Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, July 10, 2014

Cantik Yang Sesungguhnya

Lizzie Velasquez, 24, didiagnosa mengidap sindrom langka, neonatal progeroid atau percepatan penuaan dini yang membuat tubuhnya tidak bisa menyimpan lemak. Tidak peduli berapa banyak dia makan, berat badan Lizzie tidak bisa bertambah dan hal tersebut membuatnya malnutrisi. 

Akibatnya, Lizzie tampak begitu kurus. Dia terlihat bagai tulang terbungkus kulit. Lizzie pun kehilangan salah satu penglihatannya. Mata kanannya kini buta. 

Tapi, gadis berusia 24 tahun tersebut tidak putus asa. Dia bahkan menjadi sumber inspirasi tentang arti cantik. 

Sayangnya, perjuangan Lizzie untuk merasa dirinya cantik adalah hal yang sangat berat. Sejak kecil, akibat kondisinya, gadis asal Texas, Amerika Serikat, tersebut sudah menjadi korban bullying. Di sekolah menengah, Lizzie menemukan sebuah video mengenai dirinya diYouTube dengan judul “World’s Ugliest Woman” atau wanita terjelek di dunia. Video itu meraih jutaan penonton. 


Lizzie mengaku sempat depresi. Tapi, justru di titik terendah hidupnya itu, dia memutuskan untuk bangkit dan tidak menyerah kalah akibat ejekan dan cemoohan yang diarahkan terhadapnya. 

Berkat bantuan keluarga serta teman terdekat, Lizzie menemukan kekuatan untuk bangun dan terus berusaha memotivasi dirinya. Dia juga meriset berbagai hal mengenai penyakit yang dia derita dan cara mengatasinya. Dia berbicara dengan banyak dokter dan pakar kesehatan, hingga akhirnya Lizzie bisa menerima dirinya sendiri dan tampil percaya diri apa adanya. 

Lizzie kini merupakan salah satu motivator paling populer di AS. Dia tampil di berbagai konvensi juga acara televisi dan berbicara mengenai definisi sebenarnya dari kata “cantik”. 

“Cantik adalah saat kita bisa menerima diri kita apa adanya. Saat itulah kita bisa melihat diri kita yang paling cantik,” kata Lizzie, seperti dikutip Huffington Post.

Selain itu, Lizzie juga mengingatkan bahwa cantik bukanlah apa yang dilihat di televisi atau media massa lainnya. “Cantik bukanlah standar yang ditetapkan orang lain, seperti kulit harus putih, rambut harus panjang atau tubuh harus langsing. Cantik adalah diri kita sendiri karena kita memutuskan untuk cantik,” ujarnya. 

Hal lain yang ditetapkan Lizzie adalah menjadi bahagia dengan diri sendiri dan apa yang dimiliki. “Pada dasarnya, jika kita bahagia, maka secara otomatis kita akan terlihat jauh lebih menarik,” ucapnya. 

Lizzie pun memberi tips untuk menghadapi para pelaku bully. Dia memandang ejekan dan cemoohan mengenai tubuhnya dengan humor. “Mereka boleh saja mengejek saya, tapi ejekan itu tidak akan membuat saya sedih dan terpuruk karena itu yang mereka inginkan,” kata Lizzie. “Cara untuk membungkam para bully adalah dengan menjadi bahagia,” ujarnya. 

Friday, July 4, 2014

Dimanakah Letak Kebahagiaan ?



Menurut Anda dimana letak kebahagiaan itu???

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.Lewatlah sebuah motor di depan mereka.Berkatalah petani ini pada istrinya:"Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naikmotor itu,meskipun mereka juga kehujanan,tapi mereka bisa cepat sampai di rumah.Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah.

"Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedangberboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick uplewat di depan mereka.Pengendara motor itu berkata kepada istrinya:"Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu.Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.

"Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka:"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok.

"Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuranair hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya:"Betapa bahagianya suami istri itu.Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini.Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.

"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.

Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.

Tuesday, July 1, 2014

Mana Ciuman Untukku?

Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam 
seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama 
kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas 
rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada 
satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya. 

Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk
pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat 
tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua. 

“Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie. 

“Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie. 

Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman 
apappun padanya.. 

Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring
sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu .. 

Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya. 

“Kau senang di rumah Debbie?” tanya ibunya. 

“Rumah ini sepi sekali tanpa kau,” kata ayahnya. 

Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya. 
Kenapa mereka tak pernah menciumnya? 
Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ? 
Apa mereka tidak menyayanginya? 
Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie. 

Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya. 
Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie. 
Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya. 

“Selamat malam,”katanya. 

Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh. 

“Selamat malam,” sahut ayahnya. 

Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum. 

“Selamat malam, Cindy.” 

Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi. 

“Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya. 

Ibunya tampak bingung. 

“Yah,” katanya terbata-bata, 

“sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih
kecil. Itu saja.” 

Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia 
memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia 
tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia 
mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak
berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal 
bersama orangtua Debbie. 

Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak
menyenangkan. 

Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya 
bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy 
tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku. 

Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat 
gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk
kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya 
sedang duduk dengan ekspresi cemas. 

Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,” Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”. 

Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, 
sambil berkata,”Aku sayang padamu,Bu.” 

Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara. 

Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Selamat malam, 
Yah. Aku sayang padamu,” 

Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur. 

Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan 
ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya. 

“Hai, Bu,”katanya. 

“Aku sayang padamu.” 

Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-
kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang

mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy 
tidak putus asa. 

Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia 
lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan 
ibunya masuk. 

“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya, pura-pura marah. 

Cindy duduk tegak. 

“Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya. 

“Aku sayang padalmu, Bu.” Kemudian ia berbaring lagi. 

“Selamat malam,”katanya, lalu memejamkan mata. 

Tapi ibunya tidak segera keluar. 

Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.” 

Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy. 

“Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy 
tertawa. 

“Baiklah,”katanya. 

Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak
sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil 
bayinya menjadi merah. 

Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, “Mana ciuman 
untukku?” 

Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu. 

Kau tahu itu, bukan?” 

“Ya,Bu,” kata Cindy. 

“Sejak dulu aku sudah tahu.”

Kisah Anak Laki-Laki

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang
bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya 
yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan 
tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan 
semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak. 

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih 
hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti 
cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada 
musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, 
suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil 
yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan 
paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. 

“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat 
mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil 
tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat 
Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang
saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-
lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang
ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya”. 

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal 
bersamanya. Bersama-sama,mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi 
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap
optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi 
seorang ayah bagi Luke. 

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain 
beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”, 
panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting
bagiku. Aku mohon ?” 

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar 
pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan 
mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang
kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa 
hari ini. 

“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. 
“Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu”. Hati Luke bergetar 
saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia 
berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola 
yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. 

Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain
sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. 
“Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “Aku tidak pernah 
melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?” 

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata 
kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, 
ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. 
Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu
lalu,……Ibuku meninggal”. Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air 
matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,….hari ini adalah 
pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk
bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan 
mereka…….Luke kembali menangis terisak-isak. 

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan 
Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat 
baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak
mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan 
sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak….. 

Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar 
banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang
terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi 
selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang
pelatih yang sudah berumur 40an tahun itu sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya 
masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, 
membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia 
menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya…

Pemancing Yang Hebat

Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang pemancing yang sama-sama 
hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah 
kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah 
danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan 
10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail 
mereka. 

Ke sepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua 
pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing
berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang
senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu. 

Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan 
tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-
masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika 
masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah 
ikantangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu
memberikan apapun. 

Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik
memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing diantara pemancing itu
mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan. 
Disamping mendapatkan `bonus‟ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si 
B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi 
ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B. 

Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila 
diamalkan. 
“Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil 
selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone. 
Karena tindakan tersebut disamping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan, 
kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial, 
dan lain sebagainya. 
“Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan 
tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat. 

Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, 
melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan 
lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to
somebody. Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson. 
Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan 
sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.

Kisah Beruang

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dgn sabar ditepi
sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.

Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air.
Namun,tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-kali
mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.

Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap
pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.” “Mengapa ? ” tanya
beruang.

“Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat
celah-celah gigimu,” rintih sang ikan. ”

Lalu kenapa?” tanya beruang lagi. “Begini saja,tolong kembalikan aku ke
sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di
saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu.”
kata ikan. “Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya
beruang “Mengapa,” ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.

“Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang
telah tergenggam di tangan !” jawab beruang sambil tersenyum mantap. “Ops !”
teriak sang ikan.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kitatidak
mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang
Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya
akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita
harus berucap :”Ohhhh… andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu
dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan
dalam hidup kita.

Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;….
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ….

Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ….
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali
yang terbaik untuk hidup kita….

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang
besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi
kesempatan yang besar

Perangkap Tikus

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??” 

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….” 

Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus” 

Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku” 

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. 

Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku
lakukan” 

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali” 

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sng ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku” 

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan 
menghadapi bahaya sendiri. 

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan. 

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. 

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. 

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. 

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. 

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus
menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. 

Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi. 

apabila suatu hari, ketika anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan anda, pikirkan lagi.

Monday, June 30, 2014

Semuanya adalah Anugerah


Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. 

Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. 

Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor. Melakukan apa ? tanya Ralph. 
Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor. 


Oh, kata Ralph, selama perang …..Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal. Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. 

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya ……. 

Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, 

sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya. 

Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. 

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain. 

Nilai manusia ……. 
tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. 

Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan. 

Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT 
……. 

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. 
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..

Sunday, June 29, 2014

Cinta Sejati


Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk. 

Lalu aku baca tahun “1924″. Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, “Sayangku Michael”, yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah. 

etapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. “Operator,” kataku pada bagian peneragan, “Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?” 

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, “Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda.” Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku
menunggu beberapa menit. 

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, “Ada orang yang ingin berbicara dengan anda.” Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, “Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!” “Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?” tanyaku. “Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu,” kata wanita itu. “Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada.” Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. 

“Semua ini tampaknya konyol,” kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat 

Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, “Ya, Hannah memang tinggal bersama kami.” Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. “Ok,” kata pria itu agak bersungut-sungut, “bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah.” 

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop
surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael.” Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, “Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu.” “Ya,” lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. “Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,…….” 

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ……katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda,” katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, “aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael.” Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, “Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?” Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, “Aku hanya mendapatkan nama belakang
pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini.” Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, “Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini.” 

“Siapakah Pak Goldstein itu?” tanyaku. Tanganku mulai gemetar. “Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar.” Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, “Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan.” Kami menuju ke 
satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, “Oh ya, dompetku hilang!” Perawat itu berkata, “Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?” Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, “Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi 
sore. Aku akan memberimu hadiah.” “Ah tak usah,” kataku. “Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini.” 

Senyumnya langsung menghilang. “Kamu membaca surat ini?” “Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang.” Wajahnya tiba-tiba pucat. “Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku,” ia memohon. “Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya,” kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, “Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok.” Ia menggenggam tanganku, “Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat 
surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu
mencintainya.” 

“Michael,” kataku, “Ayo ikuti aku.” Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan. 

“Hannah,” kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. “Apakah anda tahu pria ini?” Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, “Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?” Hannah gemetar, “Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!” Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. “Lihatlah,” kataku. “Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah.” 

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. “Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!” Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. 

Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun

Saturday, June 28, 2014

Batu dan Mutiara


Pada suatu ketika, hiduplah seorang pedagang batu-batuan. Setiap hari dia berjalan dari kota ke kota untuk memperdagangkan barang-barangnya itu. Ketika dia sedang berjalan menuju ke suatu kota, ada suatu batu kecil di pinggir jalan yang menarik hatinya. Batu itu tidak bagus, kasar, dan tidak mungkin untuk dijual. Namun pedagang itu memungutnya dan menyimpannya dalam sebuah kantong, dan kemudian pedagang itu meneruskan perjalanannya. 

