Thursday, March 11, 2010

Tips Menulis dari beberapa penulis best seller

Just a Little Note from HIGH LORD’s author (1):

“Ketika keinginan menulis novel semakin menggebu-gebu, saya putuskan bekerja paruh waktu. Tetap menjadi illustrator tapi juga punya waktu yang pasti untuk menulis. Harus begitu, karena saya juga harus punya pemasukan tetap untuk biaya hidup!”
Trudi Canavan—yang populer lewat trilogi The Magician’s Guild, The Novice,
dan High Lord—menulis di websitenya.

Trudi menambahkan, “Tak cuma membuat waktu khusus untuk menulis buku, saya juga memutuskan untuk ikut kursus penulisan. Saya pilih kelas Fiksi Ilmiah, Fantasi dan Horor. Selain itu, saya juga mengikuti pelatihan tata bahasa. Dan, semua yang saya ikuti itu benar-benar terasa manfaatnya. Setelah ikut kursus menulis, saya bisa menyingkirkan kebiasaan jelek yang dulu sering dilakukan. Saya mendapat begitu banyak masukkan positif dan evaluasi khusus di bidang penulisan genre fantasi. Tetapi, cara terbaik meningkatkan kemampuan menulis adalah menulis. Banyak-banyak menulis. Dalam satu tahun, ternyata saya baru selesai menulis setengah buku - sebanyak 180000 kata!”

Dalam websitenya, www.trudicanavan.com, penulis yang sukses menulis The Black Magician’s Trilogy membuat catatan khusus untuk para penulis tentang Bagaimana Mulai Menulis. Inilah catatannya:

1. Menulis. Memang begitulah seharusnya. Karena satu-satunya cara agar bisa menjadi penulis yang baik adalah latihan, latihan, dan latihan menulis sebanyak-banyaknya. Mulailah menulis sebuah jurnal. Tulislah setiap hari. Tulis sesering mungkin.
2. Baca. Bacalah sebanyak-banyaknya buku-buku yang genrenya sesuai dengan ide tulisan kita. Baca juga buku lainnya, tapi jangan terlalu banyak.
3. Pelajari sekitarmu. Ciptakan selalu sebuah bentuk rasa ingin tahu tentang orang-orang di dekatmu atau di luar sana, pada masa sekarang atau di masa lalu. Lalu, pilih beberapa teman yang memiliki pengetahuan berharga untuk diwawancara. Saya misalnya melakukan wawancara dengan teman yang berprofesi dokter, asisten ahli forensik, guru sastra dan jago bela diri yang antusias agar saya bisa menulis dengan lebih meyakinkan.
Dalam websitenya, Trudi Canavan, penulis novel best seller The Black Magician’s Trilogy: The Magician’s Guild, The Novice dan High Lord memberi catatan khusus untuk para penulis tentang Bagaimana Mulai Menulis: Inilah catatannya:

Apa yang Harus Dilakukan jika Ide Tulisan Macet di Tengah Jalan?

1. Cobalah membuat semacam tulisan pemanasan. Tulis dialog antara dua tokoh. Tulislah tentang seorang tokoh dari sudut manapun termasuk hal yang tidak diduga, misalnya tulisan tentang peristiwa sejarah yang disampaikan kepada seorang anak untuk disisipkan pada bagian dimana sang tokoh sedang bernostalgia.

Sekadar contoh, dialog pemanasan ini juga dilakukan penulis Inggris dari genre fantasi Linda Buckley-Archer dalam buku Gideon the Cutpurse, sebagai berikut:

“Bukankah ia bayi sapi tercantik yang pernah kau lihat” tanya Alice.
“Ini adalah bayi sapi pertama yang pernah kulihat,” Peter mengaku. “Maksudku, aku pernah melihat gambarnya ... tapi itu berbeda ...”
“Mummy akan menamainya Einstein,” kata Issy, saudara kembar Alice.
“Siapa nama induknya?” tanya Peter.
“Erasmus Darwin,” beberapa suara menjawab.
“Oh, begitu,” kata Peter, yang sebenarnya tidak mengerti.
“Ini adalah tradisi keluarga,” Kate menjelaskan. “Menamai sapi dengan nama-nama ilmuwan dan astronom.” Dia menunjuk seekor anak sapi di kandang lain. “Itu Galileo. Umurnya tiga minggu... Erasmus Darwin adalah seorang ilmuwan terkenal, kalau kamu tidak tahu.”
“Yeah, aku tahu,” kata Peter, agak terlalu cepat.

