Showing posts with label 50. Show all posts
Showing posts with label 50. Show all posts

Saturday, April 27, 2013

58. Kisah Menyedihkan Anton

Cerita ini sudah agak lama... terjadi sekitar dua tahun yang lalu... tapi cerita ini sempat membuat saya seminggu tidak bisa tidur dan tidak bisa makan...

Saya tidak terlalu kenal dengan yang namanya Anton... Anton ini seorang supir di Tebo, Jambi, tempat di mana mantan pacar saya pernah bertugas . Anton ini mantan supirnya teman baik saya...

Ceritanya nih... tiba tiba terdengar kabar... Anton sakit kritis di rumah sakit umum daerah Jambi di Jambi... memang Anton ini sudah lama tidak masuk kerja karena sakit... Mula mula tidak jelas juga Anton ini sakit apa... Makin hari Anton makin kritis dan akhirnya terdengar informasi secara samar, kalau Anton ini menderita sakit AIDS yang tinggal tunggu waktu.

Besoknya, mendadak kami mendengar Anton yang meninggal di Jambi... Kami semua kaget... karena tidak menduga secepat itu. Lalu kami segera turun gunung... Jarak tempuh Tebo-Jambi sekitar 4 jam dengan mobil pribadi..

Alangkah kagetnya saya dan mantan pacar, waktu sampai di rumah sakit, sudah sore hari, dan Anton meninggal sejak pagi, ternyata jasad Anton sama sekali tidak terurus dan sudah mulai bau... karena tanpa alasan yang jelas, tidak ada satu pun pihak baik keluarga maupun dari kantornya yang mengurus jasadnya... bahkan jasadnya tidak bisa keluar dari rumah sakit karena masih ada tanggungan pembayaran...

Dan yang mengenaskan, ternyata Anton ini sudah beristri ( saya tidak pernah tahu ) dan istrinya sedang hamil anak pertama, tujuh bulan, dan bayi yang dikandungnya kembar pula.... Istrinya benar benar tidak berdaya, yang ada hanya pingsan-bangun-pingsan lagi... Ya , mengerti deh saya... pasti stress banget... Gimana tidak mau stress dan tidak sakit jiwa... menikah baru 8 bulan, langsung hamil, kembar pula, eh suami langsung meninggal, sakit aids pula lagi.... walah... kalau saya pasti sudah mati terkena serangan jantung... Pikiran saya yang ada langsung negatif saja... aduh bagaimana jika istri dan bayi yang ada dalam kandungan tertular??? Dan bagaimana nasib mereka selanjutnya?? pikiran saya benar benar berkecamuk... gemes banget rasanya... Dan yang janggalnya nih, ternyata tidak satupun keluarga Anton dan keluarga istrinya yang tahu kalau Anton menderita sakit Aids... sebagian dari mereka baru tahu saat melayat di rumah sakit... aduh... sedih banget ga sih??? Mertua perempuan Anton nampak histeris sekali dan bolak balik pingsan juga...

Akhirnya kita sama sama bantu keluarga Anton, kita lunasi tunggakan rumah sakitnya, kita bayar untuk memandikan jenazah, dan kita bayar mobil jenazah untuk membawa jasad Anton ke kampung halamannya di Toba, Sumut...

Sambil menunggu jasad Anton diberangkatkan...saya sempat bertemu dengan orang orang LSM yang mendampingi Anton sampai menghembuskan nafas terakhir... ternyata sebelum meninggal, Anton sempat membuat pengakuan dosa... tujuh tahun yang lalu, dia sempat jajan di Pucuk, komplek pelacuran di Jambi... dia mengaku hanya sekali... dan langsung terkena penyakit jahanam ini.... dan ini sama sekali tidak dia sadari, sampai setahun sebelum dia meninggal.... Dan ternyata korban yang tertular dari pekerja seks komersial dari pucuk ini ternyata tidak sedikit... hanya saja tidak terekspos... Jumlah penderita Aids ini seperti gunung es, yang terlihat publik hanya sedikit dibandingkan jumlah penderita sebenarnya...

Memang tidak baik membicarakan orang yang sudah meninggal... tapi saya benar benar tidak bisa menerima apa yang dilakukan Anton... jika sudah tahu menderita Aids... kenapa juga masih menikah dengan perempuan yang tidak berdosa... yang tidak tahu apa apa.... dan hanya untuk memberikan derita dan aib bagi dirinya??? Benar benar keterlaluan.... saya marah sekali mendengarnya.... Ini kejahatan yang dilakukan dengan sengaja, atau semata karena ketidak tahuan???

