Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Tuesday, August 5, 2014

Jangan Terlalu Percaya dengan Mata Anda

Seorang teman pernah memberi tahu saya sebuah kalimat: "Percayalah pada apa yang kamu lihat (walaupun hanya satu kali) daripada apa yang kamu dengar (walaupun 1000 kali)". Sekilas saya berpikir bahwa kata-kata tersebut ada benarnya. Tetapi setelah saya renungkan lebih jauh ternyata apa yang kita lihat belum tentu benar. Apa yang kita lihat dengan mata bisa saja menipu kita. Lihatlah dengan mata kemudian rasakan dan renungkan dengan hati, maka itulah kebenaran.

Kita sering sekali mendengar ada muda-mudi yang pacaran kemudian putus karena pasangannya selingkuh. Atau suami-istri yang bercerai karena salah satu dari mereka selingkuh. Penyebab terjadinya perselingkuhan pada umumnya adalah "ada yang lebih baik". Biasa kita sering mendengar istilah "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput rumah kita". Ada wanita/pria lain yang lebih cantik/tampan daripada pasangan kita. Ada wanita/pria lain yang lebih perhatian, lebih kaya, lebih pintar, lebih keren, dll, daripada pasangan kita. Itulah yang terkadang menyebabkan hubungan berakhir.


Mata telah menipu kita. Jika kita melihat dengan mata, maka yang terlihat adalah rumput yang lebih hijau, lebih bagus, lebih menawan. Jangan terlalu percaya dengan apa yang dilihat oleh mata. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tetapi cobalah untuk datang dan berdiri diatasnya, maka kita akan menyadari bahwa ternyata rumput tersebut tidak lebih hijau daripada rumput di rumah kita.

Jangan mengambil kesimpulan hanya dari penglihatan dengan mata. Rasakan, pikirkan, dan renungkan dengan hati maka kita akan dapat melihat kebenaran yang sejati. Jangan meninggalkan pasangan kita hanya karena kita melihat ada orang lain yang lebih baik daripada pasangan kita. Jangan mencari kesempurnaan, karena kesempurnaan bersifat semu (Mencari Pasangan Yang Sempurna). Bersyukurlah dan hargailah apa yang kita miliki. Karena hanya dengan bersyukur dan menghargailah kita dapat melihat kesempurnaan.


The grass is always greener on the other side. Their grass looks greener until you go stand in it. Then you realize it's no greener than the grass you have.


Monday, July 21, 2014

Cerita Tentang Iman - Hasil Pilpres Indonesia 22 Juli 2014

Hari ini tanggal 22 Juli 2014 merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena pada hari ini pukul 16.00 WIB akan diumumkan siapa yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia 5 tahun kedepan. Banyak spekulasi yang beredar pada hari ini. Ada yang menjagokan nomor 1, ada pula yang menjagokan nomor 2. Tentu saja saya bukan akan bercerita mengenai politik disini. :)

Yang menarik dan menjadi pengamatan saya dalam beberapa hari ini adalah spekulasi-spekulasi yang terjadi dalam masyarakat. Banyak orang-orang yang memprediksikan bahwa pada hari pengumuman pemenang pilpres akan terjadi kerusuhan yang hebat. Sebagai efeknya, banyak orang-orang kaya yang sudah terlebih dahulu pergi ke luar negeri untuk "mencari aman". Ada juga beberapa kantor dan teman saya yang libur pada hari ini. Ini menjadi sesuatu yang unik di mata saya.


Saya yakin dan percaya, siapapun kita, apapun latar belakang kita, apapun pekerjaan kita, kita semua tidak menginginkan adanya kerusuhan di Indonesia. Kita ingin hari ini, tanggal 22 Juli 2014, semuanya aman-aman saja. Mungkin kita semua sudah berdoa dan berharap agar hari ini keadaan aman terkendali. Tetapi, bagaimana dengan iman kita ? Saya tidak berbicara tentang agama disini, saya yakin semua agama mengajarkan kita mengenai iman.

