenti bahkan tidak akan pernah berhenti bersyukur kepada Allah, atas kado pernikahan paling indah

yang diberikan kepadaku..


Ketika kutatap wajah istriku, betapa besar rasa maluku, karena masih banyak kekurangan pada diriku. Dan sungguh banyak kelebihannya, yang mungkin aku tidak akan mampu menandinginya. Seorang wanita yang tegar dan tidak banyak menuntut, kecuali tanggung jawabku sebagai suami, ayah dan imam keluarga. Dia wanita yang ikhlas menerima segala kelemahan dan kekuranganku, sebagai suami.

Ketika kutatap wajah istriku, betapa bangga dan bersemangatnya diriku, karena dukungannya terhadap perjuanganku untuk terus memperbaiki diri. Aku memang bukan laki-laki yang sempurna dan dia juga bukan wanita yang sempurna, tetapi Allah telah memilihnya untuk menjadi pasangan hidupku dan juga ibu anak-anakku. Semoga inilih yang terbaik menurut

Sang Maha Penentu Takdir.


Ketika kutatap wajah istriku, di saat dia sedang lelap tertidur, tak terasa menetes air mataku, karena rasa syukur kepada Allah atas anugerah terbesar-Nya. Terlihat wajahnya yang kelelahan, karena harus melayani suami dan anak. Tapi aku yakin, lewat keikhlasannya, dia akan menjadi wanita yang mampu terus berjuang di jalan Allah dengan menjadi istri dan ibu anak-anakku. Kukecup keningnya, sambil keberdoa, Ya Allah, jadikanlah dia bidadari syurgaku, sehingga meringankan pertanggungjawabanku, saat menghadap-Mu di Hari Perhitungan kelak. Amin.


Robbana Hablana Min Azwajina Wa Dzuriyatina Qurrota Ayyun

Waj'alna Lil Muttaqiina Imaama

"Wahai Tuhan Kami Karuniakan kepada kami istri-istri dan anak-anak

yang menyejukan mata

dan jadikan mereka pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa

I love u so much my dear because of ALLAH.

Ikuti Arah Langkahmu…

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 23 Januari 2011 jam 8:52

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Jika tidak tahu kemana melangkah… Jangan ragu2 untuk bertanya.

Banyak sekali mereka yang bisa kita tanya, hanya saja terkadang kita malu bertanya, makanya sesat di jalan deh…

Bila yg ditanya tidak tahu jawabnya yah jangan di paksa…. karena mungkin orang itu tidak tahu jalan juga, hahahhaa… atau terkadang dia juga merasa salah jalan hehehehee…





Lalu bagaimana dong? Melangkahlah sesuai dgn suara hatimu

karena terkadang suara hati kita bisa saja benar.. terus suara hati yang bagaimana dong yang benar? suara hati yang kadang bertentangan dengan keinginanmu, kadang ia tidak mengikuti arus ke’ego’anmu… caranya sebelum melangkah tenangkan diri dulu… dan dengarkan baik2 pertentangan yang ada di dalam dirimu… ikuti ‘pesan’ yang baik saja deh… walalu kadang tidak sesuai dengan keinginanmu..




… Bila suara hatimu menunjukan jalan yg salah…, wow jgn pernah ragu tuk kembali… dan lebih baik kembali dari pada semakin tersesat kau menuju jalan yang tidak jelas…

Dan jangan ragu untuk memulai perjalanan dgn rute yg baru.



Bila kau telah mengerti langkah dan arah perjalananmu, disana baru kau dapat menghargai proses panjang dan pengorbanannya…





segala sesuatu tidak ada yang tidak baik, walau harus berjalan memutar sedikit tetapi aman, selamat sampai tujuan. dari pada jalan motong ternyata di tengah jalan kecelakaan… mana ada yang tahu?



Hargailah setiap proses panjang perjalanan hidupmu… maka disana kau akan temui, bahwa KAU TIDAK BERJALAN SENDIRI….



semua selalu mendukungmu dan berjalan bersamamu.. walau dalam setiap persimpangan kau akan berpisah, tetapi di persimpangan itu pula kau temui teman perjalananmu yang baru… demikian seterusnya…

berjalan lurusss akhirnya pun kembali, seperti colombus yang telah membuktikan bahwa bumi itu BULAT…..





Bila RKI bermanfaat silakan sarankan teman anda untuk bergabung, bila artikel ini sangat berguna silakan share atau bagikan di Wall FB anda.... Semoga RKI bisa menjadi penerang dan media buat kita semua yang haus akan ilmu...

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Sahabat dalam Perjalanan Hidup Kita


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 23 Januari 2011 jam 8:39

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Berbagai proses perjalanan hidup yang kita alami. Tentunya sahabat-sahabat dalam perjalanan hidup juga ada yang datang dan ada yang pergi. Tidak selamanya dapat selalu bersama.

Saat berjalan bersama dalam jalan yang mulus, memang banyak yang merasakan indahnya hidup bila diisi dengan keceriaan dan kebersamaan dengan mereka yang disayangi. Walau dalam perjalanan terdapat sedikit gangguan, namun semua itu bukanlah menjadi masalah selama bisa berkumpul jalan bareng sama-sama, adalah hal yang menyenangkan bagi sebagaian orang, tetapi ada juga yang tidak suka keramaian dan kebersamaan merupakan sedikit ‘gangguan’ bagi sebagaian orang lainnya. Memang masing-masing memiliki karakter yang berbeda, tetapi bila dicermati intinya sama: “tiada orang yang senang kesepian”.