Dialog yang diambil dari halaman 28 buku Gideon the Cutpurse di atas adalah sebuah contoh ide pemanasan yang menarik karena menyisipkan nama-nama ilmuwan terkenal, meskipun sedikit. Dialog itu terjadi di awal cerita sebelum masuk ke inti cerita dimana Peter dan Kate yang menjadi tokoh utama novel tersebut terpental ke masa lalu akibat masuk ke sebuah mesin anti gravitasi tanpa disengaja.

2. Selalu menulis catatan harian. Setiap mulai membuat naskah, tuliskan hal-hal yang diinginkan, hal-hal yang diragukan atau yang paling membuat Anda tertarik, dll. Mudah-mudahan catatan harian akan membuat pikiran Anda tetap fokus terhadap target.
3. Anda terbiasa menulis berjam-jam di depan komputer? Jangan lupa, istirahat. Tinggalkan meja. Lakukan hal lain. Jalan-jalan. Cuci piring. Aneh memang, cuma istirahat sebentar seperti itu, tapi pikiran bisa segar kembali. Tetapi ingat, jangan tergoda untuk mengisi benak Anda dengan hal lain, misalnya membaca dan nonton TV.
4. Lakukan riset. Memang tidak bisa dilakukan untuk semua penulis. Tapi bagi saya, riset kecil-kecilan justru menghasilkan banyak gagasan.


Semoga, sedikit catatan dan contoh kecil dari 2 penulis genre fantasi Trudi Canavan serta Linda Buckley-Archer di atas menambah inspirasi.

Semoga menjadi pencerahan…….

Semoga menjadi pencerahan…….

Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika
Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di
Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah
berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di
Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka
semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk
Islam.


Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di

Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung

tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.

Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya

pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan

duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana

kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk

memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.



Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin

dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap

ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.

Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap

tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku

minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda

ini beranjak keluar.


Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda tahu

bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang

terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang

pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan

beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan

sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan

debat tersebut.


Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan

anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata,

"Silahkan!"



Sang pendeta pun mulai bertanya,

1. Sebutkan satu yang tiada duanya,

2. dua yang tiada tiganya,

3. tiga yang tiada empatnya,

4. empat yang tiada limanya,

5. lima yang tiada enamnya,

6. enam yang tiada tujuhnya,

7. tujuh yang tiada delapannya,

8.. delapan yang tiada sembilannya,

9. sembilan yang tiada sepuluhnya,

10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,

11. sebelas yang tiada dua belasnya,

12. dua belas yang tiada tiga belasnya,

13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.

14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!

15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?

16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?

17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?

18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!

19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?

20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?

21.. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!

22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun,

setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"



Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.



Setelah membaca basmalah ia berkata,

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.

2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12)..

3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan,

membunuh seorang anak kecil dan ketika me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.

4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.

5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.

6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.

7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis.

Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.

Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.

Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan,

musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *

10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan.

Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusu f ...

12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,

'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).

13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruhadalah waktu Shubuh.

Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing. " (At-Takwir: 18).

15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf ,

yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya,

"Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami

tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan

serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,"

tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata,

"Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya

Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara kele-dai." (Luqman: 19).

18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.

19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.

Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).

20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah

dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalahtipu daya wanita,

sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun,

setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari

maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan

buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.



Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda

muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun

ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab

satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"



Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya

diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha

menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.



Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab

pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.



Mereka berkata,

"Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab,

sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu

menjawabnya! "



Pendeta tersebut berkata,

"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun

aku takut kalian marah.



" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."



Sang pendeta pun berkata,

"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah."



Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.

Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka

dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**



* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)

** Kisah nyata ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah melalui

internet, www.gesah.net

Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui

bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan

menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..

Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan

cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..

Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir..

amien

JERITAN PENGAMEN CILIK

Berikut adalah sekedar cerita pengamen cilik yang jeritannya mungkin kalah keras oleh teriakan caleg atau capres yang sedang kampanye Pemilu.
**********
Pagi itu, hujan turun rintik-rintik ketika seorang bocah kecil tanpa alas kaki, berdiri di pinggir jalan. Rambutnya yang acak-acakan, dibiarkannya melambai diterpa angin. Sesekali tangannya yang mungil mengusap wajahnya yang basah terkena rintikan hujan. Dari gerakan matanya, terlihat dia sedang mengawasi kendaraan yang lalu-lalang di depannya.

Tidak lama kemudian, sebuah angkot jurusan terminal Baranang Siang yang kutumpangi, mendekatinya. Mobil itu berjalan merayap di tengah padatnya lalu lintas kota Bogor. Para penumpang yang berpakaian rapih, duduk berderet memenuhi mobil yang berwarna hijau muda tersebut.