Alkisah, ada sebuah desa yang mengalami kekeringan panjang. Ratusan warga desa tersebut sepakat akan mengadakan doa bersama di suatu pagi yang sudah ditentukan di suatu lapangan terbuka. Ratusan orang datang ke lapangan tersebut untuk memanjatkan doa bersama meminta turunnya hujan. Dari ratusan orang yang datang, hanya ada 1 orang yang datang dengan membawa payung. Menurut saya itulah yang kita sebut sebagai iman.

Kita meyakini bahwa sesuatu belum terjadi akan terjadi. Kita percaya bahwa itu akan terjadi, sehingga kita bersikap seolah-olah hal tersebut telah terjadi. Itulah iman. Kita percaya sesuatu yang belum terlihat atau belum terjadi.

Marilah kita memiliki iman yang kuat bahwa pada hari ini, tanggal 22 Juli 2014, pada saat pengumuman pilpres, dan hari-hari berikutnya pasca pengumuman pilpres, semuanya akan baik-baik saja. Semua akan berjalan dengan sangat baik. Banga Indonesia akan semakin maju siapapun presiden terpilih. Iman ditunjukan dari perbuatan, bukan perkataan. Berbuatlah seperti apa yang iman kita katakan.

Friday, July 18, 2014

Api - Asap - Air (Bagian 2 - Tamat)



Bagi yang belum tau ceritanya, silahkan membaca terlebih dahulu disini : Api - Asap - Air (Bagian 1)

Dari cerita yang sebelumnya saya ceritakan, Api menggambarkan Masalah, Asap menggambarkan Dampak dari Masalah, dan Air menggambarkan Solusi.

Dalam hidup ini, kita tidak pernah akan terlepas dari masalah. Selalu ada masalah dalam hidup ini. Sama seperti api yang bisa menjalar dari satu titik ke titik-titik lain dan membakar habis rumah kita, begitu juga masalah. Masalah bisa menjalar dari satu masalah ke masalah-masalah lain dan akan membakar habis diri kita.

Saat sudah banyak masalah yang timbul dalam kehidupan kita, kita akan mulai melihat dampaknya, si asap. Kita akan stress, kita akan down, kita mulai merasa bahwa apapun yang kita lakukan tidak membawa perubahan. Sampai tahap ini, mencari pelarian adalah salah satu alternatif yang biasa diambil banyak orang. Bukannya mencari cara agar masalah selesai, kebanyakan dari kita malah berusaha mengeluarkan asap dari rumah kita. Kita mulai lari ke sex, alkohol, atau bahkan narkoba. Selama masalah tidak kita selesaikan, apapun cara kita untuk membuang asap tidak akan ada gunanya. Karena masalah akan terus memberikan dampak yang jelek dalam hidup kita.

Yang harus kita lakukan adalah mencari air untuk memadamkan api, sang sumber masalah. Solusi bisa kita dapatkan dari dalam diri sendiri atau bantuan orang lain. Jika kita mampu, kita dapat menyelesaikan masalah tersebut sendirian. Tetapi jika kita tidak mampu, sah-sah saja untuk meminta tolong kepada orang lain.

Saat kebakaran besar terjadi dan api berhasil dipadamkan, biasanya kita masih melihat asap disana. Begitu juga masalah. Saat masalah sudah selesai, biasanya masih ada dampak yang kita rasakan. Misalnya kita kehabisan banyak uang, kita kehilangan teman atau sahabat, kita kehilangan kepercayaan dari orang lain, dan lain-lain. Jangan takut mengenai hal ini, yang harus kita lakukan adalah tersenyum dan berkata pada diri sendiri "saya akan bangkit, saya akan melewati semua ini dan semuanya akan lebih baik dari sebelumnya"


Api - Asap - Air (Bagian 1)

Saya sempat bingung mau memberi judul apa untuk postingan kali ini. Tapi tiba-tiba datang inspirasi sehingga postingan kali ini saya beri judul Api - Asap - Air. Mungkin sudah ada yang bisa menebak apa yang bakal saya ceritakan disini. Kali ini saya kembali ingin berbagi tentang kehidupan. Memikirkan tentang kehidupan pasti tidak ada habis-habisnya, jadi jangan terlalu banyak berpikir tetapi jalani saja. Karena saya sangat percaya bahwa hidup kita indah.