Bagi orang yang senang menyendiri sekalipun, tanya pada mereka apakah mereka tidak kesepian? Jawabannya pasti iya, namum mengapa tidak mau pergi bersama-sama? karena mungkin belum bertemu dengan teman seperjalanan yang cocok, bila sudah bertemu… wah dijamin nga akan kesepian lagi.





Nah bila saatnya kita harus berjalan di pematang sawah atau di pinggir pembatas empang, tidak lagi bisa berjalan bersama-sama bergerombolan, karena masing-masing orang harus berbaris dan memperhatikan langkah kakinya sendiri-sendiri, atau bisa-bisa terperosok ke sawah atau nyebur ke empang. Tetapi bagaimanapun juga keramaian tetap menghiasi suasana sepanjangn jalan itu, suara-suara saling mendukung maupun canda tawa terlihat dalam keceriaan yang dirasakan karena kebersamaan dalam barisan tetap yang harus berjalan dengan hati-hati. Yang belakang melihat yang depan, yang depan tetap berjalan lurus ke depan tetapi karena kepedulian sewaktu-waktu melihat juga ke belakang, khawatir bila ada teman yang tertinggal jauh di belakang. Inilah sebuah kebersamaan.


Jalan setapak juga banyak kita temui dalam perjalanan kehidupan kita, saat kita harus memperhatikan diri sendiri, kita juga saling mendukung dan membantu teman-teman yang lainnya, agar tidak tertinggal dan terus dapat bersama.

Namanya Perjalanan pasti ada persimpangan, nah disanalah hukum perubahan itu berlaku, tidak selamanya teman-teman kita terus dalam satu jalan yang sama, karena sejak lahir tujuan kita masing-masing berbeda. Sama hanya karena kondisi dan keadaan yang mendukung. Berbeda karena capat atau lambat akan dihadapkan pada persimpangan.

Dimana kita masing-masing harus melanjutkan langkah kaki sesuai dengan arah dan tujuannya. Tidak mungkin kita selalu bersama-sama terus, dan memaksakan kehendak bagi semua teman-teman untuk mengikuti arah dan langkah kaki kita.

Disinilah dibutuhkan kebijaksanaan dalam berpikir dan melihat sesuatunya. Kadang kebersamaan menimbulkan perasaan nyaman dan menjadi keterikatan yang akhirnya menjadi sumber kemelekatan. tiada yang rela untuk berpisah. Semua kenangan indah selama bersama akan menjadi tali dan belenggu yang tidak rela untuk diputuskan.


Berbeda halnya bila berjalan dengan orang yang dibenci atau tidak disukai, saat dipersimpangan doa terbesar kita adalah semoga mereka mengambil jalan yang berbeda atau jalan lain. Saat mereka memilih jalan yang berbeda puji dan syukur terucap dari dalam hati kita, begitu senangnya kita karena sepanjang perjalanan penuh dengan kenangan buruk yang hanya menyakitkan hati saja. Padahal harus direnungi juga tidak sedikit juga kenangan indah dan pengalaman berharga yang didapatkan saat berjalan bersama dengan orang yang tidak sehati dengan kita.

Tetapi anehnya dari kebanyakan kasus yang ada, entah mengapa dan bagaimana mereka yang tidak sehati ternyata terus selalu mengiringi langkah kaki kita… nah inilah yang disebut sumber penderitaan baru dalam proses perjalanan selanjutnya.


Bila direnungi lebih dalam lagi, hal ini juga bukan sesuatu yang negatif, karena mereka semualah kita dapat belajar kesabaran, belajar lebih tegar dan lebih semangat lagi, belajar untuk memaafkan, belajar untuk mengasihi dan belajar untuk bertambah bijaksana.

Selamat menikmati perjalanan hidup kita, arah dan tujuan mana yang akan ditempuh semua adalah pilihan hidup kita, harus dijalani dengan suka cita. Saat bersama, rasakan kebersamaan itu, saat berpisah juga jangan menyesal dan jangan bersedih, karena semua itu hanya sementara, ada perpisahan maka akan ada pertemuan kembali di persimpangan jalan berikutnya bila ada waktu, dan ikatan jodoh yang kuat.


Jadikan sahabat sebagai penyemangatmu, Dan yang luar biasa adalah jadikan musuhmu sebagai sahabatmu. Karena tidak selamanya orang yang memusuhi kita akan selamanya menjadi musuh dalam hidup. Dan Semoga semua yang menjadi sahabat kita akan selalu menjadi sahabat. Itulah hal yang terindah dalam hidup.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Saturday, January 22, 2011

Ketika Allah Memilihmu Untukku..

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..

Ingin ku beri tahu padamu..

Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..

Orang tua yg begitu sempurna..

Dengan cinta yg begitu membuncah..

Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..

Maka, padamu ku katakan..

Saat Allah memilihmu dalam hidupku,

Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..

Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥



Padamu yang Allah pilihkan untukku..

Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,

Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..

Maka, ketika Dia memilihmu untukku,

Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.

Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..

Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..

Karena kelak kita akan satu..

Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,

Kau dan aku akan menjadi ‘kita’..



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥





Padamu yg Allah pilihkan untukku..

Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,

Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..

Maka ketika Dia memilihmu untukku,

Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya..



Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..

Itulah visi pernikahan kita..

Ibadah pada-Nya ta’ala..



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥



Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..

Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..

Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..

Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,

Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..

Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..

Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..

Namun tatap mataku, tersenyumlah. .

Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..

Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..

Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..

Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥




Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..

Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..

Maka dimataku kau adalah yang terindah,

Kata2mu adalah titah untukku,

Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..

Maka kalau kau berkenan ku meminta..

Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…

Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥



Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…

Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..

Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..

Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,

Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..

Yang darahnya mengalir darah syuhada..

Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..

Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..

Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥



Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…

Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,

Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..

Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..

Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥



Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa Sallam bersabda : “Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Apa Kabar Hati?

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 22 Januari 2011 jam 23:32

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Kuterjaga di temani pusing yang lumayan, entah karena apa? mungkin beragam fikiran yang mengaduk kepala-ku atau penyakit bulanan yang biasa menyerang, maka kali ini aku sukses dengan cemberut-ku.

tidak biasanya masih terjaga di angka 11 malam ini.

Ya sudahlah, ku coba merenungi mentafakuri hati yang kian larut dalam kelalaian ini, mengingat hati adalah organ yang paling penting dalam penentuan sikap dan perbuatan, maka ku tengoklah bagian itu. Hati.

Bagaimana kabarmu wahai hati?

telah jernihkah permukaanmu dengan segala taujih yang di lakukan indera pendengaran-mu?

Ya Allah, ternyata ia buram karena hal itu tak layak untuk di dengar, pujian yang tak pantas di terima hanya karena tangan yang berlaku biasa, tidak-kah itu sebuah kewajiban? mengapa kian terlena dan mengawang hanya dengan sebutan ‘rajin’ dan ‘aktif’

ku tengok kembali sang hati, bagaimana bau-nya? apakah seharum kesturi yang senantiasa mewangi?



inna lillah… dia tak ubahnya daging busuk berlalat yang sudah berlendir dan berulat,,, apakah tangan kaki dan mulutmu hanya bergerak ketika ada sesosok saja yang melihat kemurahan hati-mu??

tidak-kah merasa bahwa Allah yang selalu melihat.?

lalu,

ku sapa lagi sang hati, apakah kau setenang danau yang di naungi kedamaian??

astaghfirullah, tak ubahnya hati ini seperti onggokan darah busuk yang selalu menggejolak karena nafsu dan keinginan duniawi,,,

aku kemudian tertegun, meratapi sang hati bernasib kian buruk dalam kurun waktu yang kubawa dewasa ini.

tangisan itu pun tiada guna, hanya seperti setetes hujan di lahan gersang,

pun angin kedamaian tak lagi membawa kesejukan, hanya lalu kemudianpun berlalu, hanya sebagai penegur hati, kemudian melena akan kesejukan yang tidak seberapa.

kemudian, sejauh manakah aku mengobati hati yang kian parah ini,,

mengapa aku melena hanya karena sedikit saja aku ingin merubahnya, dan itu tak ubahnya hanya sebutir pasir di pesisir pantai.

aku tersaruk, meraung-raung,,, oh hati… apa yang harus aku lakukan???

bagaimana aku tidak tahu bahwa kau hampir melebur hancur dimakan ulat kesombongan, kerakusan, dan ketidak-ikhlasan.

jiwa pun meredup, perlahan… ku lihat setitik cahya di dasar hatiku, ku mendekat, serasa hangat menjalari tubuhku,

”duhai cahya, siapakah dirimu dgn ketenanganmu?”

dia membuka suara perlahan.

‘akulah iman, dalam hatimu’

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Friday, January 21, 2011

Mentari Hati

Mencari Mentari di Malam hari, hanya akan sia-sia, tetapi bukan berarti matahari itu hilang atau lenyap, ia hanya terlihat di balik sisi bumi yang lain sampai waktunya tiba mentari pun akan muncul kembali.




Mencari kebahagiaan pada saat penderitaan datang, juga bukan tidak mungkin, karena bahagia tidak pernah meninggalkanmu. Dengan membalikan kondisi yang ada, kita baru mampu mendapatkan kebahagiaan itu, cobalah mengubah cara berpikir dan cara pandang kita dalam melihat persoalan yang ada, maka bahagia akan kembali menjadi milikmu. Ibarat rotasi yang dipercepat, maka mentari pun akan kembali terlihat sebelum waktunya (umpama bisa dipercepat).

Perputaran siklus perasaan juga, hanya diri sendiri yg punya kuasa untuk mempercepat atau memperlambatnya, bila kita ingin bahagia, jgn lama-lama menderita. Karena sesugguhnya bentuk2 pikiran inilah yg membuat perubahan ke arah positif terasa lambat.



Bila di hati kita terdapat mentari yang selalu memberi kehangatan dan ‘kehidupan’, maka tidak perduli siang atau malam, kita akan dapat melihat dengan jelas. Bathin ini tidak akan lagi berada di dalam kegelapan. Selama Mentari hati ini adalah Mentari yg penuh cinta kasih, welas asih, rasa simpati dan kebijaksanaan, Demi kebaikan, Mentari ini akan bersinar dengan lembutnya. Tugasnya adalah membakar sifat-sifat buruk kita. Tentunya Mentari yang mampu seperti itu semua hanyalah “Mentari Hati” anda.




Untuk menghubungi dua hati, yang sedang berselisih, hanya ada ucapan kata maaf dan ketulusan untuk kembali menjalani hubungan yang baik.

