Thursday, June 7, 2012

Terimalah Dia Apa Adanya

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah.

Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. “Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita”.

Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…..” Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.

Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir….. “Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya. “Oh tidak, lanjutkan… ” jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia “Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.

Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. ”

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…..

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal- hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

Tuesday, June 5, 2012

Wahai Tuhan Yang Maha Mengerti

Wahai Tuhan Yang Maha Mengerti mengetahui diriku lebih dari aku Wahai Tuhan Yang Maha Memahami memahami keinginanku jauh sebelum aku ingin Wahai yang begitu lembut teguranNya ... Yang indah dan memperindah segala sesuatu Wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengatur Sesungguhnya Engkau sangat pahami aku. bukan aku tidak patuh padaMu. aku telah berusaha keras melupakannya. aku berusaha keras membuka diri dan hatiku kembali. tapi aku takut. aku coba keras untuk ikhlas. aku tak mau mengatakan ikhlas dalam lisanku, sementara hatiku tidak mengikutinya. Duuhai Allah.. aku takut pada ketakutanku, karena aku tak bisa menyembunyikan semuanya dariMu, tentang perasaanku padanya. Wahai TAllah yang begitu menyayangiku, apakah mimpi-mimpiku terlalu sederhana untuk Kau wujudkan? atau tidak bolehkah aku hanya memendamnya saja kepadaMu. haruskah akumengatakannya, sementara Engkau Maha Mengetahui. Dulu, pada mimpi sederhanaku aku hanya ingin seseorang yang hadir sekali dalam hidupku. seseorang yang mampu memeluk hatiku. seseorang yang kepadanya aku, Kau haruskan berbakti. kemudian Kau hadirkan lagi orang-orang baru dari kami. aku, dia, anak-anak kami dan keridhoanMu pada kami. mimpi itu Kau wujudkan, tapi tidak padaku melainkan pada sahabat-sahabatku yang mimpinya lebih tinggi dariku. Tuhan, kenapa mimpi sederhanaku Kau wujudkan pada mereka? kenapa tidak padaku? apa aku tak pantas memiliki mimpi sesederhana itu? atau mimpi itu terlalu sederhana untukku? kini aku takut mempunyai mimpi itu lagi. aku harus mengganti mimpiku. tapi mimpi apa? sementara mimpi-mimpiku yang indah, tinggi dan banyak akan hadir setelah mimpi sederhanaku menjelma nyata. tapi kini aku takut. aku tak mau lagi, Tuhan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih diatas semua yang mempunyai belas kasih maafkanlah aku, maafkan kerasnya hatiku Wahai Tuhan, penolong setiap jiwa yang merana aku sudah berkali-kali bicara pada hatiku Oh hati, kenapa engkau keras begitu apa kau ingin aku marah kepadamu? hati, kau bagai kupu-kupu mudah tertarik warna-warni bunga dan menghisap madu tapi sudahlah hati, berhentilah hinggap di bunga itu lihat! masih banyak bunga-bunga yang lain masih banyak madu-madu yang tersimpan pada bunga-bunga lainnya itu hati, kau membuatku menangis pilu tingkahmu membuatku semakin takut pada Tuhanku sebentar lagi aku akan marah padamu hatiku! lalu aku teringat doa dari sebuah kisah teladan, Wahai Tuhan, sungguh Engkau lebih tahu keadaan diriku yang selalu berbuat maksiat dalam hati kecilku, sungguh aku sangat membenci kemaksiatan yang aku lakukan tapi karena aku terpengaruh oleh tiga perkara yang selalu menggodaku, yaitu nafsu, teman yang jahat dan iblis. Wahai Tuhan, sungguh Engkau Maha Mengetahui perilaku yang telah aku lakukan, semua rasa yang aku simpan. hingga berkenan kiranya Engkau curahkan ampunanMu kepada hambaMu yang bersimbah dosa ini Aku sudah berusaha keras melupakanmu tapi belum mampu

Friday, May 25, 2012

Kisah 2 lembar Uang kertas yang bersaudara


Uang Rp.1000,- dan Rp 100.000,- sama2
terbuat dari kertas, sama2 dicetak dan
diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia.
Pada saat bersamaan mereka keluar
dan berpisah dari Bank dan beredar di
masyarakat. Empat bulan kemudian
mereka bertemu lagi secara tidak sengaja
di dalam dompet seorang pemuda.
Kemudian di antara kedua uang tersebut
terjadilah percakapan, uang Rp.100.000
bertanya kepada uang Rp.1000.


“Kenapa
badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau
amis…? “
Dijawablah oleh uang Rp. 1000,

“Karena aku
begitu keluar dari Bank langsung
berada di tangan orang2 bawahan, dari
tukang becak, tukang sayur, penjual
ikan dan di tangan pengemis.”

Lalu Rp.1000 bertanya balik kepada
Rp.100.000, “Kenapa kamu kelihatan
begitu
baru, rapi dan masih bersih? “

Dijawab oleh Rp. 100.000, “Karena begitu
aku keluar dari Bank, langsung
disambut perempuan cantik dan
beredarnya pun di restauran mahal, di
mall
dan juga hotel2 berbintang serta
keberadaanku selalu dijaga dan jarang
keluar dari dompet.”

Lalu Rp.1000 bertanya lagi, “Pernahkah
engkau mampir di tempat ibadah? “
Dijawablah, “Belum pernah.”
Rp.1000. pun berkata lagi, “Ketahuilah
bahwa walaupun keadaanku seperti ini
adanya, setiap Jum’at aku selalu mampir
di Mesjid2, dan di tangan anak2
yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada
Tuhan. Aku tdk dipandang manusia
bukan karena sebuah nilai tapi karena
manfaat…”

Akhirnya menangislah uang Rp.100.000
karena merasa besar, hebat, tinggi tapi
tidak begitu bermanfaat selama ini.
Jadi bukan seberapa besar penghasilan
Anda, tapi seberapa bermanfaat
penghasilan Anda itu.

Karena kekayaan
bukanlah untuk kesombongan. Semoga
kita termasuk golongan orang- orang yang selalu
mensyukuri Anugerah dan memberi
manfaat untuk semesta alam serta
dijauhkan dari sifat sombong.


Kisah tersebut hanyalah perumpamaan meski sangat mendekati real apa yang dialami keluarga uang kertas tersebut……