Showing posts with label cerita inspirasi. Show all posts
Showing posts with label cerita inspirasi. Show all posts

Saturday, July 19, 2014

Jaga Hari Mereka

Kejadian berikut ini baru saja terjadi didalam hidup saya, baru beberapa jam yang lalu terjadi. Dari kejadian ini saya belajar mengenai kehidupan lebih dalam lagi. Benar-benar suatu pelajaran yang mungkin seringkali terlewat dalam kehidupan kita. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk belajar dan mengerti sebuah pelajaran berharga dalam hidup ini.

Saya bangun sekitar pukul 08.00 pagi ini, tidak ada yang istimewa. Saya bangun, menghabiskan waktu sekitar 5 menit untuk bersyukur atas kehidupan ini, kemudian saya mulai bersiap untuk melakukan aktivitas saya. Hari ini saya mulai bekerja sekitar pukul 13.00, jadi waktu pagi menjelang siang saya habiskan untuk sarapan dan membaca. 

Sekitar pukul 12.00, saya mendapat BBM dari atasan saya mengenai rencana perubahan jadwal pekerjaan. Intensitas perubahan jadwal sudah sering sekali terjadi, sudah berkali-kali saya menghadapi komplain dari klien mengenai perubahan jadwal. Tetapi atasan saya seolah tidak mau tahu mengenai hal itu, intinya jadwal harus diubah. Saya sudah menjelaskan semua yang dapat saya jelaskan, namun tetap saja perubahan jadwal harus terjadi.

Hari saya terasa berantakan, saya sudah sangat malas menjalani pekerjaan saya di pukul 13.00. Saya merasa sangat tidak dihargai oleh atasan saya. Saya merasa benar-benar dipermainkan oleh atasan saya. Untuk menjaga sikap profesionalitas, saya tetap menjalankan pekerjaan saya di pukul 13.00 (dengan rasa malas-malasan). Saya kurang semangat dan merasa sangat kacau. Pikiran saya tidak tenang.

Sekitar pukul 15.30, ada pesan yang masuk ke handphone saya. Ternyata pesan itu dari seorang klien yang memuji pekerjaan saya. Klien tersebut puas dengan pekerjaan saya dan mengatakan bahwa pekerjaan saya sangat bagus. 

Seperti mendapatkan air yang sangat segar, saya kembali bersemangat dalam melakukan pekerjaan saya. Tiba-tiba ada rasa bahagia yang sangat besar ketika saya membaca pesan tersebut. Semangat mulai muncul didalam diri saya. Saya mulai bergairah untuk menyelesaikan pekerjaan saya. 

Akhirnya, tepat pukul 17.30, pekerjaan saya selesai. Setelah selesai bekerja, saya menyempatkan diri sejenak untuk berdiam diri. Memikirkan apa yang sudah terjadi di hari ini. Dan tidak lama kemudian, saya seperti mendapatkan pelajaran dari kejadian yang saya alami hari ini. Pelajaran tersebut adalah JAGA HARI MEREKA.


Suatu perkataan yang menurut kita tidak penting, bisa saja merusak hari seseorang atau sebaliknya, bisa saja membuat hari seseorang menjadi sangat berarti. Mungkin bagi atasan saya, memberikan perintah perubahan jadwal tidak akan membawa pengaruh apa-apa dalam hari saya, tetapi ternyata dengan perintah perubahan jadwal hari saya terasa rusak.

Mungkin bagi sang klien, pujian sederhana tidak membawa dampak apa-apa buat saya, tetapi siapa yang sangka ternyata pujian kecil tersebut membuat saya begitu semangat dalam menjalani sisa hari saya.

Marilah kita menjadi hari orang lain dengan menjaga perkataan kita. Apapun yang kita katakan bisa membawa dampak bagi orang lain karena kita tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam diri orang tersebut. Kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkan orang lain.

Saya ambil contoh sederhana, saat keadaan sedang bagus dan baik, jika seseorang mengatakan kepada anda "jika tidak bisa melakukan hal tersebut, lebih baik mati saja", mungkin kita menganggap itu hanya sebuah candaan dan kita masih dapat tertawa. Tetapi jika sepanjang hari tersebut kita sudah penuh dengan masalah, kemudian teman kita melontarkan kata-kata tersebut saat kita berada di posisi penuh masalah, bisa jadi kita akan benar-benar mengakhiri hidup.

Kita tidak pernah tau perasaan orang lain, kita hanya bisa melihat fisik mereka, kita tidak bisa melihat hati mereka. Jadi, mulai dari sekarang marilah kita menjaga hari mereka. Marilah kita berpikir sejenak sebelum mengambil suatu keputusan. Ucapan kita bisa membawa pengaruh pada kehidupan orang lain.

