Tuesday, May 6, 2014

Laughter is The Best Medicine


Many years ago, Norman Cousins was diagnosed as “terminally ill”. He was given six months to live. His chance for recovery was 1 in 500.

He could see the worry, depression and anger in his life contributed to, and perhaps helped cause, his disease. He wondered, “If illness can be caused by negativity, can wellness be created by positivity?”

He decided to make an experiment of himself. Laughter was one of the most positive activities he knew. He rented all the funny movies he could find – Keaton, Chaplin, Fields, the Marx Brothers. (This was before VCRs, so he had to rent the actual films.) He read funny stories. He asked his friends to call him whenever they said, heard or did something funny.

His pain was so great he could not sleep. Laughing for 10 solid minutes, he found, relieved the pain for several hours so he could sleep.

He fully recovered from his illness and lived another 20 happy, healthy and productive years. (His journey is detailed in his book, Anatomy of an Illness.) He credits visualization, the love of his family and friends, and laughter for his recovery.

Some people think laughter is a waste of time. It is a luxury, they say, a frivolity, something to indulge in only every so often.

Nothing could be further from the truth. Laughter is essential to our equilibrium, to our well-being, to our aliveness. If we’re not well, laughter helps us get well; if we are well, laughter helps us stay that way.

Since Cousins’ ground-breaking subjective work, scientific studies have shown that laughter has a curative effect on the body, the mind and the emotions.

So, if you like laughter, consider it sound medical advice to indulge in it as often as you can. If you don’t like laughter, then take your medicine – laugh anyway.

Use whatever makes you laugh – movies, sitcoms, Monty Python, records, books, New Yorker cartoons, jokes, friends.

Give yourself permission to laugh – long and loud and out loud – whenever anything strikes you as funny. The people around you may think you’re strange, but sooner or later they’ll join in even if they don’t know what you’re laughing about.

Some diseases may be contagious, but none is as contagious as the cure. . . laughter.


Sunday, May 4, 2014

Fakta-fakta Menarik Seputar Psikologi

psikologi, renungan, pikiran

Saat sedang emosi biasanya kita berkata-kata yang tidak seharusnya tapi sebagian besar kata-kata itu kejujuran dari hati.

Orang yang sedih atau tertekan cenderung menghabiskan lebih banyak uang daripada mereka yang bahagia

Jika Anda tidak latihan apa yang sudah dipelajari, Anda lupa 25% dalam 6 jam / 33% dalam 24 jam / 90% dalam 6 bulan berikutnya.

Wanita merasa penampilan terbaiknya hanya bertahan tiga jam pada pagi hari

Peluang seorang wanita terkena kanker payudara semakin meningkat bila mengkonsumsi alkohol berlebihan.

Beban pikiran dan stres adalah penyebab paling umum terjadinya insomnia.

Kemampuan mengendalikan mood (suasana hati) dan menempatkannya di saat yang tepatlah yang membuat seseorang terlihat bijak.

Studi menemukan bahwa 42 persen orang akan menghapus sang mantan kekasih dari daftar teman di sosial media.

Menurut penelitian mengatakan bahwa anak-anak dua kali lebih banyak dipengaruhi oleh televisi daripada orang tua mereka sendiri.

Para peneliti Italia menemukan bahwa, orang lebih bagus dalam menelaah informasi, jika mendengarkan melalui telinga kanan.

Orang yang memiliki kedekatan personal dengan kita, akan cenderung memunculkan perilaku yang mirip dengan kita.

Rata-rata manusia memiliki 3 kebohongan dalam 10 menit percakapan.

85 persen remaja membenci mantan kekasihnya. Namun mereka akan memaafkannya, ketika mereka dewasa.

Orang dengan posisi duduk sambil melihat ke atas kanan sambil tersenyum, cenderung sedang berfikir hal yang indah.

Menurut penelitian psikologi menyatakan bahwa orang yang mengambil foto diri dengan memajukan bibir termasuk gangguan psikologis

Orang yang memberikan senyuman dalam waktu lebih dari lima detik, memberi kesejukan dan arti positif bagi orang yang melihatnya.


Sunday, April 13, 2014

Kisah Inspirasi: Kekayaan Tidak Akan Bisa Membeli Kebahagiaan

kisah inspiratif, cerita inspiratif, TENTANG KEBAHAGIAAN

Pak Handoyo adalah seorang pengusaha paling kaya nomor 2 di kotanya. Pak Handoyo selalu mengajarkan pada keluarganya untuk menabung dan tidak boros. Meski mereka keluarga kaya, namun harus tetap bisa bijaksana dalam menggunakan uang dan harta yang mereka miliki.

Kendati begitu, Pak Handoyo tahu bahwa anak-anaknya terlalu sering bergaul dengan teman-teman dari latar belakang yang sama. Oleh karena itu, Pak Handoyo ingin memberi pandangan lain pada anaknya yang mulai remaja itu.

Suatu ketika, saat liburan sekolah tiba, ia mengajak anaknya untuk bepergian ke desa. Ia ingin menunjukkan padanya suasana pedesaan yang jauh berbeda dengan kota yang riuh dan modern. Sang anak pun melihat rumah-rumah penduduk yang sepertinya seukuran dengan garasi mobil ayahnya.

Pak Handoyo mengatakan, "Lihat, Nak. Rumah-rumah ini lebih kecil dari rumah kita. Apakah kamu bisa melihat seberapa kaya mereka?"

Sang anak melihat ke arah pemukiman yang terhampar di hadapannya. "Iya. Kita punya 1 anjing, mereka punya banyak sapi. Kita punya kolam renang, mereka punya sungai yang besar. Kita punya lampu antik di rumah, mereka setiap malam bisa melihat bulan dan bintang," jawabnya.

Kemudian sang ayah bertanya, "Lantas bagaimana?"

Sang anak kembali menjawab, "Saat kita sering beli bahan makanan, mereka menanam dan memanen sendiri. Aku punya mainan, mereka punya teman. Kita dilindungi pagar yang tinggi dan kokoh, mereka punya tetangga yang saling menyapa. Kita punya tetangga yang punya anak seumuran denganku, tapi aku hampir tak pernah bertemu dengan mereka."

Mendengar jawaban ini, sang ayah tersenyum. Sang anak kemudian menyimpulkan, "Terima kasih, Ayah. Kau telah mengajarkan aku bahwa mungkin kita kaya dan punya segalanya, tapi mungkin.. hidup bukan sekedar tentang semua itu."

Sang ayah mengangguk sambil tersenyum, "Bukan uang yang membuat kita bahagia. Tapi kesederhanaan kecil yang mereka miliki yang sebenarnya membuat seseorang bisa bahagia. Teman, keluarga, sosialisasi, keterbatasan, kerja keras, solidaritas, hal-hal seperti ini sebaiknya kau pelajari sejak muda."

"Ayah tak langsung lahir sebagai orang kaya. Ayah ingin kamu belajar bahwa kebahagiaan lebih penting dari semua yang nanti akan ayah wariskan padamu," ujarnya.

*****

Kemapanan memang bisa mencukupi kita. Seringkali kita berusaha keras untuk mencapai kemapanan dan kemakmuran. Namun, hidup tidak selalu mengenai kemapanan.

Sembari mencukupi materi, jangan lupa untuk selalu berbagi dan mengasihi. Hidup akan kosong bila kita hanya memikirkan target kerja dan materi, sementara tak diimbangi dengan tawa bahagia bersama mereka yang kita sayangi.


Sumber : vemale.com