Wednesday, March 13, 2013

Renungan Saat 10 menit terakhir


Setiap Orang Pernah Putus Asa. Putus Asa Itu Wajar, Selama Kita Masih Bisa Survive, Dan Jangan Sampai Diri Kita Dikuasai Oleh Keputusasaan Yang Berkepanjangan Dan Membuat Kita Menyerah, Seperti Cerita Dibawah Ini.

"Ayah, Aku Tidak Mau Lagi Bermain Di Sekolah Sepak Bola Itu" Sahut Andi Yang Terlihat Kesal Setibanya Di Rumah, Setelah Berlatih Sepak Bola.


"Mengapa Demikian ?" Sahut Ayahnya

"Aku Tidak Pernah Bermain Secara Full Time ! Aku Selalu Bermain Di 10 Menit Terakhir, Bahkan Tak Jarang Pula Pelatih Itu Mengkritik Permainanku. Sepertinya Dia Membenciku"

"Sepertinya Tidak" Jawab Ayahnya, "Justru Pelatih Itu Menyukaimu "Sahut Ayah.

"Maksud Ayah ?" Tanya Andi Yang Kebingungan

"Seseorang Hanya Mampu Memberi Kritik Apabila Ia Memperhatikan Segala Hal Yang Dia Kritik. Sebagai Contoh, Kamu Yang Mengkritik Pelatih Itu, Karena Kamu Memperhatikan Dia, Yang Selalu Menyuruhmu Bermain Di 10 Menit Terakhir, Dan Selalu Mengkritik Permainanmu"

"Terus Kenapa Yah ?" Jawab Andi

"Itu Berarti, Ia Senantiasa Memperhatikanmu, Ia Tak Melepaskan Pandangannya Darimu, Bahkan Ia Tau Persis Dimana Kelemahanmu. Ia Mengkritik, Agar Kamu Tahu Letak Kelemahan Dan Kesalahanmu Sehingga Kamu Mampu Memperbaikinya" Jawab Ayah Dengan Bijak

"Terus Bagaimana Jika Ia Hanya Mengijinkanku Bermain 10 Menit Terakhir ? "Tanya Andi.

"Apa Kau Bermain Dengan Semangat ? Sepenuh Hati ? Tanya Ayah
Untuk Apa, Hanya 10 Menit, Itupun Belum Tentu Dapat Bola
Kalau Begitu Itu Cukup Adil Kok "Jawab Ayah

"Pelatih Percaya Padamu, Untuk Dapat Membawa Perubahan Di 10 Menit Terakhir, Dan Kau Bermain Dengan Tidak Semangat Dan Setengah Hati ? Pelatih Itu Mengandalkanmu, Dan Kamu Menyia-Nyiakan Kesempatan Yang Dia Beri !" Sahut Ayah

"Kalo Begitu, Kenapa Dia Tak Memainkanku Dari Awal ?" Tanya Andi

Ini Seperti Kehidupan, Yang Terkadang Diatas ,Terkadang Dibawah, Siapa Yang Tahu Kalo Kamu Adalah Senjata Rahasia Pelatih ? Yang Mengirimkan Temanmu Untuk Menghabiskan Stamina Lawan, Dan Mengerahkanmu Yang Segar Bugar Untuk Mencetak Gol

"Oh Begitu Yah, Kini Aku Mengerti" Ujar Andi.

Jangan Menyerah, Karena Ia Belum Menyerah Padamu, Seperti Tuhan Kita, Yang Senantiasa Memiliki Rencana Bahkan Di 10 Menit Terakhir Setiap Saat Yang Kita Lakukan. Semangat Untuk Kita Semua.

Tuesday, March 12, 2013

41. Cerita Mengharukan Aku Terus Berlari di Kegelapan Malam

Diceritakan, Rukmini yang berada di rumah Abdullah merasa sangat terkekan dan tidak betah. Di samping gaji yang diterimanya tidak sesuai dengan perjanjian, ia pun sering dimarahi, disiksa, bahkan dilecehkan. Bertahankan Rukmini dengan keadaan itu? Inilah akhir kisahnya yang ditulis Kuswari. Semoga dapat dijadikan cerminan.

