Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Tuesday, August 5, 2014

Jangan Terlalu Percaya dengan Mata Anda

Seorang teman pernah memberi tahu saya sebuah kalimat: "Percayalah pada apa yang kamu lihat (walaupun hanya satu kali) daripada apa yang kamu dengar (walaupun 1000 kali)". Sekilas saya berpikir bahwa kata-kata tersebut ada benarnya. Tetapi setelah saya renungkan lebih jauh ternyata apa yang kita lihat belum tentu benar. Apa yang kita lihat dengan mata bisa saja menipu kita. Lihatlah dengan mata kemudian rasakan dan renungkan dengan hati, maka itulah kebenaran.

Kita sering sekali mendengar ada muda-mudi yang pacaran kemudian putus karena pasangannya selingkuh. Atau suami-istri yang bercerai karena salah satu dari mereka selingkuh. Penyebab terjadinya perselingkuhan pada umumnya adalah "ada yang lebih baik". Biasa kita sering mendengar istilah "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput rumah kita". Ada wanita/pria lain yang lebih cantik/tampan daripada pasangan kita. Ada wanita/pria lain yang lebih perhatian, lebih kaya, lebih pintar, lebih keren, dll, daripada pasangan kita. Itulah yang terkadang menyebabkan hubungan berakhir.


Mata telah menipu kita. Jika kita melihat dengan mata, maka yang terlihat adalah rumput yang lebih hijau, lebih bagus, lebih menawan. Jangan terlalu percaya dengan apa yang dilihat oleh mata. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tetapi cobalah untuk datang dan berdiri diatasnya, maka kita akan menyadari bahwa ternyata rumput tersebut tidak lebih hijau daripada rumput di rumah kita.

Jangan mengambil kesimpulan hanya dari penglihatan dengan mata. Rasakan, pikirkan, dan renungkan dengan hati maka kita akan dapat melihat kebenaran yang sejati. Jangan meninggalkan pasangan kita hanya karena kita melihat ada orang lain yang lebih baik daripada pasangan kita. Jangan mencari kesempurnaan, karena kesempurnaan bersifat semu (Mencari Pasangan Yang Sempurna). Bersyukurlah dan hargailah apa yang kita miliki. Karena hanya dengan bersyukur dan menghargailah kita dapat melihat kesempurnaan.


The grass is always greener on the other side. Their grass looks greener until you go stand in it. Then you realize it's no greener than the grass you have.


Mencari Pasangan Yang Sempurna

Setelah sekian lama saya gak nge-post karena liburan, hari ini saya akan kembali membagi cerita mengenai kehidupan. Kali ini saya akan mengangkat topik mengenai kesempurnaan. Banyak diantara kita yang mencari seorang pendamping hidup yang sempurna. Pertanyaannya adalah apakah ada ? Jika ada, dimanakah dia ?


Ada kisah seorang laki-laki yang sudah sangat mapan dalam hal keuangan. Sang laki-laki mencari seorang pasangan hidup yang sempurna untuk menemani hidupnya. Pada suatu kesempatan, sang laki-laki menemukan seorang perempuan dengan paras yang sangat cantik. Belum pernah dia melihat wanita secantik ini. Tapi sayang, dibalik paras cantiknya, ternyata si perempuan tidak bisa memasak. Sang laki-laki berkata, sayang sekali ternyata dia tidak bisa memasak. 

Di lain kesempatan, sang laki-laki kembali bertemu dengan seorang perempuan lainnya. Perempuan ini memiliki paras yang tidak kalah cantik dengan perempuan pertama. Disamping itu, perempuan ini juga memiliki 5 restoran terkenal di kotanya, tidak diragukan lagi bahwa perempuan ini sangat pandai memasak. Setelah mengenal lebih jauh, ternyata perempuan ini mempunyai wawasan yang kurang baik. Sang laki-laki kembali berkata, sayang sekali ternyata wawasan perempuan ini kurang baik, mungkin dia terlalu sibuk belajar memasak.

Di kesempatan berikutnya, sang laki-laki bertemu dengan perempuan lainnya. Perempuan ini sangat sempurna. Perempuan ini sangat cantik, sangat pandai memasak, sangat perhatian, memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangati baik, dan sangat anggun. Sang laki-laki berkata, perempuan ini sempurna, tidak ada sedikitpun celah dari padanya. Dialah pasangan hidupku. Kemudian sang laki-laki mulai mendekati perempuan ini dan mengutarakan isi hatinya. 

Sang laki-laki berkata: "engkaulah perempuan paling sempurna yang pernah kutemui, kesempurnaan ada pada dirimu. Apakah kau mau menjadi pasangan hidupku ?". Dengan lembut sang perempuan berkata: "terima kasih atas pujianmu, jika engkau memang mencari perempuan yang sempurna dan menganggap aku adalah perempuan tersebut, maka aku juga sedang mencari laki-laki yang paling sempurna, dan laki-laki itu bukanlah engkau". Setelah berbicara demikian, sang perempuan berlalu meninggalkan sang laki-laki yang sedang termenung.

Jangan mencari pasangan yang sempurna. Saya tidak bilang pasangan yang sempurna itu tidak ada, tetapi walaupun memang ada maka dia ada untuk orang yang sempurna juga. Apakah kita sempurna ? Jawabannya adalah tidak, sebagai manusia kita memiliki banyak sekali kekurangan. Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki dan pasangan kita miliki. Jangan mencari pasangan yang sempurna, tetapi jadikanlah pasangan kita sempurna di mata kita.