Setelah lama berjalan, lelahlah pedagang itu, kemudian dia beristirahat sejenak. Selama dia beristirahat, dia membuka kembali bungkusan yang berisi batu itu. Diperhatikannya batu itu dengan seksama, kemudian batu itu digosoknya dengan hati-hati batu itu. Karena kesabaran pedagang itu, batu yang semula buruk itu, sekarang terlihat indah dan mengkilap. Puaslah hati pedagang itu, kemudian dia meneruskan perjalanannya. 

Selama dia berjalan lagi, tiba-tiba dia melihat ada yang berkilau-kilauan di pinggir jalan. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah sebuah mutiara yang indah. Alangkah senangnya hati pedagang tersebut, mutiara itu diambil dan disimpannya tetapi dalam kantong yang berbeda dengan kantong tempat batu tadi. Kemudian dia meneruskan perjalanannya kembali. 



Adapun si batu kecil itu merasa bahwa pedagang itu begitu memperhatikan dirinya, dan dia merasa begitu bahagia. Namun pada suatu saat mengeluhlah batu kecil itu kepada dirinya sendiri. “Tuan begitu baik padaku, setiap hari aku digosoknya walaupun aku ini hanya sebuah batu yang jelek, namun aku merasa kesepian. Aku tidak mempunyai teman seorangpun, seandainya saja Tuan memberikan kepadaku seorang teman”. Rupanya keluhan batu kecil yang malang ini didengar oleh pedagang itu. Dia merasa kasihan dan kemudian dia berkata kepada batu kecil itu “Wahai batu kecil, aku mendengar keluh kesahmu, baiklah aku akan memberikan kepadamu sesuai dengan yang engkau minta”. 
Setelah itu kemudian pedagang tersebut memindahkan mutiara indah yang ditemukannya di pinggir jalan itu ke dalam kantong tempat batu kecil itu berada. 

Dapat dibayangkan betapa senangnya hati batu kecil itu mendapat teman mutiara yang indah itu. Sungguh betapa tidak disangkanya, bahwa pedagang itu akan memberikan miliknya yang terbaik kepadanya. Waktu terus berjalan dan si batu dan mutiara pun berteman dengan akrab. Setiap kali pedagang itu beristirahat, dia selalu menggosok kembali batu dan mutiara itu. Namun pada suatu ketika, setelah selesai menggosok keduanya, tiba-tiba saja pedagang itu memisahkan batu kecil dan mutiara itu. Mutiara itu ditempatkannya kembali di dalam kantongnya semula, dan batu kecil itu tetap di dalam kantongnya sendiri. Maka sedihlah hati batu kecil itu. Tiap-tiap hari dia menangis, dan memohon kepada pedagang itu agar mengembalikan mutiara itu bersama dengan dia. Namun seolah-olah pedagang itu tidak mendengarkan dia. 

Maka putus asalah batu kecil itu, dan di tengah-tengah keputusasaannya itu, berteriaklah dia kepada pedagang itu “Oh tuanku, mengapa engkau berbuat demikian ? Mengapa engkau mengecewakan aku ?” 

Rupanya keluh kesah ini didengar oleh pedagang batu tersebut. Kemudian dia berkata kepada batu kecil itu “Wahai batu kecil, kamu telah kupungut dari pinggir jalan. Engkau

yang semula buruk kini telah menjadi indah. Mengapa engkau mengeluh ? Mengapa engkau berkeluh kesah ? Mengapa hatimu berduka saat aku mengambil mutiara itu daripadamu ? Bukankah mutiara itu miliku, dan aku bebas mengambilnya setiap saat menurut kehendakku ? Engkau telah kupungut dari jalan, engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Ketahuilah bahwa bagiku, engkau sama berharganya seperti mutiara itu, engkau telah kupungut dan engkau kini telah menjadi milikku juga. Biarlah aku bebas 
menggunakanmu sekehendak hatiku. Aku tidak akan pernah membuangmu kembali”. 

