Tuesday, November 2, 2010

Demi ALLAH ●●●●

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 02 November 2010
 
 
 
♥♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Teruntuk para pejuang Dakwah..,
Teruntuk para penyeru Kebaikan..
Teruntuk para penegak panji Kebenaran..
Teruntuk Hamba Allah yang senantiasa memperbaiki diri..
Yg bergerak perlahan namun pasti….
Yang banyak kewajiban namun terkadang hak-hak pribadi tak terpenuhi…
Yang punya kekurangan namun terus memperbaiki diri…
Yang selalu tegar dalam kesakitan…


IKHLASLAH……….
Buanglah jauh-jauh dari lubuk hatimu kecintaan pada dunia semata….
Buanglah jauh-jauh dari dirimu rasa ingin dilihat dan dihargai….
Buanglah jauh-jauh dari sifatmu rasa pamrih dan riya' dalam beramal…
Buanglah jauh-jauh dari pikiranmu kecenderungan untuk bersandar kepada orang lain…


ISTIQOMAHLAH……
Jangan tanya ke mana yang lain.
Jangan tanya mengapa kita sendiri.
Jangan mengingat apa yang kita dapat.
Jangan mengingat apa yang kita korbankan.


TEGARLAH…
Karena sesungguhnya Allah telah memilih diri kita,
maka tetaplah bersabar dan ikhlaslah,
bersyukurlah atas kesempatan yg Allah berikan di jalan ini,
jalan yang mungkin pahit namun surga Allah itu manis.”


KUATLAH….
Karena sesungguhnya Allah selalu menolong hamba-hambanya yang senantiasa menolong Agama-Nya.
Dan sungguh Allah dan orang-orang beriman selalu melihat dan mengiringi amal-amal kita.


BERSABARLAH…..
Karena sesungguhnya orang-orang yang bersabar tidak akan pernah merasa sempit.
Dan Janganlah menjadikan kekecewaan sebagai penghalang untuk berbuat yang terbaik.


BERSYUKURLAH…
karena Allah melimpahkan segalanya untuk kita sebagai ujian, pelajaran, hikmah, dan rahmat dari – Nya.
Dan Allah akan menambah nikmat orang2 yang senantiasa bersyukur…


TEGASLAH…
bahwa islam adalah agama yg benar dan janganlah setengah2 dlm berkorban untuknya.
Bahwa dakwah ini jalan hidup kita, hak yg seharusnya kita dapat bkn sebagai kewajiban/beban.
Mengatakan Laa Illaha Ilallahu, satu2nya dzat yang kita harus mempertanggungjawabkan apa2 yg kita perbuat di dunia….

Semoga Allah melimpahkan keistiqomahan.

♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

SAYA INI SEDANG FUTUR ●●●●

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 02 November 2010
 
 
♥♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Saya ini sedang futur...
Terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekan.
Dengan alasan klasik...
kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah.

Saya ini sedang futur...
Jarang baca buku tentang Islam,
lagi demen baca koran.
Dulu tilawah tidak pernah ketinggalan,
sekarang satu lembar udeh lumayan.
Tilawah sudah tidak berkesan,
nonton layar emas ketagihan.

Saya ini sedang futur...
Mulai malas sholat malam, jarang bertafakkur.
Ba'da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur.
Apalagi waktu libur, sampai menjelang dzuhur

Saya ini sedang futur...
Lihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsit.
Kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit.
Apalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah.

Saya ini sedang futur...
Tak lagi pandai bersyukur.
Seneng disanjung, dikritik murung...

Saya ini sedang futur...
Malas ngurusin da'wah, rajin bikin ortu marah.
Sedikit sekali muhasabah, sering kali meng-ghibah.

Ya... saya memang sedang futur....

Mengapa saya futur...???
Mengapa tidak ada satu ikhwah pun yang menegur dan menghibur???
Kenapa batas-batas mulai mengendur???
Kepura-puraan, basa basi dan kekakuan subur???
Kenapa di antara kita sudah tidak jujur???