Monday, July 21, 2014

Cerita Tentang Iman - Hasil Pilpres Indonesia 22 Juli 2014

Hari ini tanggal 22 Juli 2014 merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena pada hari ini pukul 16.00 WIB akan diumumkan siapa yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia 5 tahun kedepan. Banyak spekulasi yang beredar pada hari ini. Ada yang menjagokan nomor 1, ada pula yang menjagokan nomor 2. Tentu saja saya bukan akan bercerita mengenai politik disini. :)

Yang menarik dan menjadi pengamatan saya dalam beberapa hari ini adalah spekulasi-spekulasi yang terjadi dalam masyarakat. Banyak orang-orang yang memprediksikan bahwa pada hari pengumuman pemenang pilpres akan terjadi kerusuhan yang hebat. Sebagai efeknya, banyak orang-orang kaya yang sudah terlebih dahulu pergi ke luar negeri untuk "mencari aman". Ada juga beberapa kantor dan teman saya yang libur pada hari ini. Ini menjadi sesuatu yang unik di mata saya.


Saya yakin dan percaya, siapapun kita, apapun latar belakang kita, apapun pekerjaan kita, kita semua tidak menginginkan adanya kerusuhan di Indonesia. Kita ingin hari ini, tanggal 22 Juli 2014, semuanya aman-aman saja. Mungkin kita semua sudah berdoa dan berharap agar hari ini keadaan aman terkendali. Tetapi, bagaimana dengan iman kita ? Saya tidak berbicara tentang agama disini, saya yakin semua agama mengajarkan kita mengenai iman.

Alkisah, ada sebuah desa yang mengalami kekeringan panjang. Ratusan warga desa tersebut sepakat akan mengadakan doa bersama di suatu pagi yang sudah ditentukan di suatu lapangan terbuka. Ratusan orang datang ke lapangan tersebut untuk memanjatkan doa bersama meminta turunnya hujan. Dari ratusan orang yang datang, hanya ada 1 orang yang datang dengan membawa payung. Menurut saya itulah yang kita sebut sebagai iman.

Kita meyakini bahwa sesuatu belum terjadi akan terjadi. Kita percaya bahwa itu akan terjadi, sehingga kita bersikap seolah-olah hal tersebut telah terjadi. Itulah iman. Kita percaya sesuatu yang belum terlihat atau belum terjadi.

Marilah kita memiliki iman yang kuat bahwa pada hari ini, tanggal 22 Juli 2014, pada saat pengumuman pilpres, dan hari-hari berikutnya pasca pengumuman pilpres, semuanya akan baik-baik saja. Semua akan berjalan dengan sangat baik. Banga Indonesia akan semakin maju siapapun presiden terpilih. Iman ditunjukan dari perbuatan, bukan perkataan. Berbuatlah seperti apa yang iman kita katakan.

Friday, July 18, 2014

Api - Asap - Air (Bagian 2 - Tamat)



Bagi yang belum tau ceritanya, silahkan membaca terlebih dahulu disini : Api - Asap - Air (Bagian 1)

Dari cerita yang sebelumnya saya ceritakan, Api menggambarkan Masalah, Asap menggambarkan Dampak dari Masalah, dan Air menggambarkan Solusi.

Dalam hidup ini, kita tidak pernah akan terlepas dari masalah. Selalu ada masalah dalam hidup ini. Sama seperti api yang bisa menjalar dari satu titik ke titik-titik lain dan membakar habis rumah kita, begitu juga masalah. Masalah bisa menjalar dari satu masalah ke masalah-masalah lain dan akan membakar habis diri kita.

Saat sudah banyak masalah yang timbul dalam kehidupan kita, kita akan mulai melihat dampaknya, si asap. Kita akan stress, kita akan down, kita mulai merasa bahwa apapun yang kita lakukan tidak membawa perubahan. Sampai tahap ini, mencari pelarian adalah salah satu alternatif yang biasa diambil banyak orang. Bukannya mencari cara agar masalah selesai, kebanyakan dari kita malah berusaha mengeluarkan asap dari rumah kita. Kita mulai lari ke sex, alkohol, atau bahkan narkoba. Selama masalah tidak kita selesaikan, apapun cara kita untuk membuang asap tidak akan ada gunanya. Karena masalah akan terus memberikan dampak yang jelek dalam hidup kita.

Yang harus kita lakukan adalah mencari air untuk memadamkan api, sang sumber masalah. Solusi bisa kita dapatkan dari dalam diri sendiri atau bantuan orang lain. Jika kita mampu, kita dapat menyelesaikan masalah tersebut sendirian. Tetapi jika kita tidak mampu, sah-sah saja untuk meminta tolong kepada orang lain.