"Hups...!" desis bocah itu saat melompat naik ke dalam angkot. Kemudian dia duduk di pintu mobil, tepat di depanku, dengan posisi badannya menghadap ke luar.

Hening sejenak, lalu dia mulai bicara.

"Selamat pagi tuan dan nyonya! Maaf mau numpang ngamen untuk sekedar cari makan" ucapnya tanpa sedikitpun menoleh pada penumpang.

Dikeluarkannya alat musik sederhana, yaitu sebuah 'kecrek' yang terbuat dari kaleng tutup botol yang dipakukan pada sepotong kayu, lalu dengan iringan gemerincing kaleng, dia mulai bernyanyi. Dari mulutnya yang mungil meluncurlah sebuah lagu kenangan yang pernah dipopulerkan oleh Franky Sahilatua.

"Berjalan di lorong pertokoan, di Surabaya yang panas
debu-debu ramai beterbangan, dihempas oleh bis kota..."

Dia bernyanyi penuh semangat. Suaranya kencang seperti menjerit. Berisik memang, namun aku dan penumpang lainnya bersabar menunggu sampai pertunjukkan itu usai.

Sejak awal kehadirannya, mataku tak berkedip memandangi dia yang duduk di depanku. Gerak-geriknya kuperhatikan dengan baik. Perasaan kecewa mulai muncul dalam benakku.

"Hmmm... harusnya jam segini dia ada di sekolah, tapi kenapa malah ngamen?" batinku dalam hati dengan penuh tanya.

Aku kecewa karena pengamen tersebut tidak lain adalah adik asuhku sendiri. Dia adalah Topan, salah seorang bocah 'drop out' yang sering mangkal di sebuah mesjid samping kampusku.

Pertemuan antara aku dan Topan sering terjadi saat salat dhuhur dan ashar tiba. Topan biasanya berdiri di luar mesjid untuk menjaga sandal atau sepatu punya orang-orang yang akan melaksanakan salat. Dari upah menjaga sepatu tersebut, Topan mendapatkan uang recehan untuk sekedar jajan.

Masih terbayang di ingatanku saat pertama kali menyapa Topan.

"Kamu kelas berapa?" tanyaku sambil memakai sepatu.

"Saya tidak sekolah Kak..." jawab Topan dengan tatapan kosong.

"Loh... kenapa?" selidikku penasaran.

"Saya tidak punya uang untuk bayar SPP, beli buku dan seragam sekolah..." tutur Topan menjelaskan alasan kenapa dia putus sekolah.

Aku terdiam mendengar jawaban tersebut. Sebuah jawaban yang merupakan cerita abadi dari ribuan bahkan mungkin jutaan anak miskin yang terus berlanjut di bumi pertiwi. Mereka terpaksa harus putus sekolah karena tidak punya biaya.

Aku pandangi wajah mungil itu dengan sebuah tatapan simpatik dan penuh persahabatan.

"Kamu masih mau sekolah?" tanyaku dengan perasan ingin tahu.

"Mau Kak..." jawab Topan lirih dengan kepala menunduk.

Singkat cerita, Topan kembali masuk sekolah. Sejak saat itu pula aku punya adik baru. Untuk mengejar ketinggalan pelajarannya, sepulang sekolah dia belajar lagi di beranda mesjid. Terutama mengulang pelajaran membaca dan berhitung. Aku cukup puas melihat usahanya dan kemajuan dia dalam belajar.

Namun kejadian di angkot pagi itu, benar-benar di luar perkiraanku. Topan yang harusnya ada di sekolah tiba-tiba kujumpai berada di jalanan sedang mengamen. Ya, sebagai manusia biasa aku merasa kecewa padanya, karena dia bolos sekolah. Hal tersebut akan berdampak pada pendidikannya yang semakin ketinggalan jauh dari kawannya.

Saat itu Topan tidak menyadari kalau dirinya sedang mengamen di depanku. Dia terus bernyanyi menyampaikan jeritan hatinya. Di akhir lagu 'bis kota' yang dia nyanyikan, sebuah lirik ditambahkannya sebagai penutup...

"kalau kami kurang sopan mohon kami dimaafkan
karna kami kurang pendidikan

kalau kami ganggu anda yang berpendidikan
salam kami pengamen jalanan"

Selesai bernyanyi, badan topan berbalik menghadap penumpang. Kemudian dia mengeluarkan bungkus permen yang sudah kosong dari saku celananya, sebagai penampung uang recehan. Sesaat kemudian, tangan kecil mungil menjulur ke penumpang, memohon belas kasihan dari mereka agar mau memberikan sekedar uang recehan, lalu...