Mengertikah apakah maksud cerita di atas ? Yang dimaksud dengan batu kecil itu adalah kita-kita semua, sedangkan pedagang itu adalah Tuhan sendiri. Kita semua ini buruk dan hina di hadapanNya, namun karena kasihnya itu Dia memoles kita, sehingga kita dijadikannya indah di hadapanNya. Sedangkan yang dimaksud dengan mutiara itu adalah berkat Tuhan bagi kita semua. Siapa yang tidak senang menerima berkat ? Berkat itu dapat berupa apa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin berupa kegembiraan, kesehatan, orangtua, saudara dan sahabat, dan banyak lagi. Apakah kita pernah bersyukur, setiap kali kita mendapat berkat itu ? Dan apakah kita tetap bersyukur, jika seandainya Tuhan mengambil semuanya itu dari kita ? Bukankah semua itu milikNya dan Ia bebas mengambilnya kembali kapanpun Ia mau ? Bersyukurlah selalu kepadaNya, karena Dia tidak akan pernah mengecewakan kita semu

Cintai Pekerjaan Anda

Seorang sopir taxi telah mengajarkan pada saya bagaimana memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan. Sebuah pelajaran berharga satu juta Dollar. Mungkin anda harus mengeluarkan ribuan Dollar untuk membayar seorang pembicara profesional dalam sebuah seminar atau pelatihan motivasi bagi karyawan perusahaan. Tapi kali ini saya hanya cukup mengeluarkan ongkos taxi seharga 12 Dollar saja. 

Ceritanya begini: Suatu hari saya terbang ke Dallas untuk menemui seorang klien. Waktu itu sangat sempit, karena saya harus segera kembali ke airport. 

Saya menyetop sebuah taxi. Begitu tiba, dengan segera sopir taxi membuka pintu mobil untuk saya, dan memastikan bahwa saya telah duduk dengan nyaman di dalamnya. 

Begitu ia duduk di belakang kemudi, ia menunjuk sebuah koran Wall Street Journal yang terlipat rapi di samping saya untuk dibaca. Lalu ia menawarkan beberapa kaset, dan menanyakan jenis musik apa yang saya sukai. “Wow,” saya cukup terperanjat dengan pelayanan yang diberikannya. Saya menoleh ke sekeliling. Jangan-jangan ada program “Candid Camera” yang ingin menjebak dan mengolok-olok saya. Dengan penuh penasaran saya memberanikan bertanya pada sopir taxi itu, “Wah, kelihatannya anda sangat senang sekali dengan pekerjaan anda ini. Tentu anda punya cerita yang panjang mengenai pekerjaan anda ini” 



“Anda salah,” jawabnya, “Dulu saya bekerja di Corporate America. Tetapi saya merasa lelah karena berapa pun kerasnya usaha untuk menjadi yang terbaik dalam perusahaan itu, ternyata tidak pernah memuaskan hati saya. Kemudian saya memutuskan untuk menemukan sebuah ceruk dalam kehidupan saya dimana saya bisa merasa bangga dan puas karena mampu menjadi diri saya yang terbaik.” 

“Saya tahu,” lanjutnya, “Saya takkan pernah bisa menjadi seorang ilmuwan roket, tetapi saya suka sekali mengendarai mobil dan memberikan pelayanan pada orang lain. Saya ingin merasa bahwa saya telah melakukan pekerjaan yang terbaik setiap harinya. Lalu, saya merenungi apa yang jadi kelebihan diri saya, dan wham.. saya menjadi seorang sopir taxi.” 

“Satu hal yang saya yakini, supaya saya meraih keberhasilan dalam usaha saya ini, saya hanya perlu memenuhi kebutuhan penumpang saya. Tetapi agar bisnis saya ini menjadi luar biasa, saya harus melebihi harapan penumpang saya. Tentu saja saya ingin meraih hasil yang luar biasa, ketimbang yang biasa-biasa saja.” 