Saat kebakaran besar terjadi dan api berhasil dipadamkan, biasanya kita masih melihat asap disana. Begitu juga masalah. Saat masalah sudah selesai, biasanya masih ada dampak yang kita rasakan. Misalnya kita kehabisan banyak uang, kita kehilangan teman atau sahabat, kita kehilangan kepercayaan dari orang lain, dan lain-lain. Jangan takut mengenai hal ini, yang harus kita lakukan adalah tersenyum dan berkata pada diri sendiri "saya akan bangkit, saya akan melewati semua ini dan semuanya akan lebih baik dari sebelumnya"


Monday, July 14, 2014

Diejek dan Mengejek / Di-Bully dan Mem-Bully

Menurut rekan-rekan semua, lebih baik kita mengejek atau kita diejek ? Lebih baik kita mem-bully atau kita di-bully ? Saya yakin, rekan-rekan semua, secara idealis, sudah tau jawaban dari pertanyaan diatas. dan jawaban idealisnya adalah lebih baik diejek atau di-bully. Tapi dalam kehidupan, terkadang paham idealis sangat sulit untuk diterapkan. Kita biasanya menggunakan paham realistis yang berkata daripada diejek, lebih baik kita yang mengejek. Daripada ditekan orang, lebih baik kita yang menekan orang. Saya salah satu orang yang, dalam hal ini, lebih memegang paham idealis.


Saya lebih baik diejek, di-bully, atau ditekan daripada saya melakukannya terhadap orang lain. Yang ingin saya garis bawahi adalah, silahkan orang lain mengejek, menekan, ataupun mem-bully saya. Asalkan saya tidak merasa seperti itu, maka tidak ada masalah apapun. Masalah selesai.

Jadi yang terpenting adalah pandangan dan penghargaan kita pada diri kita sendiri. Jika seseorang mengejek kita seperti anjing, misalnya, kita cukup melihat diri kita sendiri apakah benar kita seperti anjing, jika kita tidak menemukan unsur anjing di diri kita (tidak ada ekor, lidah tidak selalu keluar, dll) maka masalah selesai. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan disini.

Jika orang menekan kita dengan berkata, sudah lebih baik menyerah saja, kamu tidak akan bisa melakukan hal itu, kamu tidak akan bisa sukses, kita cukup melihat jauh kedalam diri kita sendiri. Apakah kita yakin akan sukses atau tidak, apakah kita yakin bisa melakukan hal tersebut atau tidak. dan jika kita yakin kita akan bisa melakukan hal tersebut dan sukses, maka sama lagi seperti diatas, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Karena memang tidak ada masalah disana.

Yang kerap menjadi masalah adalah kita terlalu percaya kepada perkataan orang lain daripada kepada diri sendiri. Sehingga saat orang lain mengejek atau menekan kita, kita sering kali percaya dengan perkataan orang tersebut. Hal tersebut membuat kita merasa tidak aman, dan secara naluriah, yang akan kita lakukan saat kita merasa tidak aman adalah menyerang. Terkadang kita menjadi marah, perasaan kita menjadi jelek, atau bahkan kita merendahkan diri kita sendiri.

Pandanglah diri kita sendiri setinggi-tingginya dan biarkan satu orangpun merusak citra diri yang sudah kita bangun. Tidak peduli apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka lakukan, jangan sampai kita terpengaruh.


terinspirasi dari : salah satu buku karangan Ajahn Brahm

Cerita Tentang Makan

Tidak diragukan lagi, setiap orang butuh makan sesuatu untuk bertahan hidup. Orang kaya butuh makan, orang sederhana butuh makan. Orang dewasa butuh makan, anak-anak butuh makan. Siapapun kita, kita butuh makan.  Tapi sayangnya, banyak orang yang tidak menikmati aktivitas makan. Banyak dari kita menganggap makan adalah suatu rutinitas untuk mengisi perut dan mendapatkan energi.

Dengan berdalih ingin menikmati makanan, banyak orang-orang kaya yang pergi ke restoran-restoran mewah dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per porsi makanan yang dimakannya. Tapi, kebanyakan dari orang-orang tersebut ternyata tidak menikmati makanannya (menurut saya). 


Kebanyakan dari kita tidak pernah benar-benar menikmati saat-saat makan. Kita terbiasa ngobrol, membaca, memikirkan pekerjaan, memikirkan kehidupan, memikirkan keluarga, main game, dan lain-lain, saat kita makan. Jarang sekali orang benar-benar "makan" saat waktunya makan. Inilah yang saya maksud dengan tidak menikmati moment makan.

Coba bayangkan, apakah ada orang yang ngobrol atau membaca atau main game saat mereka menonton suatu pertunjukan orkestra besar ? Tentu saja tidak, karena mereka menikmati pertunjukan tersebut.

Saat kita menikmati suatu moment, biasanya kita akan diam dan terhanyut dalam moment tersebut, kita akan benar-benar menikmati moment tersebut. Kita akan mengingat moment tersebut. Nah, begitu juga dengan makan. jika kita menikmati moment makan, saya yakin kita akan diam dan tidak melakukan kegiatan apapun. Pada saat makan, kita hanya makan. Tidak ada kegiatan lain yang kita lakukan. Apapun itu, sekecil apapun itu. Dengan menikmati makan, maka kita akan merasa semakin bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk makan. Kita akan bersyukur untuk makanan yang kita makan, apapun yang kita makan kita akan bersyukur.

Mari menikmati moment makan, jangan sia-siakan moment makan karena moment ini sangat sering kita lakukan. Dengan menikmati moment makan, kita akan semakin bahagia karena diri kita dipenuhi dengan rasa syukur.


terinspirasi dari : salah satu buku karangan Ajahn Brahm

Saturday, July 12, 2014

Bagaimana Cara Menjadi Tong Sampah Bolong dan Tidak Berdasar ? (Bagian 2 - Terakhir)

Oke, saya akan lanjutkan cerita mengenai Tong Sampah Bolong yang sempat saya tulis di postingan sebelumnya (silahkan klik ini).

