Showing posts with label Cinta Mengharukan. Show all posts
Showing posts with label Cinta Mengharukan. Show all posts

Thursday, May 30, 2013

60. Kisah Cinta Mengharukan

Cerita ini dikisahkan oleh seorang pria bernama Duel yang memiliki seorang adik perempuan bernama Rin. Suatu hari Rin mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia koma untuk waktu yang lama.

Pada hari kedua setelah Rin mengalami kecelakaan, seorang pria seumuran Rin datang melihat Rin. Dari parasnya sudah bisa kutebak kalau namanya adalah, Zero pria yang sering Rin ceritakan kepadaku.

"Anu.. nama kamu Zero kan ?" tanyaku padanya.
"Ya.. Mengapa kakak bisa tahu namaku ?" Tanyanya heran.
"Rin sering menceritakan tentang kamu, apakah kamu kekasih Rin?"

Setelah diam sejenak ia menjawab “Bukan.. Aku sahabatnya. Jujur aku mempunyai perasaan lebih pada Rin. Tapi, sampai ia koma sekarangpun aku belum menyatakan kepadanya” Ucapnya sambil menatap kearah Rin yang terbaring koma.
"Kakak rasa Rin juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu Zero"
"Maksud kakak ?"

"Sebaiknya kamu membaca diary yang Rin tulis ini" Ucapku sambil menyodorkan diary itu padanya.

Sejenak aku melihat Zero yang membaca diary tersebut terlihat sedih. Terang saja, soalnya aku tahu, diari itu berisi tentang perasaan Rin pada Zero selama ini.

Sejak saat itu, Zero selalu datang melihat Rin yang koma setiap hari. Sampai-sampai terkadang aku melihat dia mengerjakan tugas sekolah di ruangan Rin. Sering kuintip dari sisi pintu, Zero memegang tangan Rin sambil berbicara sendiri entah dengan siapa, tapi aku biarkan saja karena aku tahu Zero seperti itu untuk menghibur dirinya sendiri dengan cara menganggap Rin telah sadar dari komanya.

Setelah tiga bulan, akhirnya Rin sadar dari komanya. Tidak seperti biasanya, pada hari dimana Rin sadar Zero malah tidak datang. Padahal Zero tidak pernah absent mengunjungi Rin sejak hari pertama ia datang meelihat Rin. Setelah kondisi Rin membaik, aku mulai menceritakan tentang apa yang terjadi selama tiga bulan Rin koma, termasuk perasaan dan tingkah Zero selama itu. Aku senang melihat Rin mulai tersenyum ketika aku menceritakan tentang Zero.

"Kakak tahu..? Dalam kondisi enggak sadar aku selalu merasakan Zero disisiku. Kami mengobrol bersama dan ia selalu mendukung agar aku cepat sembuh" Ucap Rin padaku.

"Yahh mungkin saja apa yang dilakukan Zero selama ini telah membantu Rin agar sadar dari komanya" pikirku.

"Kata kakak,Zero selalu datang setiap hari, tapi mengapa aku tidak melihat dia sama sekali hari ini..?" Tanya Rin heran.

"Kakak juga enggak tahu, mungkin Zero ada keperluan yang enggak bisa dia tinggal. Kamu bersabar saja yahh" Jawabku. Sebenarnya aku juga merasakan ada hal yang aneh yang terjadi hari itu.

Beberapa hari telah berlalu, Rin sudah terlihat cukup sehat dan bisa berjalan. Tetapi ia terlihat sangat sedih dan kecewa karena Zero tidak datang sama sekali semenjak Rin sadar dari komanya. Akhinya siang itu aku memutuskan untuk mengajak Rin kerumah Zero untuk menemui Zero. Dirumahnya kami melihat seorang ibu yang terlihat sedang menangis. Dengan memberanikan diri kami menanyainya :

"Permisi.. apakah ini rumah Zero bu ?" tanyaku pada ibu itu

Tetapi bukannya menjawab ibu itu malah semakin menangis dan tak berapa lama kemudian seorang perempuan keluar dan mengajak kami agar sedikit menjauh dari ibu itu.

"Kamu Rin kan ..?" Tanya perempuan itu pada Rin.
"Ya kak,Zero mana ? kenapa aku enggak melihatnya ?"

Sejenak aku melihat perempuan itupun menangis dan masuk kembali kedalam rumah. Beberapa saat kemudian perempuan itu keluar kembali dan menyodorkan sebuah diari yang bertuliskan “Untuk Rin” Dihalaman depannya. Samar-samar disana aku melihat bercak merah, entah apakah itu aku juga belum tahu pada awalnya

"Beberapa hari yang lalu saat Zero pulang dari melihat Rin seperti biasanya. Zero mengalami kecelakaan yang menyebabkan pendarahan parah pada kepalanya. Tim medis tak dapat menolong banyak dan akhirnya Zero meninggal pada hari itu sambil memegang Diary ini." Ucap perempuan itu yang membuat kami sangat kaget. Kontan saja Rin yang kala itu terdiam langsung menangis sambil berteriak nama Zero. Akupun yang tak kuasa melihat Rin ikut menangis karena tidak menyangka hari itu adalah hari terakhir aku melihat Zero.