Thursday, January 20, 2011

Gombalisasi..........?!



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 20 Januari 2011 jam 16:44

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Ini tentang seorang ikhwan.



Ikhwan itu mencoba tetap simpati (simpan dalam hati) terhadap akhwat tersebut. Apabila perasaan itu telah mewujud pada realisasi amal, baik lisan maupun perbuatan, maka tak ayal akan terjadi juga gombalisasi disini.



Sering seseorang ingin mengekspresikan atau menyampaikan perasaannya yang sedang membuncah karena cinta. Hal seperti ini mestinya disimpan rapat-rapat dalam lubuk hatinya, jangan sampai si “dia” memergoki adanya perasaan itu. Gengsi dong!! Namun suatu saat pertahanan itu bisa jebol manakala perasaan itu makin menjadi-jadi sedang keimanan dalam kondisi menurun. Maka lahirlah sebentuk perhatian pada si “dia”, baik berupa nasehat, tausiyah, pujian, menanyakan sesuatu (baik tanya beneran atau pun pura-pura bertanya) atau sekadar menanyakan kabar. Entah itu lewat SMS, telpon, saat chatting, via e-mail dsb (astaghfirulloh)



Makanya… ingat, penyebab awal perlu dicegah, yakni adanya gombalisasi. Kalau si gombal dah nyebar, maka sedikit banyak korban bisa berjatuhan. Baik ‘lecet-lecet’ ringan maupun ‘luka’ berat. Bahkan nanti gak hanya berdampak pada hati, tapi juga fisik. Lha bayangin aja … kalau jadi gak enak makan, gak nyaman tidur karena tiap mau makan .. ingat dia, mau tidur … ingat dia, mau ngapain aja ingat dia, apa gak lama-kalamaan bisa kurus tuh? Trus …siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan kaumku (wanita/akhwat). Wuahh.. gerah banget dengan tipe ikhwan yg gak jelas gini.



So, khususnya bagi para ikhwan yg membaca tulisanku ini.. Tolong jaga diri, jaga hati, jaga gengsi. Jangan asal kirim SMS, lebih-lebih SMS yg gak penting bin gombal bin murahan. Juga .. jangan asal balas SMS, apalagi dengan SMS gombal.



Aku sempat membaca sebuah puisi yg berisi:



Wahai Ukhty…

Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu

Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu

Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu



Karena cintaku padamu,

Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram

Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh

Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah



Karena cinta ini,

Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,

Ku tak ingin mempesonamu,

Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,

Atau pun menaruh harap padaku.



Maka biarlah…

Aku bersikap tegas padamu,

Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,

Biarkan aku bersikap dingin,

Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,

Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….



Semua itu karena aku mencintaimu,

Demi keselamatanmu,

Demi kemuliaanmu.



***



Dan gantian.. biar aku yg mengirim puisi bagi para ikhwan.



Wahai ikhwan,

Jagalah pandangan..

Jangan kau umbar rayuan..

Sebab hal itu akan mematikan.



Wahai Kaum lelaki.

Kalian tau, akhwat lemah diri..

Sering terbujuk rayu oleh janji.

Maka, jangan kau umbar harapan yg tak pasti..



***



So, sekali lagi bagi para ikhwan, jangan jualan gombal, jangan obral janji ya. Meskipun gak semua ikhwan bertipe seperti ini.. tentu masih banyak ikhwan yg bisa menjaga izzahnya juga.



Bagi para akhwat, hati-hati binti waspada Ukh … jangan mudah digombali. Jangan percaya dengan kata-kata suka, cinta atau janji-janji. Jangan mudah menambatkan hati, jangan mudah berharap. Stay cool, calm, confident. Perisai izzahmu harus tetap kokoh. Oke oke... ^_^





Ini tentang seorang ikhwan.



Ikhwan itu mencoba tetap simpati (simpan dalam hati) terhadap akhwat tersebut. Apabila perasaan itu telah mewujud pada realisasi amal, baik lisan maupun perbuatan, maka tak ayal akan terjadi juga gombalisasi disini.



Sering seseorang ingin mengekspresikan atau menyampaikan perasaannya yang sedang membuncah karena cinta. Hal seperti ini mestinya disimpan rapat-rapat dalam lubuk hatinya, jangan sampai si “dia” memergoki adanya perasaan itu. Gengsi dong!! Namun suatu saat pertahanan itu bisa jebol manakala perasaan itu makin menjadi-jadi sedang keimanan dalam kondisi menurun. Maka lahirlah sebentuk perhatian pada si “dia”, baik berupa nasehat, tausiyah, pujian, menanyakan sesuatu (baik tanya beneran atau pun pura-pura bertanya) atau sekadar menanyakan kabar. Entah itu lewat SMS, telpon, saat chatting, via e-mail dsb (astaghfirulloh)



Makanya… ingat, penyebab awal perlu dicegah, yakni adanya gombalisasi. Kalau si gombal dah nyebar, maka sedikit banyak korban bisa berjatuhan. Baik ‘lecet-lecet’ ringan maupun ‘luka’ berat. Bahkan nanti gak hanya berdampak pada hati, tapi juga fisik. Lha bayangin aja … kalau jadi gak enak makan, gak nyaman tidur karena tiap mau makan .. ingat dia, mau tidur … ingat dia, mau ngapain aja ingat dia, apa gak lama-kalamaan bisa kurus tuh? Trus …siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan kaumku (wanita/akhwat). Wuahh.. gerah banget dengan tipe ikhwan yg gak jelas gini.