Cara kedua yang saya pelajari agar tong sampah kita bolong adalah :

2. Selalu Buang Sampah Yang Ada

Tong sampah bolong menggambarkan bahwa tong sampah kita tidak ada isi. Salah satu cara membuat tong sampah kita selalu tidak ada isi atau kosong adalah dengan membuang sampah-sampah yang ada. Ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk membuang sampah-sampah tersebut. dan salah satu cara yang sering saya gunakan adalah melakukan sesuatu yang benar-benar ingin saya lakukan.

Dengan melakukan hal yang benar-benar saya lakukan, kita bisa selalu menjaga perasaan menjadi tetap tenang, nyaman, dan damai. Ada kalanya ketika rasanya tong sampah saya mulai penuh (kepala mulai mumet, banyak pikiran yang lalu lalang di kepala), biasanya saya akan pergi ke mall sendirian. Saya sangat menikmati waktu sendirian saya. Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau jika saya sendirian. Dan setelah saya menghabiskan waktu sendirian, biasanya pikiran saya akan terasa lebih ringan dan nyaman.

Dua cara yang saya jelaskan belum tentu bekerja dengan baik untuk rekan-rekan semua. Jadi silahkan rekan-rekan perdalam lagi pencarian mengenai cara membuat tong sampah rekan-rekan sekalian bolong. Karena akan ada banyak sekali manfaat saat kita bisa membuat tong sampah kita bolong.

Friday, July 11, 2014

Mencari Kebahagiaan

Mencari Kebahagiaan
Alkisah, ada seorang pemuda sedang duduk dengan tatapan kosong mengarah ke hamparan air telaga. Dia sudah berkelana mendatangi berbagai tempat, tapi belum ada yang membahagiakan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara sengau memecah kesunyian.

“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.

Anak muda itu menoleh sambil berkata. ”Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berjalan sejauh ini demi mencari kebahagiaan, tapi perasaan itu tak kunjung kudapatkan. Entahlah, ke mana lagi aku harus mencari…” keluh si anak muda dengan wajah muram.

“Di depan sana ada sebuah taman. Pergilah ke sana dan tangkaplah seekor kupu-kupu. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata si kakek. Meski merasa ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk. Tiba di sana, dia takjub melihat taman yang indah dengan pohon dan bunga yang bermekaran serta kupu-kupu yang beterbangan di sana.

Dari kejauhan di kakek melihat si pemuda mengendap-endap menuju sasarannya. Hap! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap! Lagi-lagi gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rerumputan, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.
Si kakek mendekat dan menghentikan si pemuda. ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari ke sana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?”

Si kakek dengan tegas dan melanjutkan, ”Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisik kupu-kupu itu, biarkan dia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.

Demikian pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri. Apakah kamu mengerti?”

Si pemuda terpana dan tiba-tiba wajahnya tampak senang. ”Terima kasih pak Tua. Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Aku akan pulang dan membawa kebahagiaan ini di hatiku..”

Kakek itu mengangkat tangannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Tetapi sering kali mereka begitu sibuk mencarinya, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidak kemana-mana tetapi justru ada di mana-mana. Kebahagiaan bisa hadir di setiap tempat, di semua rasa, dan tentunya setiap hati yang selalu mensyukuri.


sumber: http://iphincow.com 

Thursday, July 10, 2014

Cantik Yang Sesungguhnya

Lizzie Velasquez, 24, didiagnosa mengidap sindrom langka, neonatal progeroid atau percepatan penuaan dini yang membuat tubuhnya tidak bisa menyimpan lemak. Tidak peduli berapa banyak dia makan, berat badan Lizzie tidak bisa bertambah dan hal tersebut membuatnya malnutrisi. 

Akibatnya, Lizzie tampak begitu kurus. Dia terlihat bagai tulang terbungkus kulit. Lizzie pun kehilangan salah satu penglihatannya. Mata kanannya kini buta. 

Tapi, gadis berusia 24 tahun tersebut tidak putus asa. Dia bahkan menjadi sumber inspirasi tentang arti cantik. 

Sayangnya, perjuangan Lizzie untuk merasa dirinya cantik adalah hal yang sangat berat. Sejak kecil, akibat kondisinya, gadis asal Texas, Amerika Serikat, tersebut sudah menjadi korban bullying. Di sekolah menengah, Lizzie menemukan sebuah video mengenai dirinya diYouTube dengan judul “World’s Ugliest Woman” atau wanita terjelek di dunia. Video itu meraih jutaan penonton. 


Lizzie mengaku sempat depresi. Tapi, justru di titik terendah hidupnya itu, dia memutuskan untuk bangkit dan tidak menyerah kalah akibat ejekan dan cemoohan yang diarahkan terhadapnya. 

Berkat bantuan keluarga serta teman terdekat, Lizzie menemukan kekuatan untuk bangun dan terus berusaha memotivasi dirinya. Dia juga meriset berbagai hal mengenai penyakit yang dia derita dan cara mengatasinya. Dia berbicara dengan banyak dokter dan pakar kesehatan, hingga akhirnya Lizzie bisa menerima dirinya sendiri dan tampil percaya diri apa adanya. 

Lizzie kini merupakan salah satu motivator paling populer di AS. Dia tampil di berbagai konvensi juga acara televisi dan berbicara mengenai definisi sebenarnya dari kata “cantik”. 