Kenapa ukhuwah di antara kita sudah mulai luntur???
Kenapa di antara kita hanya pandai bertutur???
Ya Allah... berikan hambaMu ini pelipur...
Agar saya tidak semakin futur.
Apalagi sampai tersungkur....

Kalian tau saya sedang futur....
Sedikit dzikir, banyakan tidur.
Sahabat-sahabat tidak ada yang negur.

Kalian tau saya sedang futur....
Hati beku, otak ngelantur mikirin orang se-dulur,
Diri sendiri kagak pernah ngukur.

Kalian taulah saya sekarang....
Seneng duduk di kursi goyang,perut kenyang hati melayang.
Mulut sibuk ngomongin orang,aib sendiri nggak kebayang.

Kalian tau saya bengal....
Bangun malem sering ditinggal.
Otak bebal banyak mengkhayal,
sudah lupa yang namanya ajal.

Kalian tau saya begini...
Udah sok tau, seneng dipuji, ngomong sok suci kayak murrabi,
kagak ngaca diri sendiri.

Kalian tau saya gegabah...
Petantang-petenteng merasa gagah,
diri ngaku-ngaku ikhwah kalo mo muhasabah.
Diri ini nggak beda sama sampah.

Kalian tau saya sekarang sudah kalah di medan perang.
Saya pengen pulang kandang....
Ke tempat saya dulu datang.

Wallohu'alam bis showab




Nb: Dalam Lisanul Arab, arti futur adalah : diam setelah giat, dan lemah setelah semangat.

Futur ialah kendala yang menimpa para aktivis dakwah. Efek terburuknya berupa, ‘ingitha’ (terputusnya aktivitas) setelah istimrar (kontinyu) dilaksanakan. Sedangkan efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan bersantai-santai, dimana sikap tersebut datang setelah sikap giat bergerak.



By: Muhammad Kiran


MERAPI BERAPI ●●●●

oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 02 November 2010 
 
 
 
Kok begitu dahsyatnya musibah yang menimpa akhir-akhir ini.  Bener-bener bikin kalang kabut semua orang. Mulai dari banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, dan akhirnya merapi di Jogja dan sekitarnya. Terlepas dari penjelasan secara sains bahwa Indonesia adalah jalur gunung berapi yang paling aktif sedunia, atau berada di atas lempengan tektonik yang labil yang menyebabkan gunug meletus gak ada abisnya, begitu juga gempa bumi.
Yang saya pahami, musibah yang datang dari ALLAH itu bisa bermakna banyak. Minimalnya tiga hal. Ujian, peringatan, atau adzab. Ujian bagi keimanan seseorang, peringatan bagi orang-orang yang selama ini masih terlalaikan, dan adzab bagi orang-orang yang mendustakan perintah-perintah ALLAH.


ALLAH kan Berfirman di surat Al Baqarah, Walanab luwannakum bi syai’in minal khoufi wal juu’i wa naqshim minal amwaali watstsmarooti wa basysyirisshoobiriin. Dan sungguh kami akan uji kalian dengan ujian berupa rasa takut, lapar, kekurangan harta, dan rusaknya hasil pertanian, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Artinya, semua yang menimpa kita, itu sudah ditentuin sama ALLAH. Udah ditulis di buku taqdir sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan gak akan berubah.Yang mesti digede-gedein itu rasa sabar kita biar bisa tahan ngadepin semuanya.


Yang sekarang kudu dipikirin itu ya musibah yang menimpa kita berupa abu merapi itu termasuk yang mana. Ujian, peringatan, atau justru adzab? Kalo ujian, berarti memang kita kudu sabar, karena konsekuensinya orang beriman tuh memang harus selalu diuji agar bisa naik derajatnya di hadapan ALLAH. Ibarat orang belajar di sekolah, kalo mau naik kelas ya kudu ngelewatin ujian semester dulu. Masa iya mau naik kelas tanpa tes? namanya nyogok itu mah. . Kaya yang udah disebutin di dalam Al Qur’an juga, akhasibannaasu ayyutrokuu ay yaquulu aamannaa wahum laa yuftanuun? Apakah manusia mengira akan ditinggalkan saat mengatakan ‘Aku beriman’ namun mereka tidak diberi cobaan?. Jadi, sebagai orang yang beriman, insya ALLAH, kita mesti sabar ngadepin konsekuensi ini. Hidup itu penuh konsekuensi, bung. Baik yang bikin kita seneng maupun yang bikin puyeng.