Rumah istri muda Abdullah sangat besar berlantai tiga. Aku di rumah itu sendirian sebagai pembantu rumah tangga. Pekerjaanku sangat berat, apalagi di rumah itu ada 7 orang anaknya yang selalu minta dilayani. Ini membuat aku benar-benar kelelahan. Pekerjaanku tidak sesuai dengan gaji yang kuperoleh. Aku hanya menerima satu juta lima ratus ribu rupiah, padahal dalam perjanjian dengan perusahaan akan menerima dua juta.

Aku tidak banyak protes, aku terima saja uang sebesar itu meski sangat mendongkol. Aku mencoba untuk bersabar dan tidak banyak bicara, bekerja seperti biasa. Namun yang membuat aku cemas dan khawatir adalah kelakuan Husen yang memperlihatkan gelagat tidak baik. Husen pernah beberapa kali masuk ke dalam kamarku di tengah malam, di saat di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Aku berontak dan melawan sekuat tenaga.

Aku hampir saja putus asa menghadapi lelaki yang sudah kemasukan setan. Aku melawan dengan tangan yang meronta-ronta serta kaki yang menendang. Namun ia bisa menghindar.
v Husen tidak mau melepaskan buruannya begitu saja, apalagi dia tahu bahwa badanku kecil sehingga semakin bernafsu untuk menaklukkanku. Tenaga Husen memang kuat.

Kulihat matanya dan wajahnya memerah, dia seolah kucing kelaparan yang akan menerkam seekor tikus. Napasnya ngos-ngosan dan jantungnya berdetak kencang, pertanda nafsu setannya sedang bergemuruh dalam dadanya.

Aku meronta dan menjerit-jerit saat Husen semakin ganas merangkulku dan memaksa aku melayani nafsu setannya. Aku hampir terdesak, tenaganya begitu kuat dan tak sebanding denganku. Napasku sudah sesak, aku sudah pasrah menghadapi tekanan Husen yang begitu kuat. Aku berusaha untuk melepaskan diri. Mendadak aku mempunyai kekuatan ketika kakiku berontak, menendang alat vital Husen sekeras-kerasnya. Dia berteriak kesakitan, matanya mendelik menahan sakit.

Segera saja aku berdiri saat melihat Husen meringgis. Aku bergegas lari keluar kamar. Untung saja, kamar tidak dikunci sehingga aku bisa leluasa keluar kamar.

Tanpa pikir panjang aku segera saja keluar rumah di tengah malam. Aku sudah tidak memedulikan nasib yang kelak akan menimpa diriku. Lebih baik segera melarikan diri, keluar dari rumah setan yang akan membahayakan diriku. Aku bertekad akan pulang kampung, yang penting aku selamat. Syukur kalau aku bisa bekerja lagi, namun nampaknya aku tidak ingin lagi bekerja di Arab. Aku benar- benar kapok menjadi pembantu. Lebih baik hidup di kampungku sendiri, meski paspasan tetapi aku tidak merasa tertekan.

Aku berlari meninggalkan rumah majikan. Suasana masih gelap di sekelilingku, namun aku tidak merasa takut, sebab sejak beberapa hari yang lalu aku sebenarnya sudah nekat untuk keluar dari rumah majikan. Aku benarbenar merasa berada di dalam neraka jahanam.

Kehidupaku merasa terancam. Aku sama sekali tidak ingin kembali rumah yang terkutuk itu. Aku ingin pulang ke kampung halaman, aku ingin hidup sebagaimana layaknya gadis-gadis yang ada di kampungku.

Ditolong mahasiswa

Aku terus melangkahkan kaki di sebuah daerah yang sangat sepi. Ketika aku sedang terus berjalan, tiba-tiba aku terkejut sebab di depan ada dua orang lelaki yang sejak tadi mengawasiku. Aku takut menghadapi orang yang baru kukenal, apalagi keadaan yang sepi.