Ada sebuah rumah yang sangat indah di sebuah kota yang sangat ramai. Pada suatu hari, ada sepercik api yang mengenai sofa dirumah tersebut. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, api mulai menjalar ke bagian-bagian lain dari rumah tersebut. Dari satu titik api saja (yaitu di sofa), api-api di titik yang lain mulai hidup dan siap membakar habis rumah tersebut. Asap yang sangat hitam mulai membumbung tinggi menandakan bahwa api sudah sangat besar.

Melihat hal tersebut, pemilik rumah yang panik mulai membuka semua jendela rumahnya dengan harapan agar asap yang sangat hitam dan beracun tersebut bisa keluar dari rumah. Setelah semua jendela dibuka, asap mulai berlarian keluar rumah. Tetapi apakah rumah tersebut sudah aman ? Tentu saja tidak, hanya asapnya saja yang keluar, tetapi api didalam rumah tersebut tidak henti-hentinya menimbulkan asap yang lain.

Akhirnya tibalah pemadam kebakaran yang membawa sejumlah air yang sanggup untuk mematikan api. Disemprotkanah sejumlah air ke dalam rumah tersebut. Dengan ketekunan dan pengalaman sang pemadam kebakaran, akhirnya api berhasil dipadamkan. Setelah dipastikan tidak ada titik api yang aktif, pemilik rumah mulai mengecek kondisi rumahnya. Rumahnya hancur berantakan, semuanya kacau balau dan terlihat sangat berantakan. Tetapi pemilik rumah tersenyum dan berkata "saya akan membangun rumah ini kembali, dan rumah ini akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya"

Nah, setelah membaca kisah tersebut, mungkin semakin jelas terlihat hubungan Api - Asap - Air dengan kehidupan kita. Ada sesuatu yang dapat kita pelajari, dan pelajaran itu adalah pelajaran kehidupan. (Api - Asap - Air Bagian 2 - Tamat)

Wednesday, July 16, 2014

Jangan Takut dan Jangan Pernah Takut

Di postingan kali ini, saya akan kembali mengangkat topik mengenai kehidupan. Berbicara mengenai kehidupan, ada banyak sekali hal yang dapat terjadi. Terkadang hal tersebut adalah hal yang baik, tidak jarang hal tersebut adalah hal yang buruk. Kali ini saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk selalu berani dan siap menghadapi apapun yang terjadi dalam kehidupan.

Saya memegang suatu prinsip yang sederhana dalam menjalani hidup, yaitu jangan takut dan jangan pernah takut. Jangan takut dalam menjalani apapun dalam kehidupan kita. Jangan takut mencoba, jangan takut gagal, jangan takut jatuh, jangan takut tersesat, jangan takut kehilangan arah, jangan takut dan jangan pernah takut.


Seperti yang pernah saya tulis di postingan berjudul Hal Paling Sulit, yang sebenarnya membuat kita takut dalam melakukan sesuatu adalah karena kita terlalu banyak memikirkannya. Berhentilah terlalu banyak berpikir dan pertimbangan, hidup hanya satu kali, mari kita buat sesederhana mungkin. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk berpikir dan berpikir.

Hidup sangat sederhana, jika kita jatuh ya kita bangkit lagi, jika kita tersesat ya kita mencari jalan keluar, jika kita gagal ya kita berusaha untuk berhasil, jika kita sakit ya kita berusaha menyembuhkan diri kita. Semuanya sederhana. Sangat sederhana. Apapun yang kita lakukan pasti ada resikonya, dan yang jangan takut terhadap resiko tersebut.

Belajarlah dari apa yang kehidupan berikan kepada kita maka kita akan menjadi orang yang lebih siap dalam menghadapi apapun yang akan diberikan kehidupan pada kita selanjutnya.


Hal Yang Paling Sulit

Sebelumnya saya pernah membahas mengenai Cinta Yang Paling Sulit, nah sekarang saya akan berbagi mengenai hal yang paling sulit. Dalam hidup ini, sudah ribuan bahkan jutaan, bahkan milyaran hal sudah pernah kita lakukan. Dan masih ada milyaran hal lain yang menunggu untuk kita lakukan. Tapi, dari semua hal tersebut, hal apakah yang paling sulit ? Silahkan simak cerita singkat berikut ini.