Waw, sebuah pelajaran nyata yang luar biasa. Menurut anda, apakah saya memberinya tip besar atas pelayanan yang diberikannya? Anda salah! Dia adalah kerugian bagi Corporate America, tetapi teman perjalanan yang baik.

Kata Mutiara (English - Indonesia)

Smile is the shortest distance between two people.
Senyum adalah jarak yang terdekat antara dua manusia .

Real power does not hit hard , but straight to the point.
Kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras , tetapi tepat sasaran

You have to endure caterpillars if you want to see butterflies. (Antoine De Saint)
Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu-kupu. (Antoine De Saint)

Only the man who is in the truth is a free man.
Hanya orang yang berada dalam kebenaranlah orang yang bebas.

Every dark light is followed by a light morning.
Malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang.

Laughing is healthy, especially if you laugh about yourself.
Tertawa itu sehat, lebih-lebih jika mentertawakan diri sendiri.

The danger of small mistakes is that those mistakes are not always small.
Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil.
Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

To be silent is the biggest art in a conversation.
Sikap diam adalah seni yang terhebat dalam suatu pembicaraan.

The worst in the business world is the situation of no decision. (Napoleon).
Yang terparah dalam dunia usaha adalah keadaan tidak ada keputusan. (Napoleon).

Dig a well before you become thirsty.
Galilah sumur sebelum Anda merasa haus.

Good manners consist of small sacrifices.
Sopan – santun yang baik yang terdiri dari pengorbanan –pengorbanan kecil.

IDEAS ARE ONLY SEEDS, TO PICK THE CROPS NEEDS PERSPIRATION.
GAGASAN-GAGASAN HANYALAH BIBIT, MENUAI HASILNYA MEMBUTUHKAN KERINGAT.

LAZINESS MAKES A MAN SO SLOW THAT POV ERTY SOON OVERTAKE HIM.
KEMALASAN MEMBUAT SESEORANG BEGITU LAMBAN SEHINGGA KEMISKINAN SEGERA MENYUSUL.

THOSE WHO ARE ABLE TO CONTROL THEIR RAGE CAN CONQUER THEIR MOST SERIOUS ENEMY.
SIAPA YANG DAPAT MENAHAN MARAHNYA MAMPU MENGALAHKAN MUSUHNYA YANG PALING BERBAHAYA.

KNOWLEDGE AND SKILLS ARE TOOLS, THE WORKMAN IS CHARACTER.
PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN ADALAH ALAT, YANG MENENTUKAN SUKSES ADALAH TABIAT.

A HEALTHY MAN HAS A HUNDRED WISHES, A SICK MAN HAS ONLY ONE.
ORANG YANG SEHAT MEMPUNYAI SERATUS KEINGINAN, ORANG YANG SAKIT HANYA PUNYA SATU KEINGINAN

A MEDICAL DOCTOR MAKES ONE HEALTHY, THE NATURE CREATES THE HEALTH. (Aristoteles)
SEORANG DOKTER MENYEMBUHKAN, DAN ALAM YANG MENCIPTAKAN KESEHATAN. (Aristoteles)

THE MAN WHO SAYS HE NEVER HAS TIME IS THE LAZIEST MAN.(Lichtenberg)
ORANG YANG MENGATAKAN TIDAK PUNYA WAKTU ADALAH ORANG YANG PEMALAS.(Lichterberg)

POLITENESS IS THE OIL WHICH REDUCES THE FRICTION AGAINST EACH OTHER. (Demokritus).
SOPAN-SANTU ADALAH IBARAT MINYAK YANG MENGURANGI GESEKAN SATU DENGAN YANG LAIN. (Demokritus).

A DROP OF INK CAN MOVE A MILLION PEOPLE TO THINK.
SETETES TINTA BISA MENGGERAKAN SEJUTA MANUSIA UNTUK BERFIKIR.