Aku hanya bisa berdoa dan pasrah menghadapi dua orang lelaki yang tidak aku kenal. "Kamu mau kemana?" tiba-tiba salah seorang diantara mereka bertanya dengan bahasa Indonesia, tentu saja aku bahagia, berarti orang ini sama-sama berasal dari Indonesia.

"Tolonglah, Pak. Aku mau kabur dari rumah majikan, mereka sangat jahat dan akan memperkosaku," kataku memelas dan berderai air mata.

"Allahu Akbar!" teriak salah seorang lagi seraya mendekatiku dan menggelengkan kepada manakala melihat mukaku yang bengkak bekas pukulan majikan.

"Kami juga tenaga kerja Indonesia yang sama-sama sedang mencari nafkah di negeri Arab ini, kami kebetulan di sini sedang belajar," ujarnya.

Aku gembira mendengar keduanya yang ternyata mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Mereka rupanya kasihan melihatku, lalu berusaha membantuku dan membawa aku ke KBRI.

Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih atas kebaikan dua orang lelaki yang berasal dari Jawa Timur itu. Mereka pun memberi nasihat agar aku pulang saja ke Indonesia, sebab bekerja di Arab sebagai pembantu banyak risikonya. Aku mengangukkan kepala akan menuruti apa yang mereka ucapkan.

Rupanya di KBRI tidak hanya aku yang mengalami tindakan yang tidak senonoh itu.

Beberapa orang pembantu lain pun mengalami nasib yang sama, bahkan ada yang lebih parah dariku. Aku menarik napas panjang, beruntung aku sudah berada di KBRI sehingga aku bisa mempersiapkan diri untuk pulang kampung. Pihak kedutaan mempunyai perhatian terhadap kasus yang dihadapi olehku, maka mereka berusaha untuk membantu.

Untuk sementara aku tinggal di KBRI sambil menunggu kepulangan ke Indonesia. Aku berterima kasih atas pelayanan yang diberikan mereka yang sangat perhatian sekali dan berkeinginan untuk membantuku.

Banyak hikmah yang kuperoleh selama aku berada di KBRI, sebab berbagai masalah tenaga kerja wanita maupun laki-laki, ada saja yang melaporkan ke kedutaan. Berbagai masalah muncul yang sebagian besar menimpa kaum perempuan.

Beberapa orang yang tinggal bersamaku, ternyata mengalami kasus yang jauh lebih mengerikan, ternyata temanku satu kamar itu diperlakukan bagaikan binatang oleh majikan di Arab.Bahkan dia telah melahirkan seorang bayi akibat pemerkosaan yang dilakukan oleh majikannya. Aku hanya berurai air mata ketika mendengar kisahnya yang sangat memilukan dan menyentuh hati. Semoga tidak ada lagi TKW yang diperlakukan bagaikan binatang.

(Tamat)

Semoga Bermanfaat Bagi kita yang berfikir :)

Monday, March 11, 2013

40. Cerita Mengharukan Suami Istri

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.

Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru.Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica,"Pa liat"! Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya.

Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi "Wah,. buku baru ya Jes?"

"Ya papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya."Bacain Jessi dong Pa" pinta Jessica lembut

"Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah Budi dengan cepat.

Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu"pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi"

Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya"

"Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu"

"Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan" Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi."Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka""Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" kata Budi membentaknya dengan keras.

Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis , matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya"Iya pa,. lain kali ya pa?"Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah."Pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger".

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya.Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi.

Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang papa mama"

Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji.Kini yang ada hanyalah penyesalan.Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana.. pun tidak terpenuhi.

Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali",...papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger"kata-kata Jessi terngiang-ngiang kembali.

Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan.Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.

Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.

"Jessi dengar papa baca ya"selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi

"Jessi, papa mohon ampun nak""papa sayang Jessi!"

Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujud dan menangis memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli kepada kita.

ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ?

BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALIBerilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai.

LAKUKAN SEKARANG!!!]

Semoga bisa menjadi bahan inspirasi yang positif :)