Lain lagi kalo misalnya musibah abu merapi yang menghujani jogja -oh ya, FYI, hujan abu sekarang udah nyampe Solo dan sekitarnya- itu sebagai peringatan, berarti kita selama ini lalai dari perintah-perintah ALLAH. Ibadahnya kurang rajin, makanya ALLAH negur. Makanya buruan yuk kita jadi orang yang memperbaiki kondisi agama kita. Kudu lebih alim lagi. Jangan sampe peringatan itu diabaikan, karena akan mendatangkan peringatan-peringatan berikutnya. Mohon ampun juga wajib dilaksanakan.


Dan yang terakhir, makna musibah yang paling menyeramkan adalah yang bermakna adzab. Karena penduduk suatu daerah itu terlalu banyak bermaksiat kepada ALLAH, makanya ALLAH kasih adzab, sebagai balasan. Dalam kasusnya Merapi, terlihat jelas, secara berkala ada yang namanya upacara labuhan sesajen buat Kyai Sapu Jagat yang dianggap menghuni Merapi dan iblis-iblis yang kata orang-orang ‘merajai’ Merapi. Astaghfirullah, yang beginian nih yang kudu diberantas. Pantes aja ALLAH marah, lha ALLAH dipersekutukan dengan syaithan.


Ibaratnya orang berbuat syirik itu  analoginya mirip majikan dan pembantu. Jika anda punya pembantu, yang semua biaya hidupnya anda tanggung, anda beri makan, anda kasih hadiah, anda ksih gaji bulanan yang diatas UMR, tapi kemudian pembantu Anda itu nggak melayani Anda, justru melayani tetangga Anda, pasti Anda marah kan? Itulah, kita udah dikasih rejeki dari masa saja, bahkan semua hidup kita ini adalah rejeki dari ALLAH, lantas jika kemudian kita menyekutukan ALLAH dengan yang selainNya, contohnya si Kyai Sapu Jagat iblis Merapi (saya kok aneh, kenapa namanya gak Mak Lampir aja yang jelas-jelas udah ada sinetronnya dulu di Indosiar), jangan salahkan ibu mengandung jika ALLAH mendatangkan adzabNya.


Makanya kita kudu banyak merenung, jangan-jangan kita baik secara tidak langsung maupun tidak, ikut terlibat dalam perilaku-perilaku syirik yang ada dibiasanya diadakan di kawasan Merapi. Kudu introspeksi. Buruan deh yuk kita mohon ampun sama ALLAH, beruntung juga kita gak jadi korban yang meninggal kaya Mbah Maridjan -Semoga ALLAH mengampuni Mbah Maridjan- atau korban lainnya. Selagi masih ada kesempatan untuk memohon ampun dan berbuat baik, pasti ALLAh akan kasih ampunannya. Ingat Sabda kata Rosul, Wattabi’ sayyi’atal khasanata tamkhuuhaa. Dan perturutkanlah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik. Niscaya perbuatan buruk yang pernah kita lakukan akan segera diahpuskan dosanya.


Ternyata ada hikmahnya  juga musibah itu datang pada kita, bikin ada kesempaan buat merenung, terlepas dari segala kesusahan yang kita alami. ALLAh masih kasih kita kesempatan untuk kembali, memohon ampun atas segala yang kita alami dari musibah Merapi. Sekarang kita cuma bisa berusaha semampu kita, agar semua korban bisa segera kita bantu, ditangani secara tanggap dan cepat oleh semua pihak, dan juga diberi kesabaran atas apa yang menimpanya. Semoga setelah musibah ini berlalu, ada ganti yang ALLAh turunkan, yang lebih baik, yang membuat kita menjadi hamba-hamba ALLAH yang bersyukur. Amiin.