“Cantik adalah saat kita bisa menerima diri kita apa adanya. Saat itulah kita bisa melihat diri kita yang paling cantik,” kata Lizzie, seperti dikutip Huffington Post.

Selain itu, Lizzie juga mengingatkan bahwa cantik bukanlah apa yang dilihat di televisi atau media massa lainnya. “Cantik bukanlah standar yang ditetapkan orang lain, seperti kulit harus putih, rambut harus panjang atau tubuh harus langsing. Cantik adalah diri kita sendiri karena kita memutuskan untuk cantik,” ujarnya. 

Hal lain yang ditetapkan Lizzie adalah menjadi bahagia dengan diri sendiri dan apa yang dimiliki. “Pada dasarnya, jika kita bahagia, maka secara otomatis kita akan terlihat jauh lebih menarik,” ucapnya. 

Lizzie pun memberi tips untuk menghadapi para pelaku bully. Dia memandang ejekan dan cemoohan mengenai tubuhnya dengan humor. “Mereka boleh saja mengejek saya, tapi ejekan itu tidak akan membuat saya sedih dan terpuruk karena itu yang mereka inginkan,” kata Lizzie. “Cara untuk membungkam para bully adalah dengan menjadi bahagia,” ujarnya. 

Saturday, July 5, 2014

Sepatu Baru - Kisah Menyentuh Hati

Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja.
Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus
memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya
baru saja membeli sepasang sepatu kulit.

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada ayah
minta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di
bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai montir. “Willie” ayah kelihatannya terkejut.
“Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”
“Setiap orang memakai sepatu sport yah!” “Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut
tidak menjadikan ayah mudah membayar sepatu sport “Gaji ayah kecil dan sering tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. “Ayah, saya tampak seperti bloon
memakai sepatu jenis ini “kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru.
Ayah memandang dalam dalam ke mataku. Kemudian ia menjawab, “Begini saja, Kau
pakai sepatu ini satu hari lagi.Besok, di sekolah, perhatikan semua sepatu dari kawan-
kawanmu. Bila seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa sepatumu paling butut
dibandingkan sepatu kawan kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu dan
membelikanmu sepasang sepatu sports”


Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh keyakinan bahwa hari
itu merupakan hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang ketinggalan jaman ini.
Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya lakukan, namun tidak, saya ceritakan apa
yang saya lihat secara teliti.

Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusat
perhatianku. Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan dalam ingatanku betapa
banyaknya teman teman di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport, bahkan
sepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga dan lain lain bentuk yang sudah mendekati
kepunahan sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai sepatu sport yang gagah, yang senantiasa berdetak
detik penuh gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.

Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampir
yakin bahwa Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang sedang “in” Setiap saya
menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai sepatu sport
idaman saya. Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya denting-denting
metal dari kolong sebuah chevy tua buatan tahun 1956. Udara berbau oli, namun pada
hemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang langganan sedang menunggu ayah
yang sedang bergulat di kolong chevy tua itu. “Pak Alva” tanya saya kepada langganan
yang sedang menunggu, “masih lamakah?” “Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Ia
sedang membongkar persneling, namun bila ia mendapatkan adanya bagian lain yang
tidak beres, ia akan menyelesaikannya juga.”

Saya bersandar pada mobil abu abu itu. Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kaki
ayah yang menjulur keluar dari kolong mobil. Sambil menjentik jentik lampu belakang
chevy, secara tidak sadar saya menatap kepada kaki ayah. Celana kerjanya berwarna biru

tua, kusam dan lengket terkena oli, lusuh pula. Sepatunya, berwarna putih tua…. ah
….bukan hitam muda……, dan sungguh sungguh butut, sebagaimana mestinya sepatu
seorang montir.

Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulit
tipis, yang dahulu bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples menggigit kedua belah kulit
kencang kencang, mencegah jempol kakinya mengintip keluar. Tali sepatunya beriap
riap, dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut
kaus katun. “Sudah pulang nak? “ayah keluar dari kolong mobil. “Yes sir” kataku. „Kau
lakukan apa yang kuperintahkan hari ini?” “Yes sir” “Nah, apa jawabmu ?” la
memandangku, seolah olah tahu apa yang akan saya ucapkan. “Saya tetap ingin sepatu
sport “Saya berkata tegas, dan berusaha setengah mati untuk tidak memandang kepada
sepatu ayah. “Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu….. “Mengapa tidak
pergi dan membelinya sekarang?” lalu ayah mengeluarkan selembar $ 10. dan
memancing uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar 3% pajak penjualannya.
Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat pertokoan, dua blok dari bengkel
di mana ayah bekerja.

Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat apakah sepatu sportku masih
dipajang disana. Ternyata masih! $9.95. Namun uang saya tidak akan cukup bila saya
harus membeli paku paku yang akan dipakukan pada solnya dan menimbulkan suara klak
klik yang gagah.

Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan dana dari mama, sebab tidak mungkin
kembali kepada ayah dan minta kekurangannya.

Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya tampak membayang melintasi kedua
mataku. Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang camping, paku paku yang
telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menjepit kertas.
Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musim
dingin yang menggigit, sepatu yang sama dipakainya melintasi jalan jalan yang dingin,
menuju kepada mobil mobil yang mogok. Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terpikir
olehku, betapa banyaknya benda benda yang seharusnya dibutuhkan ayah, namun tidak
dimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dan
kementerengan sepatu sport yang ada di balik kaca etelase di hadapanku mulai memudar.

Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bila
ayahku bersikap seperti saya bersikap. Saya masuk ke dalam toko sepatu itu. Sebuah rak
besar terpampang megah, penuh berisikan sepatu sport yang sungguh keren. Di
sampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan “obral besar. 50%
discount”. Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu semodel sepatu ayah, beberapa
generasi lebih muda, tentunya.

Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu ayah yang butut. Dan sekarang sepatu
baru. Pikiran tentang: menjadi “in” dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dan
kemudian pikiran tentang ayah,…. telah mengalahkannya.

Saya mengambil sepatu ukuran 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan ke
arah meja kasir, ditambah pajak, jadilah
bilangan $ 6.13.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu baru ayah di atas kursi di mobilnya.
Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan uang kembalian yang masih tersisa. “Saya
pikir harganya $ 9.95 kata ayah. “Obral” kataku pendek. Saya mengambil sapu, dan
mulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwa
bengkel harus ditutup dan kami harus pulang.

Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk ke dalam mobilnya. Ketika ia
membuka kotak itu, ia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia
memandang kepada sepatu itu lama-lama, kemudian kepadaku. “Saya pikir kau membeli
sepatu sport”, katanya pelan.

“Sebetulnya ayah, … tapi …. Saya tak sanggup meneruskannya. Bagaimana saya harus
menjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan bila saya tumbuh
menjadi dewasa, saya sungguh ingin menjadi seperti orang baik ini, yang Tuhan berikan
kepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling memandang untuk waktu
sesaat. Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah menstarter mobil, dan kami
pulang.

Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan
bertanggung jawab


Friday, July 4, 2014

Dimanakah Letak Kebahagiaan ?



Menurut Anda dimana letak kebahagiaan itu???

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.Lewatlah sebuah motor di depan mereka.Berkatalah petani ini pada istrinya:"Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naikmotor itu,meskipun mereka juga kehujanan,tapi mereka bisa cepat sampai di rumah.Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah.

"Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedangberboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick uplewat di depan mereka.Pengendara motor itu berkata kepada istrinya:"Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu.Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.

"Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka:"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok.

"Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuranair hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya:"Betapa bahagianya suami istri itu.Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini.Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.

"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.

Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.

Wednesday, July 2, 2014

Mantel Kuning

Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya, mengingatkan pada masa-masa yang
telah lalu. Begitu pula hari ini. Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. 
Kuning, itu warna yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, 
dan mereka tampak gagah dengan mantel itu. Untuk anak kelas 2 SD, semua yang
berwarna cerah, akan selalu tampak indah. Namun sayang, Ibu tak punya cukup uang
untuk membelinya. Walau sempat kecewa, saya harus menurut, dan menahan keinginan 
untuk mempunyai mantel kuning itu. 

Walau begitu, saya tetap kesal. Dan rasa itu memuncak ketika saya harus pulang dari 
sekolah. Hari itu hujan begitu deras. Saya makin kecewa dengan Ibu. Sebab, jika ada 
mantel, tentu saya tak perlu kena hujan, dan bisa bergabung bersama teman-teman yang
lain. Kesal, dan marah, begitulah yangsaya rasakan saat itu. Sementara yang lain tertawa 
dan menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh yang basah kuyup. 

Ah..di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Ibu. Dia tampak membawakan payung
untuk saya. Karena terlanjur marah, saya tak menerima payung itu, dan ngambek, untuk
tetap pulang tanpa payung. Walau begitu, ia tampak ingin melindungi saya dengan 
payungnya. Mendekap, agar saya tak terlalu basah terkena hujan. Hujan makin deras, dan 
kami pun berjalan pulang, walau saya tetap ngambek dan menolak untuk di payungi. 
Sesampainya di rumah, tingkah itu terus saya perbuat. Saya tetap menolak untuk berganti 
pakaian. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, hal itu saya selesaikan. Ibu, kemudian datang
dengan handuk, dan langsung menyelubungi saya dengan handuk itu. Ada kehangatan 
yang segera menyergap. Saya menjadi lebih tenang. Tetap, tak ada kata-kata yang keluar 
dari Ibu, selain terus menghangatkan saya dengan handuk itu. Tangannya terus 
membersihkan setiap air hujan yang ada di badan. Diseka nya kepala saya, agar tak nanti 
tak membuat sakit. Masih dalam diam, Ibu kemudian memberikan pakaian ganti. Setelah 
itu, dia masih menyodorkan teh manis hangat buat saya. Ya, segelas teh manis, sebab, 
susu coklat, adalah hal yang jarang saya rasakan saat itu. Ya, kehangatan kembali hadir 
dalam tubuh. Walau saya mungkin tak mengerti apapun, saya yakin, ada kehangatan lain 
yang diberikan Ibu saat itu. 

Ya, teman, begitulah. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning seperti 
yang saya impikan. Namun, payungnya telah membuat saya aman. Ibu mungkin tak
mampu membelikan saya mantel kuning untuk terhindar dari hujan, namun, dekapannya 
membuat saya terhindar dari apapun. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel 
kuning itu, namun, handuk hangatnya melebihi setiap kehangatan yang mampu diberikan 
setiap mantel. Ibu mungkin tak mampu membelikan mantel kuning, namun, usapan 
lembutnya, adalah segalanya buat saya. 

