Showing posts with label menyentuh hati. Show all posts
Showing posts with label menyentuh hati. Show all posts

Monday, July 7, 2014

Kisah Mengharukan: “Ibu Buta Yang Memalukanku”

"Terkadang Kita Tak Merasa Memiliki Sesuatu Sampai Kita Benar2 Kehilangan"

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar
Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.
Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.
Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku. “Mau ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hai, itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya?” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu.
Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan rumah kumuhku dan terutama meninggalkan ibuku yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu mnghalangi kemajuanku.
Di Selolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis Indonesia dan menetap di Singapura.
Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.
10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis dan sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.
Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.
Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku mengatakan: “HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF, SAYA SALAH ALAMAT”
Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam rumah.
Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.
Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.
Selesai Reuni entah megapa aku ingin melihat keadaan rumahku sebelum pulang ke Sigapore. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.
Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”
“OH…”
Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal. “Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”
Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.
Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku yang kucintai aku tahu kau sangat membenciku. Tapi Ibu senang sekali waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni disekolahmu.
Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi. karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni tersebut.
Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam Aku hanya bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya yang ibu punya.Ibu tak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan melihat dunia luas.
Asal kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu salah satunya adalah mataku yang selalu membuatmu malu.
Mataku yang kuberikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.
Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.
Saat aku menulis surat ini, aku masih berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut sudah di depan mataku.
Peluk cium dari Ibumu tercinta
Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku sendiri….

--------------------------------------
Mudah-mudahan kia dan anak-anak kita kelak tidak seperti tokoh yang ada dalam kisah mengharukan ibu dan anak diatas. Sejelek-jeleknya orang tua kita, maka kita wajib untuk mencintainya, menyayanginya, menghormatinya.

Saturday, July 5, 2014

Sepatu Baru - Kisah Menyentuh Hati

Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja.
Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus
memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya
baru saja membeli sepasang sepatu kulit.

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada ayah
minta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di
bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai montir. “Willie” ayah kelihatannya terkejut.
“Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”
“Setiap orang memakai sepatu sport yah!” “Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut
tidak menjadikan ayah mudah membayar sepatu sport “Gaji ayah kecil dan sering tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. “Ayah, saya tampak seperti bloon
memakai sepatu jenis ini “kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru.
Ayah memandang dalam dalam ke mataku. Kemudian ia menjawab, “Begini saja, Kau
pakai sepatu ini satu hari lagi.Besok, di sekolah, perhatikan semua sepatu dari kawan-
kawanmu. Bila seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa sepatumu paling butut
dibandingkan sepatu kawan kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu dan
membelikanmu sepasang sepatu sports”


Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh keyakinan bahwa hari
itu merupakan hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang ketinggalan jaman ini.
Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya lakukan, namun tidak, saya ceritakan apa
yang saya lihat secara teliti.

Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusat
perhatianku. Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan dalam ingatanku betapa
banyaknya teman teman di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport, bahkan
sepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga dan lain lain bentuk yang sudah mendekati
kepunahan sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai sepatu sport yang gagah, yang senantiasa berdetak
detik penuh gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.

Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampir
yakin bahwa Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang sedang “in” Setiap saya
menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai sepatu sport
idaman saya. Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya denting-denting
metal dari kolong sebuah chevy tua buatan tahun 1956. Udara berbau oli, namun pada
hemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang langganan sedang menunggu ayah
yang sedang bergulat di kolong chevy tua itu. “Pak Alva” tanya saya kepada langganan
yang sedang menunggu, “masih lamakah?” “Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Ia
sedang membongkar persneling, namun bila ia mendapatkan adanya bagian lain yang
tidak beres, ia akan menyelesaikannya juga.”

Saya bersandar pada mobil abu abu itu. Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kaki
ayah yang menjulur keluar dari kolong mobil. Sambil menjentik jentik lampu belakang
chevy, secara tidak sadar saya menatap kepada kaki ayah. Celana kerjanya berwarna biru

tua, kusam dan lengket terkena oli, lusuh pula. Sepatunya, berwarna putih tua…. ah
….bukan hitam muda……, dan sungguh sungguh butut, sebagaimana mestinya sepatu
seorang montir.

Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulit
tipis, yang dahulu bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples menggigit kedua belah kulit
kencang kencang, mencegah jempol kakinya mengintip keluar. Tali sepatunya beriap
riap, dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut
kaus katun. “Sudah pulang nak? “ayah keluar dari kolong mobil. “Yes sir” kataku. „Kau
lakukan apa yang kuperintahkan hari ini?” “Yes sir” “Nah, apa jawabmu ?” la
memandangku, seolah olah tahu apa yang akan saya ucapkan. “Saya tetap ingin sepatu
sport “Saya berkata tegas, dan berusaha setengah mati untuk tidak memandang kepada
sepatu ayah. “Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu….. “Mengapa tidak
pergi dan membelinya sekarang?” lalu ayah mengeluarkan selembar $ 10. dan
memancing uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar 3% pajak penjualannya.
Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat pertokoan, dua blok dari bengkel
di mana ayah bekerja.

Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat apakah sepatu sportku masih
dipajang disana. Ternyata masih! $9.95. Namun uang saya tidak akan cukup bila saya
harus membeli paku paku yang akan dipakukan pada solnya dan menimbulkan suara klak
klik yang gagah.

Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan dana dari mama, sebab tidak mungkin
kembali kepada ayah dan minta kekurangannya.

Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya tampak membayang melintasi kedua
mataku. Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang camping, paku paku yang
telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menjepit kertas.
Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musim
dingin yang menggigit, sepatu yang sama dipakainya melintasi jalan jalan yang dingin,
menuju kepada mobil mobil yang mogok. Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terpikir
olehku, betapa banyaknya benda benda yang seharusnya dibutuhkan ayah, namun tidak
dimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dan
kementerengan sepatu sport yang ada di balik kaca etelase di hadapanku mulai memudar.

Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bila
ayahku bersikap seperti saya bersikap. Saya masuk ke dalam toko sepatu itu. Sebuah rak
besar terpampang megah, penuh berisikan sepatu sport yang sungguh keren. Di
sampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan “obral besar. 50%
discount”. Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu semodel sepatu ayah, beberapa
generasi lebih muda, tentunya.

Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu ayah yang butut. Dan sekarang sepatu
baru. Pikiran tentang: menjadi “in” dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dan
kemudian pikiran tentang ayah,…. telah mengalahkannya.

Saya mengambil sepatu ukuran 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan ke
arah meja kasir, ditambah pajak, jadilah
bilangan $ 6.13.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu baru ayah di atas kursi di mobilnya.
Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan uang kembalian yang masih tersisa. “Saya
pikir harganya $ 9.95 kata ayah. “Obral” kataku pendek. Saya mengambil sapu, dan
mulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwa
bengkel harus ditutup dan kami harus pulang.

Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk ke dalam mobilnya. Ketika ia
membuka kotak itu, ia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia
memandang kepada sepatu itu lama-lama, kemudian kepadaku. “Saya pikir kau membeli
sepatu sport”, katanya pelan.

“Sebetulnya ayah, … tapi …. Saya tak sanggup meneruskannya. Bagaimana saya harus
menjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan bila saya tumbuh
menjadi dewasa, saya sungguh ingin menjadi seperti orang baik ini, yang Tuhan berikan
kepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling memandang untuk waktu
sesaat. Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah menstarter mobil, dan kami
pulang.

Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan
bertanggung jawab


Wednesday, July 2, 2014

Mantel Kuning

Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya, mengingatkan pada masa-masa yang
telah lalu. Begitu pula hari ini. Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. 
Kuning, itu warna yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, 
dan mereka tampak gagah dengan mantel itu. Untuk anak kelas 2 SD, semua yang
berwarna cerah, akan selalu tampak indah. Namun sayang, Ibu tak punya cukup uang
untuk membelinya. Walau sempat kecewa, saya harus menurut, dan menahan keinginan 
untuk mempunyai mantel kuning itu. 

Walau begitu, saya tetap kesal. Dan rasa itu memuncak ketika saya harus pulang dari 
sekolah. Hari itu hujan begitu deras. Saya makin kecewa dengan Ibu. Sebab, jika ada 
mantel, tentu saya tak perlu kena hujan, dan bisa bergabung bersama teman-teman yang
lain. Kesal, dan marah, begitulah yangsaya rasakan saat itu. Sementara yang lain tertawa 
dan menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh yang basah kuyup. 