So, khususnya bagi para ikhwan yg membaca tulisanku ini.. Tolong jaga diri, jaga hati, jaga gengsi. Jangan asal kirim SMS, lebih-lebih SMS yg gak penting bin gombal bin murahan. Juga .. jangan asal balas SMS, apalagi dengan SMS gombal.



Aku sempat membaca sebuah puisi yg berisi:



Wahai Ukhty…

Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu

Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu

Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu



Karena cintaku padamu,

Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram

Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh

Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah



Karena cinta ini,

Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,

Ku tak ingin mempesonamu,

Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,

Atau pun menaruh harap padaku.



Maka biarlah…

Aku bersikap tegas padamu,

Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,

Biarkan aku bersikap dingin,

Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,

Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….



Semua itu karena aku mencintaimu,

Demi keselamatanmu,

Demi kemuliaanmu.



***

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Dan gantian.. biar aku yg mengirim puisi bagi para ikhwan.



Wahai ikhwan,

Jagalah pandangan..

Jangan kau umbar rayuan..

Sebab hal itu akan mematikan.



Wahai Kaum lelaki.

Kalian tau, akhwat lemah diri..

Sering terbujuk rayu oleh janji.

Maka, jangan kau umbar harapan yg tak pasti..



***



So, sekali lagi bagi para ikhwan, jangan jualan gombal, jangan obral janji ya. Meskipun gak semua ikhwan bertipe seperti ini.. tentu masih banyak ikhwan yg bisa menjaga izzahnya juga.



Bagi para akhwat, hati-hati binti waspada Ukh … jangan mudah digombali. Jangan percaya dengan kata-kata suka, cinta atau janji-janji. Jangan mudah menambatkan hati, jangan mudah berharap. Stay cool, calm, confident. Perisai izzahmu harus tetap kokoh. Oke oke... ^_^

Berani Mencintai, Berani Menikahi



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 20 Januari 2011 jam 17:22

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Duh... Sore ini entah kenapa ingin sekali membahas judul di atas ^_^



Berani Mencintai, Berani Menikahi. Yo, siapa yang siap????



Sadar gak ya, selama ini mudah kita mencintai.. Namun kita tak berani untuk mengambil langkah pasti?



Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah merupakan persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?



Kalau kita berani mencintai, sejatinya kita sedang belajar untuk bertindak dewasa. Mengapa? Karena MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.



Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya? Harus ada ‘Komunikasi dua arah’, ‘Ada kerelaan mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan Keberanian untuk mengemukakan pendapat’.



Sekali lagi, apa sudah selesai sampai disini saja dalam hal cinta-mencintai? Salah.



Ketika memutuskan untuk siap mencintai, selanjutnya kita harus bersiap memasuki pintu gerbang cinta yang sebenarnya. Ya. gerbang itu bernama PERNIKAHAN. MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.



MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuhnya cinta, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil……

MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kan diuji sejauh mana pembuktian cinta mereka yang sebenarnya.



Karena MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa memahami orang lain…?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana kita bisa memperhatikan pasangan hidup…??





Jika berani mencintai,

Harus berani menikahi.

Khususnya bagi para kaum lelaki.

Jangan bisanya cuma obral janji..

Sana-sini banyak yang terlukai.
Akhrnya menumpuk sakit hati.



Karena MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ apa yang ada dan apa adanya.



Siapa yang berani mencintai, maka harus bersiap untuk menikahi...



Bukankah dengan menikah, mereka akan disejajarkan Rasululloh SAW dengan mujahid fii sabilillah yang dijanjikan akan mendapat pertolongannya! Karena kata beliau, tiga golongan yang menjadi keharusan Alloh untuk membantu mereka adalah orang yang menikah untuk memelihara kesucian diri, budak yang hendak membayar kemerdekaan dirinya, dan orang-orang yang berperang di jalan Alloh. [HR Ahmad, Turmudzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah]



Tuh… Subhanalloh khan? Nunggu apa lagi! Kalau udah siap lahir bathin, ikrarkan cinta dengan menikah saat ini! Jangan beraninya cuma bermain cinta sembunyi, diam-diam tapi gak punya nyali...



*Peace ^_^



*SekAr*

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Laki-laki yang Bernama Ayah


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 20 Januari 2011 jam 16:20

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Ayah…

Bagiku seorang yang namanya jarang kusebut. Mengapa? Sebab bagiku, sosok seorang ayah itu tidak memberi definisi apa-apa dalam kehidupanku.



Seseorang yang hampir dikatakan tidak ada rasa kepedulian terhadap anaknya. Entah mengapa begitu dingin seorang yang dinamakan ‘Ayah’ itu.



Bila ditanya, siapakah orang yang paling aku sayang di dunia ini… jawabannya tentulah ibuku. Karena bagiku, sosok ibulah yang paling berperan penting dalam kehidupanku selama ini.



Entah seperti anak-anak lainnya atau tidak.. tapi yang pasti, aku kurang merasakan peran seorang ayah. Ia sering pulang malam, dan ketika sampai rumah pun.. tidak ada kehangatan yang diberikan olehnya.



