Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Saturday, July 12, 2014

Bagaimana Cara Menjadi Tong Sampah Bolong dan Tidak Berdasar ? (Bagian 2 - Terakhir)

Oke, saya akan lanjutkan cerita mengenai Tong Sampah Bolong yang sempat saya tulis di postingan sebelumnya (silahkan klik ini).

Cara kedua yang saya pelajari agar tong sampah kita bolong adalah :

2. Selalu Buang Sampah Yang Ada

Tong sampah bolong menggambarkan bahwa tong sampah kita tidak ada isi. Salah satu cara membuat tong sampah kita selalu tidak ada isi atau kosong adalah dengan membuang sampah-sampah yang ada. Ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk membuang sampah-sampah tersebut. dan salah satu cara yang sering saya gunakan adalah melakukan sesuatu yang benar-benar ingin saya lakukan.

Dengan melakukan hal yang benar-benar saya lakukan, kita bisa selalu menjaga perasaan menjadi tetap tenang, nyaman, dan damai. Ada kalanya ketika rasanya tong sampah saya mulai penuh (kepala mulai mumet, banyak pikiran yang lalu lalang di kepala), biasanya saya akan pergi ke mall sendirian. Saya sangat menikmati waktu sendirian saya. Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau jika saya sendirian. Dan setelah saya menghabiskan waktu sendirian, biasanya pikiran saya akan terasa lebih ringan dan nyaman.

Dua cara yang saya jelaskan belum tentu bekerja dengan baik untuk rekan-rekan semua. Jadi silahkan rekan-rekan perdalam lagi pencarian mengenai cara membuat tong sampah rekan-rekan sekalian bolong. Karena akan ada banyak sekali manfaat saat kita bisa membuat tong sampah kita bolong.

Tuesday, July 1, 2014

Mana Ciuman Untukku?

Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam 
seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama 
kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas 
rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada 
satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya. 

Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk
pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat 
tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua. 

“Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie. 

“Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie. 

Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman 
apappun padanya.. 

Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring
sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu .. 

Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya. 

“Kau senang di rumah Debbie?” tanya ibunya. 

“Rumah ini sepi sekali tanpa kau,” kata ayahnya. 

Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya. 
Kenapa mereka tak pernah menciumnya? 
Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ? 
Apa mereka tidak menyayanginya? 
Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie. 

Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya. 
Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie. 
Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya. 

“Selamat malam,”katanya. 

Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh. 

“Selamat malam,” sahut ayahnya. 

Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum. 

“Selamat malam, Cindy.” 

Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi. 

“Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya. 

Ibunya tampak bingung. 

“Yah,” katanya terbata-bata, 

“sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih
kecil. Itu saja.” 

Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia 
memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia 
tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia 
mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak
berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal 
bersama orangtua Debbie. 

Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak
menyenangkan. 

Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya 
bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy 
tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku. 

Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat 
gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk
kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya 
sedang duduk dengan ekspresi cemas. 

Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,” Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”. 

Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, 
sambil berkata,”Aku sayang padamu,Bu.” 

Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara. 

Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Selamat malam, 
Yah. Aku sayang padamu,” 

Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur. 

Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan 
ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya. 

“Hai, Bu,”katanya. 

“Aku sayang padamu.” 

Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-
kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang

mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy 
tidak putus asa. 

Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia 
lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan 
ibunya masuk. 

“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya, pura-pura marah. 

Cindy duduk tegak. 

“Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya. 

“Aku sayang padalmu, Bu.” Kemudian ia berbaring lagi. 

“Selamat malam,”katanya, lalu memejamkan mata. 

Tapi ibunya tidak segera keluar. 

Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.” 

Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy. 

“Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy 
tertawa. 

“Baiklah,”katanya. 

Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak
sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil 
bayinya menjadi merah. 

Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, “Mana ciuman 
untukku?” 

Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu. 

Kau tahu itu, bukan?” 

“Ya,Bu,” kata Cindy. 

“Sejak dulu aku sudah tahu.”

Monday, June 30, 2014

Semuanya adalah Anugerah


Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. 

Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. 

Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor. Melakukan apa ? tanya Ralph. 
Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor. 


Oh, kata Ralph, selama perang …..Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal. Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. 

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya ……. 

Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, 

sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya. 

Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. 

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain. 

Nilai manusia ……. 
tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. 

Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan. 

Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT 
……. 

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. 
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..

Wednesday, June 25, 2014

Keseimbangan Hidup

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.


"Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak selesaikan," seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan bertanya, "Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?"


Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, "Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari".

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, "Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?"

Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, "Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya."

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum dia berkata, "Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman." tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.

Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, "Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua".
"Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis".

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, "Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati".


sumber : andriewongso.com

Tuesday, June 17, 2014

Apakah Keindahan Hidup Itu ? Dimanakah Ia Berada ?

Pada dasarnya, menurut saya pribadi, hidup setiap manusia adalah indah. Apapun profesi kita, berapapun umur kita, apapun latar belakang kita, kita sebagai manusia sudah dibekali dengan suatu kehidupan yang indah. Mungkin ada yang berkata, jika kita dilahirkan dari keluarga yang miskin, apakah itu indah ? Jika kita dilahirkan sebagai orang cacat, apakah itu kehidupan yang indah ? Jawaban saya adalah IYA, itu semuanya indah. Saat janin berumur 1 hari pun, saat sudah ada kehidupan, pada saat itu jugalah keindahan terbentuk. Pertanyaannya adalah: "Mengapa seringkali kita merasa hidup kita jauh dari keindahan ?"