Friday, July 11, 2014

Nilai Kehidupan

Nilai Kehidupan
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.
“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.
Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.


sumber:http://iphincow.com 

Thursday, June 26, 2014

Kehidupan Ini Adalah Mulia dan Tidak Hina

Dia berkulit hitam, lahir pada tahun 1963 di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Sejak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, jadi ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depan.
Tahun itu, ia sudah berusia tiga belas tahun ketika ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya: “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?”
Ia menjawab: “Mungkin USD 1.”
“Bisakah dijual seharga USD 2? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu.”
Ia menganggukkan kepalanya: “Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil.”
Ia dengan hati-hati mencuci pakaian sampai bersih, karena tidak ada setrika untuk dipergunakan, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, ia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah yang ramai, setelah berusaha menawarkannya selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil menjual pakaian ini. Ia memegang lembaran uang kertas USD 2 dan berlari pulang ke rumah.
Setelah itu, setiap hari ia suka mencari pakaian bekas di tumpukan sampah, yang mana sesudah dirapikan kemudian dijual tempat keramaian, lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya: “Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini sampai harga USD 20?”
Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling banyak nilainya hanya USD 2.
Ayahnya memberikan inspirasi: “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan.”
Akhirnya, ia mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan kepada sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan seekor Donal Bebek yang lucu dan seekor Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu, ia lalu berusaha menjualnya di hadapan satu sekolah anak orang kaya, tak lama kemudian ada seorang pengurus rumah tangga yang datang ke sekolah dengan mengemudikan mobil untuk menjemput tuan kecilnya, pengurus rumah tangga ini membelikan pakaian ini untuk tuan kecilnya, anak berusia sepuluhan tahun ini sangat senang pada pakaian ini dan memberikan uang tip USD 5 kepadanya. USD 25 ini tidak diragukan lagi adalah jumlah yang besar baginya, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.
Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya: “Apakah engkau mampu menjualnya dengan harga USD 200?”Mata ayahnya tampak berbinar.
Kali ini ia menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun, dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett datang ke New York untuk melakukan publisitas, sehabis konferensi pers, ia pun menerobos penjagaan pihak keamanan untuk mencapai sisi Farrah Fawcett dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya.Ketika Farrah Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu. Ia pun berteriak dengan sangat gembira: “Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditanda tangani oleh Miss Farrah Fawcett, harganya jualnya USD 200!”Setelah lelang di lapangan, ada seorang pengusaha yang membelinya dengan harga USD 1.200.
Sekembalinya ke rumah, mereka sekeluarga pun tidak tertahankan untuk berteriak gembira.Ayahnya meneteskan air mata dengan terharu: “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!”
Malam ini, ia tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki.
Ayahnya bertanya: “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian ini, apakah yang berhasil engkau pahami?”
Ia menjawab dengan rasa haru: “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.”
Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala: “Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah, ayah hanya ingin memberitahukanmu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya?”
Seketika, dalam pikirannya seakan ada matahari yang terbit, bahkan sehelai pakaian bekas juga bisa ditingkatkan harkatnya, jadi apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri?
Sejak itu, ia belajar dengan lebih giat dan menjalani latihan dengan lebih keras, ia merasa penuh harapan terhadap masa depan, dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal sampai ke seluruh pelosok dunia.Ia adalah Michael Jordan

Wednesday, June 25, 2014

Nasi Putih

Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negeri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan  cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

Kemudian pemuda itu berkata: “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih”; dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:”Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:” kuah sayur gratis.”

Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
” Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”

Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.
“Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !”

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?

Suaminya kemudian membisik kepadanya :”Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”

“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”

“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
“Terima kasih, saya sudah selesai makan.”
 
Pemuda ini pamit kepada mereka.
Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
 
“Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
“Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.”

“Siapakah direktur diperusahaan kamu ? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !”  sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.”

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.



Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:”bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !”

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. 

Jadilah Seperti Pohon


Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.

“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.”

Hidup Jangan Tertidur

Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan “tertidur.” Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan “tertidur.”
Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.
Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!
Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah “rahmat terselubung” karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.
Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata, “Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!” Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas, “Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.”
Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.
Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.
Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, “Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.” Manusia bukanlah “makhluk bumi” melainkan “makhluk langit.” Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan “rumah” untuk mencari “rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal
dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.
Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!
Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan — apalagi dengan menyalahgunakan jabatan — kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan
berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.
Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar ? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:
Belajarlah MENDENGARKAN. Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak
orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.