Sosok yang membuatku geram dan akhirnya tidak ada penghormatan sama sekali padanya. Saat itu ku ingat pasti tatkala usiaku beranjak 9 tahun, aku pernah mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang anak pada ayahnya. Hanya karena keinginanku tidak bisa dipenuhi olehnya. Aku hanya berfikir, bahwa kalau sudah tidak mendapat perhatian darinya, paling tidak bentuk perhatian itu bisa tergantikan dengan terpenuhinya kebutuhanku. Minta dibelikan mainan, baju baru dan sebagainya. Namun ternyata itu nihil semua.



Semakin jengkel lah aku, bahkan aku tidak ingin dikecup keningnya oleh orang yang dinamakan ayah tersebut pada saat syukuran sederhana di hari ulang tahunku.



Beranjaknya usia, ketika saat itu aku masuk Sekolah Menengah Pertama… itulah pertama kalinya sejarah dalam hidupku, peran orang tua khususnya ayah sangat berarti besar. Betapa paniknya aku, ketika pulang sekolah rok biru seragamku basah oleh cairan yang berwarna merah. Aku pun kaget dan panik luar biasa, padahal saat itu ibuku tengah naik haji ke tanah suci bersama nenekku. Yang ada di rumah, hanyalah aku bersama adik dan sosok yang dinamakan ‘Ayah’.



Ia lah yang menyambutku, tatkala aku menangis tersedu-sedu sampai rumah dalam keadaan sedih dan karena ditambah dengan perutku yang sakitnya luar biasa.



Aku malu. Lalu aku masuk kamar tanpa berkata apa-apa terhadap ayahku. Ia menyusul ke kamarku dan menanyakan apa yang terjadi, lalu aku pun luluh dan mau menjelaskan keadaanku padanya saat itu.



Ayahku tersenyum dan berkata, “Gak apa-apa, ini pertanda anak gadis ayah sudah dewasa. Kamu sudah mendapat tamu bulanan. Nanti ya ayah belikan pembalut dulu.”.



Degg… hatiku teriris dengan kata-kata lembut darinya. Ohh Tuhan, di saat kritis dan aku tidak tahu harus berbuat apa, justru ialah yang hadir menemaniku. Ialah yang menenangkanku disaat kondisiku seperti itu, tanpa hadirnya peran ibu disampingku.



Semakin tersadar, ayahku mempunyai peran berarti dalam hidupku. Tidak hanya ibuku. Ialah sosok yang hebat itu, sosok yang hadir disaat aku membutuhkannya.



Pun saat aku menginjak usia dewasa, aku semakin mengerti arti dari hadirnya seorang ayah. Aku melihat beban berat sedang ditanggungnya. Aku melihat segala hal yang menjadi kebutuhanku perlahan terpenuhi.. Satu per satu bisa aku dapatkan. Bersama itu pula satu per satu uban putih muncul diantara rerimbunan rambut ayahku.



Ya. Semakin hari aku tersadar, banyak perubahan yang terjadi pada diri ayahku.. Warna rambutnya yang berubah, kerutan di wajahnya yang tidak lagi tersembunyi dan itu membuatku semakin yakin, bahwa ayahku tengah berjuang keras dalam membahagiakan keluarganya. Seperti tatkala ia telat pulang kerja malam hari karena ada rapat di kantornya, ia selalu membawakan kami makanan yang bersisa dari rapat di kantornya. Melihat wajahnya yang sumringah benar-benar menandakan rasa senangnya ketika bisa membawakan makan malam untuk anak serta istrinya.







Karena ayahku adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…Bahkan ketika ia tidak kuat untuk tidak menangis. Ia harus terlihat tegas bahkan saat ia ingin memanjakanku.



Ayahku ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, dan tidak tergantung pada siapapun tapi selalu membutuhkan kehadirannya.



Ayahku pernah berkata “Ayah akan selalu memelihara janggut, meski telah memutih,

agar kamu bisa ‘melihat’ para malaikat bergelantungan disini dan agar kamu selalu bisa mengenali ayah.”



Dan ayah juga penah berpesan: "Mbak, jangan cengeng ya meski kamu ini adalah seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecil ayah dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! Seorang laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kamu gantikan posisi Ayah di hatimu."



Ohh ayah. Baru aku meyakini, bahwa betapa beruntungnya aku memiliki ayah sepertimu. Ayah terbaik sepanjang perjalanan hidupku. Seorang ayah yang memberi banyak pelajaran kehidupan.



Ayah..

Namamu kan selalu terpatri.

Meski sedikit perhatian yang tercurah.

Bagiku sudah sangat berarti.



Ketika peluhmu mengalir.

Yang begitu agung, maka..

Tercucilah rindu.

Pada alunan kata yang sejuk.



Terima kasih ayahku. Untuk setiap peluh yang kau teteskan, untuk setiap kerut dahimu yang tidak sempat kuhitung, untuk setiap jaga sepanjang malam ketika aku sakit dan ketika kau merindukanku, untuk tetes ‘air mata laki-laki’ yang begitu mahal ketika kau mengkhawatirkan aku, untuk kepercayaanmu padaku, meski seringkali ku hianati. Sungguh tidak akan pernah bisa terbalas segalanya. Dan aku mencintaimu karena-Nya.



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Menjaga Pikiran dari Derasnya Ombak Kekalutan Hati



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 19 Januari 2011 jam 11:48

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Bila kita pernah ke pantai untuk menyaksikan dan mendengar ombak yang datang silih berganti, memecahkan karang dan memberikan suara yang khas dengan deburannya seperti memainkan musik kehidupan. Sebuah nuansa keindahan alam yang tiada tara.