Tidak bisa dipungkiri, semakin bertambah usia seseorang, semakin sulit bagi orang tersebut untuk merasakan keindahan hidup mereka. Jika kita bisa bertanya pada seorang bayi yang baru lahir, "Menurut kamu (bayi), apakah hidup ini indah ?" Saya yakin si bayi akan menjawab dengan lantang: "Ya, hidup ini sangat indah". Saat si bayi sudah beranjak dewasa, saat ia sekolah, saat ia kuliah, saat ia bekerja, saat ia berumah tangga, dan seterusnya, si bayi akan merasa hidupnya semakin jauh dari keindahan. Selalu ada masalah demi masalah yang harus ia hadapi. Sebenarnya, kemanakah perginya sang keindahan hidup ini ?



Jika saya boleh berpendapat, pendapat saya adalah keindahan hidup ini selalu ada di tempat yang sama sejak kita bayi sampai kita tua dan meninggal. Ia selalu diam ditempat yang sama. Ia selalu menunggu kita, tuannya, untuk menyadari bahwa dia selalu ada bersama kita. Seiring bertambahnya usia, yang seringkali kita lakukan adalah melupakan mereka. Kita selalu berusaha mencari-cari keindahan hidup dari hal-hal yang salah. Ada yang menganggap uang adalah keindahan hidup. Ada yang menganggap kedudukan adalah keindahan hidup. Ada yang menganggap pekerjaan adalah keindahan hidup. Padahal sebenarnya, semua itu bukanlah keindahan hidup yang sesungguhnya kita cari. Semua itu adalah keinginan hidup semata.

Efek dari kesalahan tersebut adalah kita tetap merasa bahwa hidup kita tidak indah. Banyak orang yang kaya raya tetapi merasa tertekan dalam hidupnya. Banyak orang dengan kedudukan tinggi tetapi selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Semua itu terjadi karena mereka telah melupakan siapa keindahan hidup yang sebenarnya. Saya yakin dan percaya, jika kita sudah mengetahui apakah keindahan hidup yang sebenarnya, dan kita sudah berhasil berteman baik dengannya, maka uang, kedudukan, pekerjaan, rumah tangga, dan segala yang menjadi keinginan kita akan terpenuhi.

Jadi, "Apakah keindahan hidup itu ? dan dimanakah ia berada ?". Keindahan hidup yang sebenarnya adalah kesadaran penuh bahwa kita hidup dan ia berada didalam hati kita.

Be Grateful Because You Are Here and Live

Monday, June 16, 2014

Apa Resep Untuk Selalu Bahagia ?

Berbicara mengenai kebahagiaan, saya sangat yakin dan percaya bahwa seluruh manusia di muka bumi ini pasti menginginkan kebahagiaan. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, apapun yang kita lakukan selama ini adalah salah satu upaya untuk menemukan "orang" yang bernama kebahagiaan. Yang ingin saya tanyakan kepada rekan-rekan semua adalah "Dimanakah 'orang' bernama kebahagiaan itu berada ?" dan "Kapankah kita akan bertemu dengannya ?"

Suatu saat ketika saya sedang menghadapi masalah-masalah dalam hidup, saya sering menanyakan kedua pertanyaan itu kepada diri saya sendiri. Saya merasa seolah-olah apapun yang saya lakukan, saya tidak akan bisa bertemu dengan "orang" tersebut. "Si Kebahagiaan" seolah-olah terus berlari menjauh dari saya. Tapi saat saya merenung lebih jauh, saya seperti tersadar bahwa sebenarnya saya sangat sering bertemu dengan "Si Kebahagiaan" dan saya tahu persis dimana "dia" berada. Dia, Si Kebahagiaan, berada di dalam hati kita semua.



Kebahagiaan sudah ada di dalam hati kita masing-masing. "Dia" sudah ada dekat sekali dengan kita. Yang menjadi penghalang bagi kita untuk bertemu dengan kebahagiaan adalah diri kita sendiri. Salah satu cara yang biasa saya gunakan agar saya selalu bertemu dengan kebahagiaan adalah bersyukur sesering mungkin. Dengan terus-menerus bersyukur, perasaan saya menjadi lebih tenang dan nyaman. Saya bersyukur saya ada di dunia, bersyukur saya normal, bersyukur saya ada pekerjaan dan penghasilan, bersyukur saya ada keluarga, bersyukur saya ada teman, bersyukur saya masih bisa berbicara, bersyukur bersyukur dan bersyukur.

Akan ada suatu perasaan damai dan sejuk saat kita bersyukur dari dalam hati kita (bukan hanya kata-kata di mulut atau rutinitas). Siapapun kita, apapun profesi kita, berapapun penghasilan kita, dimanapun dan kapanpun kita berada, selalu ada waktu untuk bersyukur. Saya ingin menantang rekan-rekan semua yang membaca tulisan ini, "berikan saya suatu kondisi dimana menurut rekan-rekan semua jika kita berada di kondisi tersebut, kita tidak akan mampu untuk bersyukur". Saya benar-benar yakin bahwa dalam kondisi apapun pasti tetap ada alasan untuk bersyukur. Sering-seringlah bersyukur, maka anda akan merasakan kebahagiaan yang sejuk dan nyaman dalam hidup anda.

Be Thankful for What You Have, You'll End Up Having More. If You Concentrate On What You Don't Have, You Will Never, Ever Have Enough