Ah..di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Ibu. Dia tampak membawakan payung
untuk saya. Karena terlanjur marah, saya tak menerima payung itu, dan ngambek, untuk
tetap pulang tanpa payung. Walau begitu, ia tampak ingin melindungi saya dengan 
payungnya. Mendekap, agar saya tak terlalu basah terkena hujan. Hujan makin deras, dan 
kami pun berjalan pulang, walau saya tetap ngambek dan menolak untuk di payungi. 
Sesampainya di rumah, tingkah itu terus saya perbuat. Saya tetap menolak untuk berganti 
pakaian. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, hal itu saya selesaikan. Ibu, kemudian datang
dengan handuk, dan langsung menyelubungi saya dengan handuk itu. Ada kehangatan 
yang segera menyergap. Saya menjadi lebih tenang. Tetap, tak ada kata-kata yang keluar 
dari Ibu, selain terus menghangatkan saya dengan handuk itu. Tangannya terus 
membersihkan setiap air hujan yang ada di badan. Diseka nya kepala saya, agar tak nanti 
tak membuat sakit. Masih dalam diam, Ibu kemudian memberikan pakaian ganti. Setelah 
itu, dia masih menyodorkan teh manis hangat buat saya. Ya, segelas teh manis, sebab, 
susu coklat, adalah hal yang jarang saya rasakan saat itu. Ya, kehangatan kembali hadir 
dalam tubuh. Walau saya mungkin tak mengerti apapun, saya yakin, ada kehangatan lain 
yang diberikan Ibu saat itu. 

Ya, teman, begitulah. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning seperti 
yang saya impikan. Namun, payungnya telah membuat saya aman. Ibu mungkin tak
mampu membelikan saya mantel kuning untuk terhindar dari hujan, namun, dekapannya 
membuat saya terhindar dari apapun. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel 
kuning itu, namun, handuk hangatnya melebihi setiap kehangatan yang mampu diberikan 
setiap mantel. Ibu mungkin tak mampu membelikan mantel kuning, namun, usapan 
lembutnya, adalah segalanya buat saya. 

Ibu mungkin tak menjemput saya dengan mobil atau kendaraan lain, namun lingkaran 
tangannya di tubuh saya, adalah dekapan yang paling indah. Ibu mungkin tak bisa 
memberikan susu coklat, namun, teh manisnya, lebih berharga dari apapun. Ibu mungkin
tak bisa memberikan saya banyak hal lain, namun, dekapan, usapan, uluran tangan, 
perhatian, kasih sayang, sudah cukup sebagai penggantinya. 

Ya, rintik hujan selalu membuat saya terharu. Terima kasih buat Ibu yang tak
membelikan saya mantel kuning. Karena, apa yang telah diberikannya selama ini, jauh 
melampaui semuanya.

Tuesday, July 1, 2014

Ibu, I miss you so much

Maafkan salahku, Ibu…. 

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang 
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita 
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat 
balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi 
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa 
keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman 
pribadi yang terjadi pada 2003. 

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah 
sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu 
mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. 
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah 
terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang 
tersambung ke sebuah layar monitor. 

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. 
Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. 

Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap 
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta 
izin saya” 

Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” 

“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. 

Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali 
suntik.” 

“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?” 

Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil.” 

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga 
puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. 
Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali 
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada 
Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” 

“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta 
bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa 
kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat 
karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba 
satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti 
obatnya, Ppak.” jawab dokter. 


Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat 
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya 
Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- 
Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan 
Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah 
aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan 
apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit 
isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan 
pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha 
Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. 
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada 
Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan 
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.” 

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan 
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam 
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya 
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri 
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan. 

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata 
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku 
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh 
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku 
bahwa sayalah yang mengambil uang itu. 

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan 
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya 
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah 
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan 
mengambil uang yang ia miliki itu.” 

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana 
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan 
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu 
saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus 
dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?” 

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, 
duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega- 
teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. 
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata 
mengalir di pipi. 

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang 
itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat 
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama 
ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik 
telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku 

cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata 
yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin 
dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa 
ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan 
memohon doa darinya. 

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan 
sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat 
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu 
telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan 
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya 
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya 
berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan 
dokter.” 

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri 
sendiri “Ibu, I miss you so much

Sunday, June 29, 2014

Cinta Sejati


Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk. 

Lalu aku baca tahun “1924″. Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, “Sayangku Michael”, yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah. 

etapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. “Operator,” kataku pada bagian peneragan, “Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?” 