Banyak yang berkata, bila stress pergilah ke pantai, teriaklah kencang-kencang kalahkan suara ombak yang memecahkan karang, maka setidaknya beban hidupmu akan berkurang.



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Benarkah?

Ada yang berkata benar, ada yang mengatakan tidak ada efeknya sama sekali. Ada yang berkata melihat lautan yang terhampar luas, hatinya pun menjadi bebas lepas. Ada yang berkata, pergi ke pantai, semakin mudah mengingat semua kenangan yang tidak ingin dikenang. Ada juga yang semakin merasakan sepinya pantai di sore hari, semakin merasakan kesepian di hatinya.

Jadi sesungguhnya apa yang terjadi?



Mampukah Deburan Ombak membuat kita menjadi tenang? Mampukah suasana pantai membuat kita bahagia? Dapatkah hamparan lautan luas membuat berkurangnya semua beban hidup kita?

Tenyata lautan tetaplah lautan, ombak tetaplah ombak, karang masih juga tetap pada tempatnya.

Tetapi pikiran kita yang menjadi penentu segalanya. Pikiran kita yang dapat menentukan kebahagiaan kita sendiri.

Bila saja dihadapan kita terpampang pemandangan yang indah, suara yang merdu, dan suasana yang tenang, tetapi pikiran ini tidak pernah bisa tenang, maka apa yang dilihat, didengar dan dirasakan tidaklah membantu banyak bagi perkembangan diri kita.

Bila saja dimanapun kita berada, dapat mendengarkan suara hati kita yang damai, yang tenang, yang bahagia, maka apapun yang kita lihat, dengar dan rasakan akan menjadi sebuah keindahan yang luar biasa.



Jadi letak permasalahan sesungguhnya adalah terletak dalam bagaimana cara kita berpikir dan melihat kenyataan yang ada.



Ada yang jauh lebih penting lagi adalah menjaga pikiran kita. Amati gelombang dan riak dari yang namanya gelombang emosi kehidupan, ombak kekalutan hati, dan riak dari keinginan-keinginan rendah yang selalu datang menganggu kehidupan kita.

Bila kita dapat menjaga hati kita, mengamati suara hati kita, melihat dan mendeteksi datangnya gelombang-gelombang yang hanya membuat permasalahan bagi hidup kita, mengamati setiap proses terjadinya deburan dasyat antara keinginan dengan kenyataan yang ada dan Bila kita mau mendengarkan setiap keluh kesah dari arus kehidupan diri kita sendiri, ternyata sumber kebijaksanaan yang luar biasa terdapat disana. Sumber kedamaian yang luar biasa juga terletak disana.



♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Bijaksana muncul setelah kita mampu melihat, mendengar dan merenungkan dengan jelas setiap suara-suara yang ada dari setiap pergerakan pikiran kita. Menganalisanya apakah bermanfaat atau tidak, apakah merugikan diri sendiri atau tidak, apakah dapat memberikan pencerahan atau tidak, atau sebaliknya hanya menghancurkan diri sendiri, membuat keributan bagi orang lain, dan membuat permasalahan menjadi berlarut-larut. Setelah munculnya kesadaran dari dalam diri tentang apa yang terjadi dalam diri ini, maka barulah seseorang akan mampu bangkit dari segala kerisauan dan masalah yang selalu berkecamuk di dalam hatinya.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Tuesday, January 18, 2011

Jodoh Tidak Akan Pernah Tertukar



oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 19 Januari 2011 jam 11:11

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Aku teringat kisah seorang teman...

Ia adalah seorang muslimah yg senantiasa terjaga. Hari-harinya senantiasa diisi dengan kegiatan bermakna.. Apalagi kalau bukan mengisi kajian, membaca buku, menulis tausyah dan sebagainya.


Suatu hari, ia memiliki permasalahan dakwah yg begitu besar. Bahkan ia bingung, kepada siapa ia harus meminta bantuan... Tak ayal, dia hanya bisa memohon dalam sujud panjangnya agar segera diberi jalan keluar terbaik.


Tak berapa lama... Ia dikenalkan dengan seorang ikhwan, tepatnya terpaut 6 tahun yg pada saat itu, ikhwan tersebut memberikan bantuan berupa masukan-masukan serta solusi mengenai problema dakwah yg sedang dialami temanku itu.

Saat itu temanku benar-benar berterima kasih serta mengucap rasa syukur sedalam-dalamnya... Karena perlahan problema dakwah yg sedang dihadapi menemui titik terangnya.

Namun, setelah titik terang ditemui.. ternyata menambah sebuah problema baru. Bagaimana tidak, kedekatannya dengan sang ikhwan tersebut.. ternyata memunculkan benih-benih cinta dalam hatinya.

Sungguh, sebenarnya temanku itu tak mau memiliki rasa seperti itu, ia pun ingin membuang jauh-jauh bayangan tentang ikhwan tersebut yg sebenarnya sudah dianggap oleh temanku itu sebagai seorang kakak. Ya! hanya sebatas kakak.

