Saturday, June 1, 2013

61. Cerita Mengharukan Terbaik Sepanjang 2013

Katakanlah aku adalah orang yang selalu tidak pernah merasakan keindahan hidup, pada mulanya aku selalu tidak menyangka bahwa aku terlahir berbeda dengan yang lain. berbeda dalam arti apa berbeda dalam arti tidak sempurna seluruh tubuhku, aku selalu berdoa dengan bercucuran air mata kepada tuhan yang selalu menciptakanku " yaa tuhan aku ingin keadilanmu, aku ingin perhatianmu, kenapa selalu harus aku yang seperti ini?" mungkin itu yang selalu aku katakan disetiap malamku.

Disuatu hari tuhanku memberikanku keajaiban hingga akhirnya kedua kakiku bisa normal kembali hingga aku dapat berjalan selangkah sampai lima langkah dan akhirnya cukup disitu dan terhenti sehingga aku tidak bisa teruskan langkah ayunanku sepetak demi petak, dan kemudian aku tersenyum dan seolah ini adalah nyata tapi akhirnya semua itu hanyalah mimpi semata akupun terbangun dari mimpi indahku yang ternyata hanya semu dan aku mencoba bangkit dari kamar tidurku dan akupun terjatuh.

Selama aku menderita penyakit rakitis akupun tidak tahu apa itu artinya?, tetapi buktinya sampai saat inipun dokter belum bisa menyembuhkan penyakitku, aku selalu dibayangi mimpi-mimpi gelap yang  yang selalu saja membuat bibir ini terbungkam seperti ditelan api kehidupan yang fana ini.

Selalu sabar mungkin ini yang ditetapkan tuhan untukku meskipun aku menyesal dengan semua keadaan ini, sehingga detik inipun aku dijauhi bahkan sangat dijauhi semua orang karena kondisiku ini. sehingga pada suatu saat aku melihat tetanggaku yang sangat sombong dan suka memakiku akhirnya jatuh terbaring sakit dan tidak kunjung sembuh, disitulah aku sadar kalau aku meski tidak bisa berjalan tapi mulut tangan dan organ lainnya masih bisa aku manfaatkan. pada waktu itulah hatiku mulai tersentuh dan tangan ini terhentak untuk ingin melimpahkan sebuah kekesalanku pada sebuah lembaran kertas yang telah tergores oleh pena ini.

Pada suatu hari setelah aku sudah mempunyai beberapa lembar tulisanku, aku mendengar bahwa orang yang selalu mengejekku sudah sembuh tapi tidak bisa terbangun dari tidurnya, hingga akhirnya lembaranku telah menumpuk menjadi sebuah buku. Aku beranjak dari rumah menuju rumah orang yang selalu mengejekku, ditengah hujan lebat akupun berusaha berjalan dengan kedua tanganku menuju rumah orang itu.

Pada akhirnya akupun tiba disana dan semua bajuku telah basah kuyub tercampur dengan lumpur, tepat didepanku diapun melihatku tanpa bisa berbicara tapi masih bisa menatapku, tanpa banyak omong aku berikan buku yang telah kutulis minggu hingga tahun tanpa ada ucap sedikitpun akupun tersenyum dan diapun tidak membalas senyumanku dan aku lekas meninggalkannya.

Dan akhirnya akupun sudah memberikan tulisan itu kepadanya, dengan tersenyum dijalan na'as akupun ditabrak oleh mobil mewah sedan berwarna hitam hingga terjatuh taksadarkan diri dengan penuh darah yang bercucuran dari kepala ini, Bersambung ................tunggu kisah lanjutannya ya kawan karena akan semakin seru lagi :)

Thursday, May 30, 2013

60. Kisah Cinta Mengharukan

Cerita ini dikisahkan oleh seorang pria bernama Duel yang memiliki seorang adik perempuan bernama Rin. Suatu hari Rin mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia koma untuk waktu yang lama.

Pada hari kedua setelah Rin mengalami kecelakaan, seorang pria seumuran Rin datang melihat Rin. Dari parasnya sudah bisa kutebak kalau namanya adalah, Zero pria yang sering Rin ceritakan kepadaku.

"Anu.. nama kamu Zero kan ?" tanyaku padanya.
"Ya.. Mengapa kakak bisa tahu namaku ?" Tanyanya heran.
"Rin sering menceritakan tentang kamu, apakah kamu kekasih Rin?"

Setelah diam sejenak ia menjawab “Bukan.. Aku sahabatnya. Jujur aku mempunyai perasaan lebih pada Rin. Tapi, sampai ia koma sekarangpun aku belum menyatakan kepadanya” Ucapnya sambil menatap kearah Rin yang terbaring koma.
"Kakak rasa Rin juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu Zero"
"Maksud kakak ?"

"Sebaiknya kamu membaca diary yang Rin tulis ini" Ucapku sambil menyodorkan diary itu padanya.

Sejenak aku melihat Zero yang membaca diary tersebut terlihat sedih. Terang saja, soalnya aku tahu, diari itu berisi tentang perasaan Rin pada Zero selama ini.