Ibu mungkin tak menjemput saya dengan mobil atau kendaraan lain, namun lingkaran 
tangannya di tubuh saya, adalah dekapan yang paling indah. Ibu mungkin tak bisa 
memberikan susu coklat, namun, teh manisnya, lebih berharga dari apapun. Ibu mungkin
tak bisa memberikan saya banyak hal lain, namun, dekapan, usapan, uluran tangan, 
perhatian, kasih sayang, sudah cukup sebagai penggantinya. 

Ya, rintik hujan selalu membuat saya terharu. Terima kasih buat Ibu yang tak
membelikan saya mantel kuning. Karena, apa yang telah diberikannya selama ini, jauh 
melampaui semuanya.

Tuesday, July 1, 2014

Burung Camar

Alkisah tentang seekor burung camar yang bernama „Jonathan‟. Burung camar hidup
dalam koloni yang besar di bebatuan karang di samudra. Dalam kehidupan koloni camar 
terdapat suatu rutinitas yang berjalan secara terus menerus setiap hari dari pagi hingga 
petang. Mereka setiap hari terbang rendah mengikuti buritan kapal nelayan dan mulai 
berebut ikan-ikan kecil atau remah-remah roti sisa para nelayan. Begitulah rutinitas yang
dilakukan oleh koloni burung camar. 

Dalam rutinitas itu, si Jonathan mulai berpikir adakah cara lain untuk mendapatkan 
makanan selain harus terbang rendah dan berebut setiap hari?. Jonathan mulai merasa 
jenuh dan ia mulai tidak mau ikut kawanan camar terbang rendah dan berebut makanan. 
Ia hanya berdiri diatas bebatuan sambil termenung. Ketika suatu hari ia melihat sebuah 
bayangan di depannya, iapun mendongakkan kepalanya dan melihat diatas langit yang
tinggi seekor elang tengah terbang dengan gagah serta kecepatan yang tinggi. Jonathan 
pun mulai bertanya-tanya dalam hati, „Bisa nggak ya…saya seekor burung camar terbang
tinggi serta cepat seperti seekor burung elang?‟ 

Pertanyaan ini terus merasuk ke dalam pikiran Jonathan. Kemudian ia mulai belajar 
terbang tinggi sementara kawanan camar yang lain tetap menjalankan rutinitasnya. Setiap
hari ia belajar terbang tinggi dan kecepatan. Ia terus belajar terbang dari pagi dan baru
pulang pada petang hari. Sementara ia tidak memperdulikan kondisi tubuhnya yang
semakin kurus karena tidak makan selama beberapa hari. Melihat kondisi Jonathan, ayah 
dan ibunya merasa kasihan dan menegur Jonathan, ” Nak, lihat tubuhmu yang kurus dan 
lemah, untuk apa kamu belajar terbang seperti elang, ingatlah nak bahwa kamu ini burung
camar yang hanya bisa terbang rendah…besok kamu harus ikut bersama-sama untuk
berebut makanan, pikirkan baik-baik Jonathan!” Sepanjang malam Jonathan tidak bisa 
tidur karena memikirkan kata-kata orang tuanya. 

Keesokan harinya Jonathan memutuskan untuk menuruti saran orang tuanya dan mulai 
pergi bersama kawanan burung camar untuk berebut ikan-ikan kecil dan remah-remah 
roti sisa para nelayan serta pulang pada petang harinya. Selama seminggu penuh ia 
menjalankan rutinitas sebagai burung camar, dan pada suatu pagi Jonathan teringat 
kembali tentang burung elang. Jonathan hari itu kembali belajar terbang tinggi dan 
kecepatan seperti elang. Jonathan terus berlatih dan berlatih selama sebulan penuh dan 
pada saat ini ia telah mampu terbang tinggi dengan kecepatan seperti burung elang. 

Pada suatu pagi tidak seperti biasa semua kawanan burung camar tidak pergi ke laut 
mencari ikan-ikan kecil. Mereka berkumpul dan membentuk lingkaran. Jonathan bingung
melihat situasi tersebut, kemudian sang Tetua maju ke tengah lingkaran dan berkata, 
“Wahai warga burung camar semua, hari ini kita berkumpul bersama untuk menyaksikan 
dan melakukan pengadilan terhadap pelanggaran Norma dan Etika nenek moyang kita 
sebagai burung camar….(sang Tetua terdiam sejenak dan semua kawanan hening)….. 
Jonathan!… … Kamu maju ketengah lingkaran!.. …” pekik sang Tetua. 
Jonathan sangat kaget dan kebingungan, kemudian sang Tetua berkata kembali, “Kamu
telah terbukti melanggar Norma dan Etika serta menyimpang dari kodrat kamu sebagai 
burung Camar!” Jonathan bertanya, “Apa salahku wahai Tetua?” …… “Apa salahmu?…. 
Kamu telah membuat malu bangsa burung camar, kamu tidak mau mengikuti cara burung
camar yaitu terbang rendah dan berebut makanan setiap hari…..bahkan lebih memalukan 

lagi bahwa kamu mencoba belajar terbang seperti burung elang!” pekik sang Tetua. 
Kemudian si Jonathan berkata,” Apakah salah jika saya bisa terbang tinggi seperti burung
elang dan terbang malam seperti burung hantu sehingga untuk memperoleh makanan saya 
tidak perlu berebut dengan teman-teman, saudara bahkan orang tuaku sendiri?, tidakkah 
itu lebih baik?” Suasana menjadi tegang dan terdengar teriakan “huuuuuuuu, buang saja 
dia, usir dari kawanan, mencemarkan nama baik burung camar…. memalukan… .. usir…
usir… usir!” 
Sang Tetua pun berkata, ” Baiklah Jonathan, kalau kamu tetap memilih cara kamu dan 
tidak mau mengikuti Norma dan Etika kita sebagai burung camar maka kamu harus 
keluar dari sini….Pengawal, bawa si Jonathan ke tempat pembuangan!! !!!!!!” 