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, “Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda.” Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku
menunggu beberapa menit. 

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, “Ada orang yang ingin berbicara dengan anda.” Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, “Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!” “Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?” tanyaku. “Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu,” kata wanita itu. “Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada.” Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. 

“Semua ini tampaknya konyol,” kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat 

Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, “Ya, Hannah memang tinggal bersama kami.” Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. “Ok,” kata pria itu agak bersungut-sungut, “bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah.” 

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop
surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael.” Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, “Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu.” “Ya,” lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. “Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,…….” 

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ……katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda,” katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, “aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael.” Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, “Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?” Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, “Aku hanya mendapatkan nama belakang
pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini.” Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, “Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini.” 

“Siapakah Pak Goldstein itu?” tanyaku. Tanganku mulai gemetar. “Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar.” Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, “Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan.” Kami menuju ke 
satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, “Oh ya, dompetku hilang!” Perawat itu berkata, “Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?” Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, “Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi 
sore. Aku akan memberimu hadiah.” “Ah tak usah,” kataku. “Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini.” 

Senyumnya langsung menghilang. “Kamu membaca surat ini?” “Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang.” Wajahnya tiba-tiba pucat. “Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku,” ia memohon. “Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya,” kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, “Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok.” Ia menggenggam tanganku, “Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat 
surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu
mencintainya.” 

“Michael,” kataku, “Ayo ikuti aku.” Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan. 

“Hannah,” kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. “Apakah anda tahu pria ini?” Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, “Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?” Hannah gemetar, “Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!” Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. “Lihatlah,” kataku. “Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah.” 

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. “Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!” Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. 

Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun

Friday, June 27, 2014

Rajin atau Cerdas ?

Suatu siang dalam liburanku di rumah kakek, aku menghampirinya dan bertanya. 

“Menurut Kakek lebih hebat yang mana, menjadi cerdas atau menjadi rajin?” 

Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati kaca mata plusnya yang tebal. 

“Apa itu cerdas?” tanyanya. 

“Pandai berpikir.” jawabku. 

Kakek mengangguk. “Lalu apa itu rajin?” 

“Suka bekerja.” jawabku lagi. 

“Kemarilah.” Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang menyimpan selaksa kebijaksanaan. 
“Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah kakek?” 

“Mobil.” 

“Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?” 

“Mm… Roda.” 

“Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?” 

Aku menggeleng. “Tidak, roda dapat berbelok-belok. ” 

“Mengapa demikian?” 

“Karena ada kemudinya.” Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi. 

Kakek tersenyum. 

“„Roda‟ adalah „rajin‟, karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya, pekerjaannya, tugas yang harus selalu ia lakukan. 
„Kemudi‟ adalah „cerdas‟, karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus berbelok, ke kanan, atau ke kiri.” 

“Berarti „cerdas‟ lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!” Aku berseru. 

“Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?” Kakek bertanya. 


“Berarti… „rajin‟ lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat melaju.” sahutku ragu-ragu. 

“Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti alur jalan yang berliku?” 

Aku memandang kakek. 

“Cucuku… Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. 
Karena kehebatan itu hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya.” 

Kakek menatapku, “Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?” 

Aku menggeleng. 

“Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu.” jawab Kakek. 
“Ia adalah hatimu.” Telunjuknya terarah ke dadaku. 
“Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya menjadi cerdas, atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain. 
Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata. 
Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia.” 

Kakek menatapku dengan bijak. 

“Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi rajin?” 

“Menjadi keduanya.” Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas senyumnya.

Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senangb ermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, 
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. 

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini 
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil 
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin 
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” 

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau 
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu 
kembali sedih. 




Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya 
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya 
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami 
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf 
aku pun tak memiliki rumah. 

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata 
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat 
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon 
apel itu merasa kesepian dan sedih. 

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa 
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata 
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup 
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah 
kapal untuk pesiar?” 

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan 
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan 
bersenang-senanglah.” 

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal 
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui 
pohon apel itu. 

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf 
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi 
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah 
apelmu,” jawab anak lelaki itu. 

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon 
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku 
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang 
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon 
apel itu sambil menitikkan air mata. 

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. 
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah 
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar 
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, 
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” 
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. 

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE : 
Pohon apel itu adalah orang tua kita. 
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika 
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita 
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita 
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk 
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah 
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita 
memperlakukan orang tua kita. 

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. 
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan 
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada 
kita.