Saya pernah dihadapkan pada suatu kondisi dimana saya diminta oleh atasan saya untuk bertanggung jawab dalam proses pindah kantor. Kantor saya akan pindah lokasi (anggap saja dari lokasi A ke lokasi B). Saya mulai berkeliling kantor dan pada saat itu juga saya mulai menyadari bahwa ada begitu banyak barang yang harus saya pindahkan. Bahkan beberapa barang tersebut adalah barang-barang berukuran besar. Bagi rekan-rekan yang pernah pindahan pasti merasakan betapa sulitnya memindahkan barang-barang berukuran besar.

Saya mulai panik, saya mulai berpikir bagaimana saya bisa menyelesaikan pekerjaan ini. Siapa yang bisa membantu saya ? Saya harus menyewa mobil pengangkut barang dimana ? Saya harus mulai memindahkan barang yang mana ? Kapan saya harus mulai pindahan ? Banyak sekali barang-barang ini, apakah bisa dipindahkan semua ? dan segala macam pikiran-pikiran lain berkecamuk didalam diri saya. 

Hari demi hari menjelang pindahan saya lewati dengan beban pikiran yang terus bertambah dan bertambah. Saya semakin tertekan. Hari H pindahan pun tiba. Semua persiapan sudah saya lakukan sebelumnya, hari ini tinggal eksekusi saja. Proses pengangkutan barang, penyusunan barang, skip skip skip. Pada akhirnya semua berhasil dilakukan dan semuanya sudah selesai. Saya lega semuanya sudah selesai tanpa ada masalah. 

Mendadak saya berpikir, mengapa semuanya jadi mudah ? Kemanakah hal-hal yang saya cemaskan kemarin ?

Cerita diatas menggambarkan bahwa hal yang paling sulit dalam menghadapi suatu pekerjaan atau situasi atau kondisi adalah saat kita memikirkannya. Saat kita terlalu memikirkan hal tersebut, semuanya akan menjadi serba sulit. Semuanya akan terlihat sangat berat. Semuanya akan terkesan mustahil. Tetapi ketika kita mulai mengerjakannya, semuanya pasti akan dapat dilewati. Semuanya pasti ada jalan keluarnya.

Kebanyakan orang terlalu banyak berpikir ketika menghadapi suatu masalah. Hal tersebut menyebabkan masalah yang dihadapi tak kunjung selesai, karena memang tidak ada langkah apapun yang diambil. Berpikir tidak akan menyelesaikan masalah jika kita tidak pernah mengambil langkah. Yang terpenting adalah merealisasikan pemikiran kita, bukan hanya memikirkannya. Jadi jangan terlalu lama dalam berpikir, segera ambil langkah.

Monday, July 14, 2014

Cerita Tentang Makan

Tidak diragukan lagi, setiap orang butuh makan sesuatu untuk bertahan hidup. Orang kaya butuh makan, orang sederhana butuh makan. Orang dewasa butuh makan, anak-anak butuh makan. Siapapun kita, kita butuh makan.  Tapi sayangnya, banyak orang yang tidak menikmati aktivitas makan. Banyak dari kita menganggap makan adalah suatu rutinitas untuk mengisi perut dan mendapatkan energi.

Dengan berdalih ingin menikmati makanan, banyak orang-orang kaya yang pergi ke restoran-restoran mewah dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per porsi makanan yang dimakannya. Tapi, kebanyakan dari orang-orang tersebut ternyata tidak menikmati makanannya (menurut saya). 


Kebanyakan dari kita tidak pernah benar-benar menikmati saat-saat makan. Kita terbiasa ngobrol, membaca, memikirkan pekerjaan, memikirkan kehidupan, memikirkan keluarga, main game, dan lain-lain, saat kita makan. Jarang sekali orang benar-benar "makan" saat waktunya makan. Inilah yang saya maksud dengan tidak menikmati moment makan.

