Friday, July 23, 2010

●●K.E.C.E.W.A●●

Setiap manusia pasti mengalami yang namanya kecewa, mulai dari anak anak hingga orang lanjut usia, tak terkecuali siapapun itu.

Namun, ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk meminimalkan rasa kecewa dalam hidup.

Selain berlaku pada orang dewasa dan remaja, mulai dini tidak ada salahnya jika kita juga menanamkan nilai nilai positif ini dalam hidup buah hati kita.

Agar tidak mudah kecewa , kita perlu memiliki mental yang nerimo dan rela (mudah melepaskan). Orang yang nerimo memiliki pandangan hidup yang fleksibel dan santai, tidak ngeyel dan ngotot, serta tidak mudah menuntut.
Salah satu sumber terbesar kekecewaan adalah sikap menuntut.
Ketika kita menuntut seseorang dengan sikap yang kita mau, dan ketika hal itu tidak terjadi, maka disitulah timbul kekecewaan.
Kekecewaan juga muncul saat harapan2 kita kandas.
Cita2 kandas, hubungan kandas, situasi yang ada tidak seperti yg kita pikirkan, dan keinginan yang tidak terpenuhi adalah beberapa contoh yang sering membuat kita kecewa.

Memang benar kita harus menggantungkan cita2 setinggi langit, namun kita juga harus memiliki mental netral, seperti : Berharap yang terbaik, namun juga bersiap untuk yang terburuk. Ingatlah segala kemungkinan bisa terjadi, baik maupun buruk.

Mengingat kita juga adalah manusia yang terbatas juga dapat membawa depresi menjauh dari kita.

Juga perlu diingat, kita tak mampu mengendalikan orang lain atau apa2 yang terjadi didepan kita, namun kita bisa mempersiapkan dan mengendalikan diri kita,reaksi kita sendiri.

Ingatlah kata2 bijak ini : kita tidak dapat mencegah burung terbang diatas kepala kita,namun kita dapat mencegah agar burung itu tidak bersarang di kepala kita.

Jadi, mari persiapkan diri kita untuk menghadapi setiap keadaan dengan sikap mental yang rela, nerimo, dan syukurilah utk segala hal yang terjadi karena itu baik adanya.

Terlebih, hikmah lebih mudah ditemukan lewat penderitaan dan kesusahan dari pada melalui kesenangan. Setuju ?

Tetap semangat !

●●Masih Ada Waktu●●

Jika dalam sehari ada 24 jam, maka berapa jam masing-masing Anda habiskan untuk bekerja, tidur, makan, mandi, berolahraga, membaca?

Bagaimana dengan berdoa, memberi pelukan, memberikan ciuman pada orang yang Anda kasihi, atau sekedar menyapa orang tua Anda dan berbincang dengan mereka?
Sepertinya waktu yang kita miliki hanya habis untuk diri kita sendiri.
Namun lebih banyak waktu itu habis untuk bekerja (yah setidaknya begitulah alasannya).

Ketika ditanya seberapa sering Anda berbincang dengan ibu, Anda akan menjawab “Yah mungkin hanya beberapa menit dalam sehari, itupun jika masih ada waktu untuk berbincang”, Anda kemudian akan membela diri Anda dengan mengatakan Anda terburu waktu karena banyak pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan.

Lalu ketika ditanya lagi berapa pelukan dan ciuman yang Anda berikan kepada keluarga atau orang yang Anda sayangi, jawaban Anda mungkin, “Saat mereka sedang berulang tahun mungkin, ah saya tidak ingat.”

Catat, itu baru berbincang dan sekedar memberi ciuman dan pelukan yang tidak memakan waktu lama.
Bagaimana dengan berdoa?
Hmmm… sepertinya akan banyak jawaban, “Yah belum ada kesadaran di dalam diri sih, mau bagaimana lagi daripada dipaksa dan hasilnya tidak khusyuk…”

Seringkali hal-hal tersebut kita anggap remeh, kita selalu merasa tidak punya banyak waktu untuk melakukannya.
Sedang untuk bekerja, jalan-jalan, hang out dengan teman-teman, nonton film di bioskop dengan pasangan Anda masih bisa Anda lakukan.
Mengapa Anda selalu berkata “Saya tidak punya waktu untuk bla bla bla…” Benarkah sesungguhnya Anda memang tidak punya waktu?
Sahabat, setiap hari kita diberi waktu yang cukup panjang untuk melakukan segala hal yang kita inginkan.

24 jam adalah waktu yang cukup panjang untuk melakukan banyak kegiatan, apalagi hanya sekedar memberikan pelukan dan ciuman kepada ibu, ayah, atau orang yang kita kasihi.