WE CAN TAKE FROM OUR LIFE UP TO WHAT WE PUT TO IT.
APA YANG BISA KITA DAPAT DARI KEHIDUPAN KITA TERGANTUNG DARI APA YANG KITA MASUKKAN KE SITU.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN

IF YOU LEAVE EVERYTHING TO YOUR GOOD LUCK, THEN YOU MAKE YOUR LIFE A LOTTERY.
JIKA ANDA MENGANTUNGKAN DIRI PADA KEBERUNTUNGAN SAJA, ANDA MEMBUAT HIDUP ANDA SEPERTI LOTERE.

REAL POWER DOES NOT HIT HARD, BUT STRAIGHT TO THE POINT.
KEKUATAN YANG SESUNGGUHNYA TIDAK MEMUKUL DENGAN KERAS, TETAPI TEPAT SASARAN.

BEING CAREFUL IN JUDGING AN OPINION IS A SIGN OF WISDOM.
KEHATI-HATIAN DALAM MENILAI PENDAPAT ORANG ADALAH CIRI KEMATANGAN JIWA.

YOU RECOGNIZE BIRDS FROM THEIR SINGGING, YOU DO PEOPLE FROM THEIR TALKS.
BURUNG DIKENAL DARI NYANYIANNYA, MANUSIA DARI KATA-KATANYA.

ONE OUNCE OF PREVENT IS EQUAL TO ONE POUND OF MEDICINE.
SATU ONS PENCEGAHAN SAMA NILAINYA DENGAN SATU PON OBAT.

Friday, June 27, 2014

You Can't Turn Back Time

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja. Raja ini seharusnya puas dengan 
kehidupannya, dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia miliki. Tapi Raja ini tidak seperti itu. Sang Raja selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah puas dengan kehidupannya. Tentu saja, ia memiliki perhatian semua orang kemana pun ia pergi, menghadiri jamuan makan malam dan pesta yang mewah, tetapi, ia tetap merasa ada sesuatu yang kurang dan ia tidak tahu apa sebabnya. 

Suatu hari, sang Raja bangun lebih pagi dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar istananya. Sang Raja masuk ke dalam ruang tamunya yang luas dan berhenti ketika ia mendengarkan seseorang bernyanyi dengan riang dan perhatiannya tertuju kepada salah satu pembantunya yang bersenandung gembira dan wajahnya memancarkan sukacita serta kepuasan. Hal ini menarik perhatian sang Raja dan ia pun memanggil si hamba masuk ke dalam ruangannya. 




Pria ini, si hamba, masuk ke dalam ruangan sang Raja seperti yang telah diperintahkan. Lalu sang Raja bertanya mengapa si hamba begitu riang gembira. Kemudian, si hamba menjawab, “Yang Mulia, diri saya tidaklah lebih dari seorang hamba, namun apa yang saya peroleh cukup untuk menyenangkan istri dan anak-anak saya. Kami tidak memerlukan banyak, sebuah atap di atas kepala kami dan makanan yang hangat untuk mengisi perut kami. Istri dan anak-anak saya adalah sumber inspirasi saya, mereka puas dengan apa yang bisa saya sediakan walaupun sedikit. Saya bersukacita karena mereka 
bersukacita.” 

Mendengar hal tersebut, sang Raja menyuruh si hamba keluar dan kemudian memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan.Sang Raja berusaha mengkaji perasaan pribadinya dan mengkaitkan dengan kisah yang baru saja didengarnya, berharap dirinya dapat menemukan suatu alasan mengapa ia seharusnya dapat merasa puas dengan apa yang dapat diperoleh dengan sekejap tetapi tidak, sedangkan hambanya hanya memperoleh sedikit harta tetapi memiliki rasa kepuasan yang besar. 

Dengan penuh perhatian, sang asisten pribadi mendengarkan ucapan sang Raja dan kemudian menarik kesimpulan. Ujarnya, “Yang Mulia, saya percaya si hamba itu belum menjadi bagian dari kelompok 99.” “Kelompok 99? Apakah itu?” tanya sang Raja. Kemudian, sang asisten pribadi menjawab, “Yang Mulia, untuk mengetahui apa itu Kelompok 99, Yang Mulia harus melakukan hal ini… letakkan 99 koin emas dalam sebuah kantung dan tinggalkan kantung tersebut di depan rumah si hamba, setelah itu Yang Mulia akan mengerti apa itu Kelompok 99.” 