Coba bayangkan, apakah ada orang yang ngobrol atau membaca atau main game saat mereka menonton suatu pertunjukan orkestra besar ? Tentu saja tidak, karena mereka menikmati pertunjukan tersebut.

Saat kita menikmati suatu moment, biasanya kita akan diam dan terhanyut dalam moment tersebut, kita akan benar-benar menikmati moment tersebut. Kita akan mengingat moment tersebut. Nah, begitu juga dengan makan. jika kita menikmati moment makan, saya yakin kita akan diam dan tidak melakukan kegiatan apapun. Pada saat makan, kita hanya makan. Tidak ada kegiatan lain yang kita lakukan. Apapun itu, sekecil apapun itu. Dengan menikmati makan, maka kita akan merasa semakin bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk makan. Kita akan bersyukur untuk makanan yang kita makan, apapun yang kita makan kita akan bersyukur.

Mari menikmati moment makan, jangan sia-siakan moment makan karena moment ini sangat sering kita lakukan. Dengan menikmati moment makan, kita akan semakin bahagia karena diri kita dipenuhi dengan rasa syukur.


terinspirasi dari : salah satu buku karangan Ajahn Brahm

Cinta Yang Paling Sulit - Jawaban

Oke, sebagai lanjutan dari posting sebelumnya yang berjudul Cinta Yang Paling Sulit, bagi yang belum membaca, silahkan dibaca terlebih dahulu cerita dan pertanyaan di postingan sebelumnya.

Waktu 1 jam yang diberikan oleh kepala suku digunakan oleh sang ayah hanya untuk duduk dan berpikir. Dia tidak mau membebani pikiran anggota keluarganya yang lain. Dia sangat cinta kepada istri dan kedua anaknya. Mungkin keputusan yang harus dibuat sang ayah saat ini adalah keputusan tersulit dalam hidupnya.

1 jam telah berlalu, kepala suku kembali memanggil keluarga ini dan bertanya kepada mereka siapakah yang akan dikorbankan ? Sang ayah maju menghadap kepala suku dan berkata, kami tidak dapat mengorbankan siapapun diantara kami. Suasana hening sejenak, kemudian sang ayah melanjutkan perkataannya, saya mencintai istri dan kedua orang anak saya. Saya yakin mereka juga sangat mencintai saya.

Tetapi saya sadar, saya juga sangat mencintai diri saya sendiri. Rasa cinta kepada diri saya sendiri tidak kalah besarnya dengan rasa cinta saya kepada keluarga saya. Jadi jika saya tidak dapat mengorbankan salah satu dari anggota keluarga saya, maka saya juga tidak dapat mengorbankan diri saya sendiri. Dengan rasa cinta yang besar ini, saya harap anda (si kepala suku) dapat mengerti.


Oke, apa yang terjadi selanjutnya saya rasa tidak perlu diceritakan. Mungkin jawaban rekan-rekan semua adalah sang ayah pasti akan mengorbankan dirinya sendiri karena dia sangat mencintai keluarganya. Itulah yang biasanya kita lakukan. Karena besarnya rasa cinta kita pada orang lain, terkadang kita mengorbankan diri kita sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa itu salah, tetapi yag ingin saya garis bawahi disini adalah seberapa besarkah rasa cinta kita pada diri kita sendiri ?

Cinta yang paling sulit adalah mencintai diri sendiri. Lebih mudah untuk mencintai orang lain daripada mencintai diri sendiri. Jika sang ayah memilih untuk menyerahkan dirinya sendiri, artinya sang ayah kurang mencintai dirinya sendiri.

Disini saya tidak berkata untuk mencintai diri sendiri secara berlebihan. Cintailah diri kita sendiri sama besarnya dengan cinta yang kita berikan kepada orang lain. Kebanyakan dari kita terlalu sibuk mencintai orang lain sehingga kita kekurangan waktu untuk "pacaran" dan "mencintai" diri sendiri.