Dengan berbekal alamat dan denah dari perempuan tadi, kami mengunjungi makam Zero. Disana kami memanjatkan doa. Tetapi Rin yang kala itu masih bersedih sama sekali tidak bisa menahan rasa tangisnya. Di makam itu Rin kemudian membuaka diari yang ia dapatkan, di diari itu tertulis persaaan Zero selama tiga bulan Rin koma. Dan pada tulisan terakhir nya terdapat foto Zero dan Rin yang dibawahnya tertulis "Ya tuhan, jika nanti aku telah tiada, tolong engkau jagalah ia untuku ya Tuhan. Pertemukanlah ia dengan lelaki lain yang bisa membuatnya tersenyum dan mencintai serta menjaganya dengan ikhlas sama seperti yang aku lakukan selama ini"


tetap tongkrongin cerita berikutnya :)

Wednesday, April 17, 2013

46. Kisah Cinta Mengharukan Tragis Suami Istri

Berikut Dunia Baca dot Com share sebuah kisah nyata cinta yang tragis sepasang muda-mudi yang akan melangsungkan pernikahannya namun pasangannya meninggal dunia hanya 90 menit sebelum upacara pernikahan. Sungguh ini merupakan Kisah cinta sejati yang sangat mengharukan.

Jika Anda sebelumnya sudah pernah mendengar dan/atau membaca Kisah Cinta yang Tragis dan Mengharukan ini, mungkin kali ini tidak begitu terharu, namun apabila Anda pertama kali membaca, pasti kisah ini membuat Anda sedih terharu.

Ok, langsung saja Anda simak Kisah Cinta Tragis “Meninggal 90 Menit Sebelum Menikah” berikut ini:

Jemma Webb sudah merencanakan pernikahannya yang indah jauh-jauh hari. Namun satu bulan sebelum pernikahan, kondisi tubuhnya yang digerogoti kanker semakin memburuk. Ia pun menyerah dan meninggal hanya 90 menit sebelum upacara pernikahan.

Jemma Webb (32 tahun) pertama kali mengalami gejala kanker ovarium pada tahun 2008. Untuk mengurangi penderitaannya, ia sudah pernah menjalani operasi dan pada Februari 2010 mulai pengobatan kemoterapi.

Namun setelah 4 tahun berjuang melawan kanker, ia akhirnya harus menyerah dan pasrah ketika kanker ovarium merenggut nyawanya. Tragisnya, itu terjadi hanya 90 menit dari upacara pernikahannya.

Jemma bukanlah gadis yang manja. Meski di tubuhnya tumbuh sel kanker ganas, ia tak pernah menyerah dan berusaha keras melawan kanker tersebut sejak pertama kali didiagnosis. Perjuangannya bahkan sudah mengilhami banyak perempuan.

“Dia menguatkan dirinya sendiri untuk dapat melalui semua penyakit. Beberapa orang telah menyerah tapi dia selalu berpikir dia akan mengalahkan kanker ovarium itu,” ujar Alex Bradford (30 tahun), tunangannya, seperti dilansir Dailymail, Jumat (30/3/2012).

Menurut Bradford, Jemma mungkin memiliki kanker tetapi kanker tak pernah bisa memilikinya. Semua orang kagum dengan Jemma dengan apa yang ia lakukan dan bagaimana ia melawan kanker.

Jemma telah bekerja keras untuk untuk meningkatkan profil Eve Appeal, yayasan penelitian untuk kanker ginekologi. Ia pun ikut serta dalam Great West Run dan Birmingham Half Marathon, dan mengambil bagian dalam Race for Life di akhir pekan setelah ia menjalani kemoterapi.

“Dia sangat inspiratif. Ia selalu bersemangat seolah-olah selalu ada hari esok. Dia sudah tidak kuat ikut Race for Life tapi ia bertekad melakukannya. Ia menyentuh semua orang. Ia bertekad untuk menyampaikan pesan kepada semua wanita muda tentang bahaya kanker ovarium, yang mereka sebut sebagai ‘silent killer’,” ujar ibundanya, Janet Webb.

Jemma dan Bradford bertemu di tempat kerja EDF Energy, Exeter, hanya 9 bulan sebelum ia meninggal dunia. Pada awalnya, Bradford sama sekali tak mengetahui bahwa Jemma menderita kanker, sama seperti rekan-rekannya yang lain.

Pasangan ini menjalani hubungan yang normal. Namun dua bulan setelah itu, kanker mulai menyebar ke hati dan paru-paru Jemma, yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit.

“Tapi saya mencintainya, sesederhana itu,” tegas Bradford.

Pasangan ini pun merencanakan pernikahan pada 18 April mendatang di Colehayes Park, sebuah mansion Grade II Georgia terdaftar di Dartmoor National Park.

Namun pada 16 Maret lalu, kondisi Jemma semakin memburuk dan pasangan itu memutuskan untuk menikah pada 17 Maret. Mereka mengatur izin khusus untuk melakukan upacara pernikahan di rumah Jemma pada 17 Maret pada pukul 16.30 waktu setempat.

Sayangnya pada pukul 15.00, tunangan dan keluarganya harus menerima bahwa Jemma sudah tak bisa lagi bangun dari tempat tidur untuk selamanya.

“Pada hari itu ia jelas sangat senang dan saya juga. Tapi pada pukul 14.00 kondisinya semakin memburuk dan dalam waktu satu jam ia sudah pergi,” ujar Bradford.

like this and share :)