Sore harinya, sang Raja mengatur agar si hamba memperoleh kantung yang berisi 99 koin emas di depan rumahnya. Walaupun ada sedikit keraguan muncul, dan sang Raja ingin memberikan 100 koin emas, namun ia menuruti nasihat si asisten pribadi dan tetap meletakkan 99 koin emas. 

Esok harinya, ketika si hamba baru saja hendak melangkahkan kakinya ke luar rumah, matanya melihat sebuah kantung. Bertanya-tanya dalam hatinya, ia membawa kantung itu masuk ke dalam dan membukanya. Ketika melihat begitu banyak koin emas di dalamnya, 

ia langsung berteriak girang. Koin emas… begitu banyak! Hampir ia tidak percaya. Kemudian ia memanggil istri dan anak-anaknya ke luar memperlihatkan temuannya. 

Si hamba meletakkan kantung tersebut di atas meja, mengeluarkan seluruh isinya dan mulai menghitung. Hanya 99 koin emas, dan ia pun merasa aneh. Dihitungnya kembali, terus menerus dan tetap saja, hanya 99 koin emas. Si hamba mulai bertanya-tanya, kemanakah koin yang satu lagi? Tidak mungkin seseorang hanya meninggalkan 99 koin emas. Ia pun mulai menggeledah seluruh rumahnya, mencari koin yang terakhir.

Setelah ia merasa letih dan putus asa, ia memutuskan untuk bekerja lebih keras lagi untuk menggantikan 1 koin itu agar jumlahnya genap 100 koin emas. 
Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang benar-benar tidak enak, berteriak-teriak kepada istri dan anak-anaknya, tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan malam sebelumnya dengan bekerja keras agar ia mampu membeli 1 koin emas. Si hamba bekerja seperti biasa, tetapi tidak dengan suasana hati yang riang, bersiul-siul seperti biasanya. Dan si hamba pun tidak menyadari bahwa sang Raja memperhatikan dirinya ketika ia melakukan pekerjaan hariannya dengan bersungut-sungut. 

Sang Raja bingung melihat sikap si hamba yang berubah begitu drastis, lalu memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Diceritakan apa yang telah dilihatnya dan si asisten pribadinya tetap mendengarkan dengan penuh perhatian. Sang Raja bertanya, bukankah seharusnya si hamba itu lebih riang karena ia telah memiliki koin emas. 

Jawab si asisten,”Ah.. tetapi, Yang Mulia, sekarang hamba itu secara resmi telah masuk ke dalam Kelompok 99.” Lanjutnya, “Kelompok 99 itu hanyalah sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang telah memiliki semuanya tetapi tidak pernah merasa puas, dan mereka terus bekerja keras mencoba mencari 1 koin emas yang terakhir agar genap 100 koin emas. Kita harusnya merasa bersyukur dengan apa yang ada, dan kita bisa hidup dengan sedikit yang kita miliki. Tetapi ketika kita diberikan yang lebih baik
dan lebih banyak, kita menghendaki lebih! Tidak menjadi orang yang sama lagi, yang puas dengan apa yang ada, tetapi kita terus menghendaki lebih dan lebih dan memiliki keinginan seperti itu kita membayar harga yang tidak kita pun sadari. Kehilangan waktu tidur, kebahagiaan, dan menyakiti orang-orang yang berada di sekitar kita hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Orang-orang seperti itulah yang tergabung dalam Kelompok 99!” 

Mendengar hal itu, sang Raja memutuskan bahwa untuk selanjutnya, ia akan mulai menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup. Berusaha untuk memiliki lebih itu bagus, tetapi jangan berusaha terlalu keras sehingga kita kehilangan orang-orang yang dekat dengan kita, jangan pernah menukar kebahagiaan dengan kemewahan.