Sejak saat itu, Zero selalu datang melihat Rin yang koma setiap hari. Sampai-sampai terkadang aku melihat dia mengerjakan tugas sekolah di ruangan Rin. Sering kuintip dari sisi pintu, Zero memegang tangan Rin sambil berbicara sendiri entah dengan siapa, tapi aku biarkan saja karena aku tahu Zero seperti itu untuk menghibur dirinya sendiri dengan cara menganggap Rin telah sadar dari komanya.

Setelah tiga bulan, akhirnya Rin sadar dari komanya. Tidak seperti biasanya, pada hari dimana Rin sadar Zero malah tidak datang. Padahal Zero tidak pernah absent mengunjungi Rin sejak hari pertama ia datang meelihat Rin. Setelah kondisi Rin membaik, aku mulai menceritakan tentang apa yang terjadi selama tiga bulan Rin koma, termasuk perasaan dan tingkah Zero selama itu. Aku senang melihat Rin mulai tersenyum ketika aku menceritakan tentang Zero.

"Kakak tahu..? Dalam kondisi enggak sadar aku selalu merasakan Zero disisiku. Kami mengobrol bersama dan ia selalu mendukung agar aku cepat sembuh" Ucap Rin padaku.

"Yahh mungkin saja apa yang dilakukan Zero selama ini telah membantu Rin agar sadar dari komanya" pikirku.

"Kata kakak,Zero selalu datang setiap hari, tapi mengapa aku tidak melihat dia sama sekali hari ini..?" Tanya Rin heran.

"Kakak juga enggak tahu, mungkin Zero ada keperluan yang enggak bisa dia tinggal. Kamu bersabar saja yahh" Jawabku. Sebenarnya aku juga merasakan ada hal yang aneh yang terjadi hari itu.

Beberapa hari telah berlalu, Rin sudah terlihat cukup sehat dan bisa berjalan. Tetapi ia terlihat sangat sedih dan kecewa karena Zero tidak datang sama sekali semenjak Rin sadar dari komanya. Akhinya siang itu aku memutuskan untuk mengajak Rin kerumah Zero untuk menemui Zero. Dirumahnya kami melihat seorang ibu yang terlihat sedang menangis. Dengan memberanikan diri kami menanyainya :

"Permisi.. apakah ini rumah Zero bu ?" tanyaku pada ibu itu

Tetapi bukannya menjawab ibu itu malah semakin menangis dan tak berapa lama kemudian seorang perempuan keluar dan mengajak kami agar sedikit menjauh dari ibu itu.

"Kamu Rin kan ..?" Tanya perempuan itu pada Rin.
"Ya kak,Zero mana ? kenapa aku enggak melihatnya ?"

Sejenak aku melihat perempuan itupun menangis dan masuk kembali kedalam rumah. Beberapa saat kemudian perempuan itu keluar kembali dan menyodorkan sebuah diari yang bertuliskan “Untuk Rin” Dihalaman depannya. Samar-samar disana aku melihat bercak merah, entah apakah itu aku juga belum tahu pada awalnya

"Beberapa hari yang lalu saat Zero pulang dari melihat Rin seperti biasanya. Zero mengalami kecelakaan yang menyebabkan pendarahan parah pada kepalanya. Tim medis tak dapat menolong banyak dan akhirnya Zero meninggal pada hari itu sambil memegang Diary ini." Ucap perempuan itu yang membuat kami sangat kaget. Kontan saja Rin yang kala itu terdiam langsung menangis sambil berteriak nama Zero. Akupun yang tak kuasa melihat Rin ikut menangis karena tidak menyangka hari itu adalah hari terakhir aku melihat Zero.

Dengan berbekal alamat dan denah dari perempuan tadi, kami mengunjungi makam Zero. Disana kami memanjatkan doa. Tetapi Rin yang kala itu masih bersedih sama sekali tidak bisa menahan rasa tangisnya. Di makam itu Rin kemudian membuaka diari yang ia dapatkan, di diari itu tertulis persaaan Zero selama tiga bulan Rin koma. Dan pada tulisan terakhir nya terdapat foto Zero dan Rin yang dibawahnya tertulis "Ya tuhan, jika nanti aku telah tiada, tolong engkau jagalah ia untuku ya Tuhan. Pertemukanlah ia dengan lelaki lain yang bisa membuatnya tersenyum dan mencintai serta menjaganya dengan ikhlas sama seperti yang aku lakukan selama ini"


tetap tongkrongin cerita berikutnya :)

Sand Of Forgiveness


A story tells that two friends were walking through the desert. During some point of the journey they had an argument, and one friend slapped the other one in the face.

The one who got slapped was hurt, but without saying anything, wrote in the sand: TODAY MY BEST FRIEND SLAPPED ME IN THE FACE.

They kept on walking until they found an oasis, where they decided to take a bath. The one who had been slapped got stuck in the mire and started drowning, but the friend saved him. After he recovered from the near drowning, he wrote on a stone: TODAY MY BEST FRIEND SAVED MY LIFE.

The friend who had slapped and saved his best friend asked him, “After I hurt you, you wrote in the sand and now, you write on a stone, why?” The other friend replied “When someone hurts us we should write it down in sand where winds of forgiveness can erase it away. But, when someone does something good for us, we must engrave it in stone where no wind can ever erase it.”


LEARN TO WRITE YOUR HURTS IN THE SAND AND TO CARVE YOUR BENEFITS IN STONE