Si Jonathan terlihat sedih dan ia memeluk ayah ibunya, mengucapkan selamat tinggal. Di 
tempat pengasingan ia terus mengasah keterampilannya terbang tinggi dengan kecepatan. 
Dan ternyata ia tidak sendiri, ia bertemu dengan beberapa ekor burung camar yang
memiliki tujuan yang sama dengannya. Dengan terbang tinggi seperti elang ternyata ia 
menemukan berbagai jenis makanan seperti di padang rumput ia menemukan belalang, 
capung, ulat yang lezat untuk disantap. Dengan terbang malam seperti burung hantu ia 
bisa menikmati ikan-ikan kecil tanpa harus berebut dengan sesama burung camar. 
Jonathan sangat bahagia karena ia bisa makan apa yang burung camar lain tidak bisa 
makan karena mereka hanya bisa terbang rendah. 

perubahan untuk kearah yang lebih baik memang susah dilakukan,banyak
tantangan,banyak hujatan,makian serta rasa pesimistis bagi mereka yang iri,dan mereka 
yang terpaku pada sistem atau aturan yang itu-itu saja,maka dibutuhkan sikap seperti 
jonathan untuk bisa merubah bangsa ini dari keterpurukan.

Ibu, I miss you so much

Maafkan salahku, Ibu…. 

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang 
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita 
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat 
balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi 
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa 
keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman 
pribadi yang terjadi pada 2003. 

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah 
sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu 
mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. 
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah 
terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang 
tersambung ke sebuah layar monitor. 

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. 
Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. 

Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap 
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta 
izin saya” 

Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” 

“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. 

Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali 
suntik.” 

“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?” 

Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil.” 

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga 
puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. 
Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali 
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada 
Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” 

“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta 
bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa 
kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat 
karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba 
satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti 
obatnya, Ppak.” jawab dokter. 


Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat 
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya 
Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- 
Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan 
Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah 
aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan 
apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit 
isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan 
pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha 
Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. 
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada 
Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan 
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.” 

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan 
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam 
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya 
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri 
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan. 

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata 
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku 
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh 
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku 
bahwa sayalah yang mengambil uang itu. 

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan 
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya 
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah 
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan 
mengambil uang yang ia miliki itu.” 

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana 
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan 
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu 
saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus 
dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?” 

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, 
duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega- 
teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. 
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata 
mengalir di pipi. 

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang 
itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat 
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama 
ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik 
telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku 

cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata 
yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin 
dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa 
ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan 
memohon doa darinya. 

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan 
sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat 
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu 
telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan 
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya 
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya 
berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan 
dokter.” 

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri 
sendiri “Ibu, I miss you so much

Mana Ciuman Untukku?

Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam 
seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama 
kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas 
rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada 
satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya. 

Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk
pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat 
tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua. 

“Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie. 

“Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie. 

Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman 
apappun padanya.. 

Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring
sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu .. 

Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya. 

“Kau senang di rumah Debbie?” tanya ibunya. 

“Rumah ini sepi sekali tanpa kau,” kata ayahnya. 

Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya. 
Kenapa mereka tak pernah menciumnya? 
Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ? 
Apa mereka tidak menyayanginya? 
Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie. 

Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya. 
Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie. 
Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya. 

“Selamat malam,”katanya. 

Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh. 

“Selamat malam,” sahut ayahnya. 

Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum. 

“Selamat malam, Cindy.” 

Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi. 

“Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya. 

Ibunya tampak bingung. 

“Yah,” katanya terbata-bata, 

“sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih
kecil. Itu saja.” 

Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia 
memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia 
tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia 
mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak
berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal 
bersama orangtua Debbie. 

Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak
menyenangkan. 

Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya 
bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy 
tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku. 

Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat 
gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk
kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya 
sedang duduk dengan ekspresi cemas. 

Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,” Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”. 

Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, 
sambil berkata,”Aku sayang padamu,Bu.” 

Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara. 

Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Selamat malam, 
Yah. Aku sayang padamu,” 

Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur. 

Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan 
ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya. 

“Hai, Bu,”katanya. 

“Aku sayang padamu.” 

Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-
kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang

mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy 
tidak putus asa. 

Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia 
lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan 
ibunya masuk. 

“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya, pura-pura marah. 

Cindy duduk tegak. 

“Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya. 

“Aku sayang padalmu, Bu.” Kemudian ia berbaring lagi. 

“Selamat malam,”katanya, lalu memejamkan mata. 

Tapi ibunya tidak segera keluar. 

Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.” 

Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy. 

“Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy 
tertawa. 

“Baiklah,”katanya. 

Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak
sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil 
bayinya menjadi merah. 

Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, “Mana ciuman 
untukku?” 

Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu. 

Kau tahu itu, bukan?” 

“Ya,Bu,” kata Cindy. 

“Sejak dulu aku sudah tahu.”