Sunday, July 13, 2014

Cinta Yang Paling Sulit - Pertanyaan

Mari simak sebentar cerita berikut ini:


Pada suatu pagi, suatu keluarga (ayah, ibu, dan 2 orang anak remaja) berkelana ke sebuah hutan. Mereka pergi ke hutan tersebut karena ingin menikmati suasana di hutan. Saat sedang asyik menikmati pemandangan hutan, mereka ditangkap oleh sekelompok suku yang menempati hutan tersebut. Salah satu dari mereka harus dikorbankan dan yang lainnya akan dibebaskan.

Sang ayah bekerja sebagai pimpinan suatu perusahaan yang terkemuka di kotanya. Sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat pandai dan cerdas. Anak sulungnya adalah seorang mahasiswa  yang sangat cerdas di salah satu universitas di kotanya dan akan lulus pada akhir tahun ini. Sedangkan si bungsu adalah seorang pelajar di salah satu sekolah terkemuka dan tidak kalah cerdasnya dengan si sulung.

Mereka diberi waktu kurang lebih 1 jam untuk mendiskusikan siapa yang akan dikorbankan. Ibu dan kedua anaknya memberikan kepercayaan kepada sang ayah, sebagai seorang kepala keluarga, untuk membuat keputusan yang amat sangat sulit ini. dan mereka sudah sepakat untuk menerima apapun keputusan yang dibuat sang ayah.

Pertanyaannya, menurut rekan-rekan semua, siapakah yang akan dikorbankan sang ayah ? Apakah dirinya sendiri ? Atau sang istri yang sangat pandai dan cerdas dalam mengatur keluarga ? Ataukah kedua anaknya yang masih mempunyai masa depan yang sangat cerah ?

Silahkan dijawab terlebih dahulu. Posisikan diri rekan-rekan semua sebagai sang ayah, sang pembuat keputusan.

Di postingan berikutnya (silahkan klik disini) akan saya ceritakan akhir dari cerita ini. Suatu cerita yang menurut saya sangat cocok dijadikan pelajaran mengenai cinta. Suatu cinta yang paling sulit.


Friday, July 11, 2014

Nilai Kehidupan

Nilai Kehidupan
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.
“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.
Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.


sumber:http://iphincow.com 

Wednesday, July 2, 2014

Mantel Kuning

Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya, mengingatkan pada masa-masa yang
telah lalu. Begitu pula hari ini. Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. 
Kuning, itu warna yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, 
dan mereka tampak gagah dengan mantel itu. Untuk anak kelas 2 SD, semua yang
berwarna cerah, akan selalu tampak indah. Namun sayang, Ibu tak punya cukup uang
untuk membelinya. Walau sempat kecewa, saya harus menurut, dan menahan keinginan 
untuk mempunyai mantel kuning itu. 

Walau begitu, saya tetap kesal. Dan rasa itu memuncak ketika saya harus pulang dari 
sekolah. Hari itu hujan begitu deras. Saya makin kecewa dengan Ibu. Sebab, jika ada 
mantel, tentu saya tak perlu kena hujan, dan bisa bergabung bersama teman-teman yang
lain. Kesal, dan marah, begitulah yangsaya rasakan saat itu. Sementara yang lain tertawa 
dan menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh yang basah kuyup. 

Ah..di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Ibu. Dia tampak membawakan payung
untuk saya. Karena terlanjur marah, saya tak menerima payung itu, dan ngambek, untuk
tetap pulang tanpa payung. Walau begitu, ia tampak ingin melindungi saya dengan 
payungnya. Mendekap, agar saya tak terlalu basah terkena hujan. Hujan makin deras, dan 
kami pun berjalan pulang, walau saya tetap ngambek dan menolak untuk di payungi. 
Sesampainya di rumah, tingkah itu terus saya perbuat. Saya tetap menolak untuk berganti 
pakaian. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, hal itu saya selesaikan. Ibu, kemudian datang
dengan handuk, dan langsung menyelubungi saya dengan handuk itu. Ada kehangatan 
yang segera menyergap. Saya menjadi lebih tenang. Tetap, tak ada kata-kata yang keluar 
dari Ibu, selain terus menghangatkan saya dengan handuk itu. Tangannya terus 
membersihkan setiap air hujan yang ada di badan. Diseka nya kepala saya, agar tak nanti 
tak membuat sakit. Masih dalam diam, Ibu kemudian memberikan pakaian ganti. Setelah 
itu, dia masih menyodorkan teh manis hangat buat saya. Ya, segelas teh manis, sebab, 
susu coklat, adalah hal yang jarang saya rasakan saat itu. Ya, kehangatan kembali hadir 
dalam tubuh. Walau saya mungkin tak mengerti apapun, saya yakin, ada kehangatan lain 
yang diberikan Ibu saat itu. 