"Kakak... !?!" ucapnya kaget, saat sepasang mata kecil itu beradu pandang dengan mataku yang menatap dirinya tajam. Wajah Topan terlihat pucat mengekspresikan perasan terkejutnya bercampur dengan rasa malu dan bersalah.

"Ssssttt.... !" aku menempelkan telunjuk pada bibirku, memberikan isyarat agar Topan tidak bicara. Lalu aku keluarkan uang dan memasukannya pada bungkus plastik yang dipegangnya. Tidak lama kemudian, dia membalikkan badan dan turun saat mobil berhenti di lampu merah.

********

Hari berikutnya, aku mendatangi SD tempat Topan belajar. Namun sayang, dia tidak ada di sekolah. Aku terkejut ketika diberi tahu kalau Topan sudah seminggu tidak masuk kelas.

"Hmmm... bandel juga tuh anak" gumamku dalam hati sambil pamit untuk mencari Topan.

Siang itu aku putuskan untuk mencari Topan di rumahnya. Mungkin bukan rumah, lebih tepat disebut bedeng yang berada di pinggir sungai kecil yang kotor dan bau. Bedeng tersebut terbuat dari batako yang menempel pada rumah orang lain. Ukurannya dua kali empat meter. Dihuni oleh enam orang anggota keluarga.

Ketika tiba di rumah Topan, aku dipersilakan masuk oleh ibunya. Di sana ada ibu, tiga anak balita dan seseorang yang tengah berbaring lemah beralaskan tikar. Dia adalah bapaknya Topan yang bernama pak Ujang. Profesi pak Ujang adalah tukang parkir di pasar Bogor.

"Bapak kenapa Bu?" tanyaku pelan.

"Dia sakit batuk dan demam" jawab ibu itu.

"Sudah ke dokter?"

"Sudah Kak, sudah dua kali ke Puskesmas, namun belum sembuh juga. Kata dokter harus istirahat yang banyak." ucapnya menjelaskan.

Hening sejenak...

"Topan kemana ya Bu? Dia hari ini tidak sekolah." tanyaku lagi.

"Iya, semenjak Bapaknya sakit, Topan menggantikan Bapaknya mencari uang. Dia pergi ngamen tiap hari sejak seminggu yang lalu" jawab ibunya.

Seperti diguyur air es, badanku dingin mendengar penjelasan ibunya Topan. Anak sekecil itu harus berkelahi dengan waktu, mencari nafkah untuk keluarganya. Padahal umurnya belum genap sembilan tahun. Terbayang betapa berat tugas Topan.

Tidak lama kemudian aku pamit. Aku beritahu dia kalau lusa, aku akan meninggalkan Bogor dan aku berharap bisa ketemu Topan terlebih dulu sebelum pergi. Lewat ibunya, aku menitip pesan agar Topan menemui diriku di Mesjid besok siang.

Keesokan harinya, saat selesai salat dhuhur, Topan menemuiku di mesjid. Dengan muka yang lusuh dan terlihat letih dia berbicara.

"Kak kemarin ke rumah ya?"

"Iya, aku mencarimu. Kamu kemana aja?"

"Saya ngamen kak..." ujar dia lirih

Aku tahu dia ngamen untuk menggantikan tugas ayahnya mencari nafkah. Mataku mulai sembab, tidak lama kemudian air mataku meleleh membasahi pipiku.

"Topan, kakak mau pamitan. Kakak sudah selesai kuliahnya" kataku pelan.

Anak itu terdiam sesaat, lalu...

"Kakak akan pergi dari sini?" tanyanya lirih.

"Iya, kakak tidak akan tinggal di Bogor lagi. Kakak dapat kerjaan jauh sekali"

Hening sejenak, hanya isakan tangis dan lelehan air mataku yang bicara...

"Kak maafkan Topan ya... kakak pasti kecewa karena Topan bolos sekolah. Topan mau berterimakasih pada kakak... "

Kali ini aku tak kuat lagi menahan tangis. Bagaikan bendungan pecah, airnya mengalir deras membasahi pipiku. Sambil menangis... kupeluk dia erat sekali...
Itulah pelukan terkahir di hari perpisahan dengannya.

Topan...
Demi bertahan hidup, teruslah menjerit....

Menjeritlah yang keras, sampai semua orang tahu keberadaanmu atau waktu menguburmu dalam ketiadaan.

********* TAMAT *********