Mari kita ubah pemikiran kita, mulailah dengan mengatakan “Saya punya banyak waktu untuk melakukan segala sesuatu yang saya inginkan…” Bukankah ini adalah suatu kepuasan yang memang kita cari?
Belajar mengatur waktu dan menyempatkan untuk melakukan hal-hal yang sering kita lewatkan.
Hal-hal yang sering kita anggap remeh namun ternyata memiliki suatu makna yang sangat penting di dalam hidup.
Lanjutkan dengan mengatakan kepada orang yang kita sayangi betapa kita mengasihi mereka.
Ya sahabat, Anda punya banyak waktu untuk melakukan semua yang Anda inginkan.
Anda punya banyak waktu untuk menjadi sukses.
Tidak hanya sukses di dunia, namun juga utamanya sukses diakhirat.

Ikhlas apa Pelit?

Bersedekahlah dengan ikhlas, bukan karena terpaksa atau ingin dilihat orang, tapi hanya mengharap ridha Allah swt semata.
Allah swt tidak melihat amal sedekah seseorang semata dari jumlahnya, tapi juga niat dan keikhlasannya.
Jumlah yang banyak bisa jadi tidak bernilai ibadah manakala niat dan tujuannya hanya ingin dilihat tetangga.
Sementara, meski jumlahnya sedikit, tapi jika dikeluarkan dengan ikhlas, hanya mengharap ridho Allah, maka nilai ibadahnya akan menjadi besar.
Apa lagi jika yang kita sedekahkan jumlahnya besar, insya Allah nilai ibadahnyapun akan semakin besar.
Tapi, sayangnya kita sering salah menerapkan makna ikhlas dalam beramal. Biar sedikit yang penting ikhlas, akhirnya kita terbiasa ikhlas beramal hanya dalam jumlah yang sedikit.
Dapat kita temui faktanya di lapangan, perbedaan ketika beramal dengan ketika kita mengeluarkan harta untuk kepentingan dan kesenangan dunia.

Acara kumpul dengan tetangga sambil bakar ikan atau ayam misalnya, dengan ringan kita mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk patungan.
Tapi ketika ada petugas mushola yang datang, uang lima ribu rupiah rasanya sudah cukup, yang penting ikhlas.

Atau juga di kantor, meski makan siang sudah disediakan oleh perusahaan, jika menunya tidak cocok dengn selera, maka mengeluarkan dua puluh ribu untuk membeli makanan di luar tidaklah sayang.

Sementara ketika ada edaran sumbangan duka cita, beberapa lembar uang ribuan dirasa sudah cukup pantas, lagi-lagi yang penting ikhlas.
Ada perbedaan yang jelas saat kita mengeluarkan harta kita untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Kalau ikhlas diartikan tidak dengan paksaan, atau tidak mengungkit-ngungkit apa yang sudah kita keluarkan, memang itulah namanya ikhlas.

Tapi yang berbeda adalah, kita cenderung ikhlas mengeluarkan harta kita dalam jumlah yang besar hanya untuk kepentingan dan kesenangan dunia.
Sementara untuk kepentingan akhirat, kita cenderung ikhlas hanya dalam jumlah yang kecil.
Orientasi kita masihlah cenderung seputar dunia saja.

Kita sering berlaku curang, memakai alasan ikhlas untuk menutupi pelit yang sebenarnya.
Tidak semua orang, tapi yang seperti ini benar-benar ada.
Atau jangan-jangan kita termasuk di dalamnya? Astaghfirullah, mudah-mudahan tidak.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : seorang lelaki menemui Nabi Muhammad Saw dan bertanya, “ya Rasulullah Saw, sedekah apakah yang paling utama?
” Nabi Muhammad Saw menjawab, “sedekah yang kau berikan ketika kau dalam keadaan sehat, kikir dan takut terhadap kemiskinan dan menginginkan kekayaan.
Janganlah menunggu sampai dekatnya saat kematian dengan mengatakan, ‘untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian, dan harta tersebut telah menjadi milik ahli warisnya’”.

Mari, kita rubah cara pandang kita dalam beramal.
Tetap yang utama adalah niat dan keikhlasan, namun jangan selalu dalam jumlah yang kecil, kecuali hanya jika benar-benar terpaksa.
Jangan sampai terjebak pada kepentingan dan kesenangan duniawi saja.
Barangkali kita perlu merubah prinsip dalam beramal sedekah, dari ‘biar sedikit yang penting ikhlas’ menjadi ‘biar banyak yang penting ikhlas‘. :D

Ikhlas apa pelit?
Pertanyaan yang menarik, bukan siapa yang mengucapkan dan siapa orang yang dimaksudkan, namun aku merasa bahwa pertanyaan ini berlaku juga untukku dan perlu aku renungkan.
Bagaimana anda menyikapi pertanyaan ini?