Ya, teman, begitulah. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning seperti 
yang saya impikan. Namun, payungnya telah membuat saya aman. Ibu mungkin tak
mampu membelikan saya mantel kuning untuk terhindar dari hujan, namun, dekapannya 
membuat saya terhindar dari apapun. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel 
kuning itu, namun, handuk hangatnya melebihi setiap kehangatan yang mampu diberikan 
setiap mantel. Ibu mungkin tak mampu membelikan mantel kuning, namun, usapan 
lembutnya, adalah segalanya buat saya. 

Ibu mungkin tak menjemput saya dengan mobil atau kendaraan lain, namun lingkaran 
tangannya di tubuh saya, adalah dekapan yang paling indah. Ibu mungkin tak bisa 
memberikan susu coklat, namun, teh manisnya, lebih berharga dari apapun. Ibu mungkin
tak bisa memberikan saya banyak hal lain, namun, dekapan, usapan, uluran tangan, 
perhatian, kasih sayang, sudah cukup sebagai penggantinya. 

Ya, rintik hujan selalu membuat saya terharu. Terima kasih buat Ibu yang tak
membelikan saya mantel kuning. Karena, apa yang telah diberikannya selama ini, jauh 
melampaui semuanya.

Tuesday, July 1, 2014

Kisah Cinta Sejati

Toshinobu Kubota, yang biasa dipanggil Shinji 
mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya di 
negerinya yang lama untuk mencari hidup yang lebih 
baik di Amerika. Ayahnya memberinya uang simpanan 
keluarga yang disembunyikan di dalam kantong kulit. 

“Di sini keadaan sulit,” katanya sambil memeluk 
putranya dan mengucapkan selamat tinggal. “Kau adalah 
harapan kami.” 

Shinji naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan 
transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja 
sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos 
pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemukan emas 
di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul. 

Berbulan-bulan Shinji mengolah tanahnya tanpa kenal 
lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya 
penghasilan yang pas-pasan namun teratur. Setiap hari 
ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua 
kamar, Shinji merindukan dan sangat ingin disambut 
oleh wanita yang dicintainya. Satu-satunya yang 
disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu 
nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Asaka 
Matsutoya sebelum secara resmi punya kesempatan 
mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga 
mereka sudah lama berteman dan selama itu pula 
diam-diam dia berharap bisa memperistri Asaka. 

Rambut Asaka yang ikal panjang dan senyumnya yang 
menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Yoshinori 
Matsutoya yang paling cantik. Shinji baru sempat duduk 
di sampingnya dalam acara perayaan pesta bunga dan 
mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumah 
gadis itu agar bisa betemu dengannya. Setiap malam 
sebelum tidur di kabinnya, Shinji ingin sekali 
membelai rambut Asaka yang pirang kemerahan dan 
memeluk gadis itu. Akhirnya, dia menyurati ayahnya, 
meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya. 

Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang 
mengabarkan rencana untuk membuat hidup Shinji menjadi 
lengkap. Pak Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan 
putrinya kepada Shinji di Amerika. Putrinya itu suka 
bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan 
bekerja sama dengan Shinji selama setahun dan 
membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas. 

Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu 
datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka. 

Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu 
bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi 
tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang 
sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan 
menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang 
wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi 
kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga 
dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur 
dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering 
yang dipetiknya di padang rumput. 

Akhirnya, tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya 
sepanjang hidup. Dengan tangan membawa seikat bunga 
daisy segar yang baru dipetik, dia pergi ke stasiun 
kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit 
ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Shinji 
melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal 
Asaka.Jantungnya berdebar kencang penuh harap, 
kemudian tersentak karena kecewa. 