Tapi, apa mau dikata... rasa kagum karena kefahaman ikhwan tersebut akan ilmu agama serta keshalihannya ternyata mampu mengalihkan keimanan temanku itu. Ia selalu uring-uringan dan pada akhirnya hidupnya jadi tak bersemangat lagi.. Kalau dulu, ia bersujud panjang karena rasa khouf-nya yg ada.. kini dalam sujud panjangnya selalu terhadirkan genangan air mata, ingin disatukannya ia dengan ikhwan tersebut.

Sampai suatu hari, ia menceritakan semuanya padaku... dan aku pun mencoba menenangkannya. Ia terus menangis dan menangis sejadi-jadinya. Ia sudah tak tahan lagi terhadap kegalauan perasaannya. Ia takut rasa itu akan semakin mencengkeramnya dengan kuat dan akhirnya terbius oleh hawa nafsu syaitan.

Aku pun mencoba memberikan saran, untuk coba berterus terang terhadap ikhwan tersebut akan perasaan temanku ini yg sebenar-benarnya. Malah kalau perlu langsung menawarkan diri untuk minta dinikahinya. Bukankah Siti Khadijah juga menawarkan diri kepada Rasululloh, hanya saja melalui seorang perwakilan? Apakah menawarkan diri ini disampaikan melalui perwakilan atau secara langsung oleh diri sendiri terserah, asalkan caranya baik & sesuai dengan syariat Islam. Bila ingin maju tanpa perwakilan tentu harus siap dengan satu syarat: harus siap mental!.


Temanku akhirnya paham dan memberanikan diri untuk menawarkan diri terhadap ikhwan tersebut, tentu minta untuk dinikahi.. bukan untuk dipacari. Dan ia sudah siap dengan berbagai kemungkinan yg akan terjadi. Tapi bismillah saja lah, pikirnya. Toh aku bukan meminta pada ikhwan tersebut tapi sebenar-benarnya aku meminta pada Sang Pemilik ikhwan tersebut (red. Alloh), kata temanku.


Dan setelah beberapa lama, aku kehilangan kabar temanku ini. Entah apa yg telah terjadi, namun rasa keingintahuanku begitu membuncah.. Sampai pada akhirnya, aku mendapat kabar darinya.. bahwa ikhwan tersebut telah menikah, dengan akhwat yg lain.

Aku ikut bersedih, tentu ada rasa kekecewaan yg hadir terhadap diri temanku tersebut. Tapi, ketika aku menemuinya, ia begitu tegar.. dan mengatakan "Aku sudah menawarkan diri pada ikhwan tersebut, tapi ikhwan tersebut justru menyerahkan undangan pernikahannya padaku. Aku mungkin telat menawarkan diriku padanya, tapi sungguh aku yakin bahwa jodohku tak akan pernah tertukar oleh siapapun".



Degg... tiba-tiba aku terlemas. Kata-katanya begitu menghujam dalam kalbuku. Ia sungguh wanita sholehah.. Aku yakin, ia akan mendapatkan jodohnya yg terbaik kelak.

Setelah pertemuan itu. Aku tak bertemu lagi dengan temanku tersebut... Kita benar-benar loss contact sama sekali.

***

Kita kembali dipertemukan.. tepatnya ketika aku berkunjung ke toko buku. Ia masih tampak seperti yg dulu, setelah pertemuan terakhirku dengannya setahun yg lalu. Ia pun menghampiriku dan menyapaku, lalu mengajakku untuk mampir ke sebuah rumah makan yg tak jauh dari toko buku itu. Disanalah kita berbincang kembali... kemudian ia menceritakan padaku, bahwa ia sempat ta'aruf namun gagal hingga kedua kalinya. Dengan hanya karena sebuah alasan, bahwa temanku itu adalah seorang "Aktivis".

Aku tak habis pikir mendengar ceritanya, wanita seperti dia, bisa ditolak ikhwan hanya karena alasan itu??!! Huhh..!! aku emosi sekali. Jarang-jarang kan ada wanita yg seperti ini, sudah cantik, sholehah, pemahaman ilmu agamanya banyak dan aktifis dakwah pula. Apalagi sih yg dicari dari para ikhwan tersebut?!


Ahh, itu pasti karena ikhwan tersebut takut menyeimbangi kafaah yg dimiliki temanku ini. Belum maju ke medan perang, ehh.. udah mundur selangkah demi selangkah. Capekkk dah!!

Tapi sekali lagi, tak ada rasa kekecewaan yg muncul dari temanku ini.. meski aku yakin, namanya juga manusia, tentu temanku merasakan sakit yg terdalam di hatinya mengenai kegagalannya berkali-kali dalam menuju gerbang pernikahan.

***

Itu dulu.. ketika 1,5 tahun yg lalu kita bercerita... Tapi lihatlah kini, surat undangan pernikahan berwarna merah telah berada di genggaman tenganku. Akhir dari sebuah perjalanan seorang temanku.

Dan sungguh benar janji Alloh, "Perempuan-perempuan yg keji adalah untuk yg keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yg keji, sedangkan wanita-wanita yg baik untuk laki-laki yg baik dan laki-laki yg baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yg baik…” (QS. An-Nur: 26).


Ternyata apapun yg telah Alloh tetapkan bagi manusia merupakan hak-Nya, pasti ada hikmah besar di dalamnya, tergantung bagaimana kita menyikapi.

Dan sebuah pembelajaran bagiku, tentu aku harus yakin seperti temanku ini, keyakinan bahwa "Jodoh tidak akan pernah tertukar". Insya Alloh.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