Saat itu hadir juga teman saya, mantan bosnya Anton... yang ada pasangan suami istri ini, Bang Franky dan Mba Sari, kebingungan juga dan kaget setengah mati... karena selama tiga tahun bekerja dengan mereka, Anton tidak menunjukan tanda tanda yang mencurigakan... Mba Sari yang ada malah nampak kebingungan karena Anton sering membantu mengasuh empat orang anak anaknya, dan bahkan kabarnya Anton sering mencium anak anaknya... Mba Sari tidak bisa menyembunyikan kecemasannya... Dengan sok tahunya... saya bilang sama Mba, kalau cuma bersalaman atau ciuman di pipi tidak menular... Saya hanya berusaha menenangkan si Mba cantik ini, padahal saya sendiri juga kebingungan...

Dan konyolnya nih...

Setelah jasad Anton berhasil diberangkatkan... saya dan mantan pacar pulang ke rumah... dan apa yang terjadi??? begitu mobil berhenti... tanpa aba-aba... kami berdua balapan lari masuk kamar mandi... karena perasaan tidak enak dan perasaan gatal tidak karuan... kami berantem siapa yang harus mandi duluan... yang ada malah kita langsung mandi berdua selama sejam, gosok dan gosok lagi.... hehehe... kok jadi begini ya??? Padahal kita kan juga tahu, tidak bakal tertular begitu saja....

Beberapa bulan kemudian kami mendengar kalau hasil tes Elisa menunjukan kalau istrinya tidak tertular... tapi ini belum final, karena masih harus tes lagi enam bulan kemudian dan harus melewati masa inkubasi selama tujuh tahun sebelum dinyatakan bebas dari Aids.... Akhirnya istrinya melahirkan kedua anak kembar ini melalu operasi caesar dengan bantuan LSM... namun kedua anak nya juga belum jelas kabarnya, apakah terinfeksi juga atau tidak...

MORAL OF THE STORY....

Girls... siapkan mental kamu, disekitar kita banyak penderita AIDS... persiapkan mental dan lengkapi diri dengan pengetahuan jika hal ini terjadi ( amit amit , knock knock on the wood... ) pada orang orang yang ada disekitar kita... keluarga, kerabat, teman, atau tetangga yang ada disekitar kita... kita tidak perlu mengucilkan, menghujat atau menghakimi mereka... Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita semua.

Saturday, April 20, 2013

50. Kisah Mengharukan Anak 6 Tahun

Kisah Mengharukan Anak 6 Tahun, Memulung Demi Menghidupi Ayahnya yang Lumpuh

Satu lagi sebuah kisah yang sangat mengharukan dari Negeri Tirai Bambu, seorang anak kecil di Dajiyuan, menghidupi ayahnya yang lumpuh dengan menjadi seorang pemulung. Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.

Adegan yang mengharukan

Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh

Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya.

Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup.

Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah aman dia baru menyeberang. Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit.

Satu keluarga 3 orang menempati rumah 8 m2

Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil seukuran 8 m2, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB (Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21″ sudah merupakan barang mewah.

Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding, itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga.

Di samping pintu yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada “dapur” yang dibuatnya sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. “Makanan dan minyak di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, cuma makan malam yang agak lumayan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan.” Kata Xiong Chun.

Setiap hari memijat papanya 3 kali

Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse Tse.

Tangan Mungil Tse Tse sedang memijak kaki papanya

Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur.

“Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga.” Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan: “Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini.”

Boneka 5 Yuan yang paling disukainya

Mama membawa dia memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan.

Tse Tse dengan tekun merawat papanya

Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. “Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya,” Kata Xiong Chun.

Begitu Tidak Boleh Sekolah, Langsung Menangis

Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan memindahkan “Meja kecilnya” keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya. “Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lagi,” kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis.

Xiong Chun berteriak, “Hidup normal saja bermasalah, masih harus kasih dia sekolah, sungguh susah, bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja.” Tse Tse yang sedang bermain boneka, begitu mendengar kata papanya, langsung menangis. Xiong Chun menarik Tse Tse ke sisinya, membujuk: “Papa akan usahakan kamu sekolah, biar kamu bisa sekolah!” Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis, dengan tangan mungilnya dia menyeka air matanya.

“Terhadap Tse Tse, saya sungguh menyesal….,” sambil menangis tersedu, Xiong Chun sudah tidak dapat berkata lagi. Xiong Chun berkata: “Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah harapan saya.”