Bukan Asaka, tetapi Yumi Matsutoya kakaknya, yang 
turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di 
depannya, matanya menunduk. Shinji hanya bisa 
memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar 
diulurkannya buket bunga itu kepada Yumi. “Selamat 
datang,” katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum 
tipis menghias wajah Yumi yang tidak cantik. 

“Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku 
datang ke sini,” kata Yumi, sambil sekilas memandang 
mata Shinji sebelum cepat-cepat menunduk lagi. 

“Aku akan mengurus bawaanmu,” kata Shinji dengan 
senyum terpaksa. 

Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda. Pak 
Matsutoya dan ayahnya benar. Yumi memang punya intuisi 
bisnis yang hebat. Sementara Shinji bekerja di 
tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di 
sudut ruang duduk, dengan cermat Yumi mencatat semua 
kegiatan di tambang. Dalam waktu 6 bulan, asset mereka 
telah berlipat dua. Masakannya yang lezat dan 
senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan 
sentuhan ajaib seorang wanita. 

Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan, keluh Shinji 
dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di 

ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Yumi? Akankah dia 
bisa bertemu lagi dengan Asaka? Apakah impian lamanya 
untuk memperistri Asaka harus dilupakannya? Setahun 
lamanya Yumi dan Shinji bekerja, bermain, dan tertawa 
bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah 
sekali, Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk ke 
kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak 
itu, kelihatannya Yumi cukup puas dengan jalan-jalan 
berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di 
beranda setelah makan malam. 

Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur 
punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka 
longsor. Dengan kesal Shinji mengisi karung-karung 
pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk 
membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, 
tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi 
muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang 
terbuka. Shinji menyekop dan memasukkan pasir 
kedalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi 
melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung 
lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki 
terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. 
Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke 
pondok. 

Sambil menikmati sup panas, Shinji mendesah, “Aku 
takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. 
Terima kasih, Yumi.” 

“Sama-sama,” gadis itu menjawab sambil tersenyum 
tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia 
masuk ke kamarnya. 

Beberapa hari kemudian, sebuah telegram datang 
mengabarkan bahwa Keluarga Matsutoya dan Keluarga 
Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha 
keras menutup-nutupinya, jantung Shinji kembali 
berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan 
bertemu lagi dengan Asaka. Dia dan Yumi pergi ke 
stasiun kereta api. Mereka melihat keluarga mereka 
turun dari kereta api di ujung peron. 

Ketika Asaka muncul, Yumi menoleh kepada Shinji. 
“Sambutlah dia,” katanya. 

Dengan kaget, Shinji berkata tergagap, “Apa maksudmu?” 

“Shinji, sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri 
Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan 

bagaimana kau bercanda dengan Asaka dalam acara 
Perayaan pesta bunga lalu.” Dia mengangguk ke arah 
adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu 
bahwa dia, bukan aku, yang kauinginkan menjadi 
istrimu.” 

“Tapi…” 

Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji. “Ssstt,” 
bisiknya. “Aku mencintaimu, Shinji. Aku selalu 
mencintaimu. Karena itu, yang kuinginkan hanya 
melihatmu bahagia. Sambutlah adikku.” 

Shinji mengambil tangan yumi dari wajahnya dan 
menggenggamnya. Ketika Yumi menengadah, untuk pertama 
kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia 
ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, 
ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan 
perapian, ingat ketika Yumi membantunya mengisi 
karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa 
yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah tidak 
diketahuinya. 

“Tidak, Yumi. Engkaulah yang kuinginkan.” Shinji 
merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan 
mengecupnya dengan cinta yg tiba-tiba membuncah 
didalam dadanya. 

Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan 
berseru-seru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan 
kalian!” 
“true love doesn‟t have a happy ending, because true love never ends.

Ibu, I miss you so much

Maafkan salahku, Ibu…. 

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang 
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita 
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat 
balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi 
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa 
keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman 
pribadi yang terjadi pada 2003. 

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah 
sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu 
mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. 
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah 
terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang 
tersambung ke sebuah layar monitor. 

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. 
Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. 

Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap 
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta 
izin saya” 

Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” 

“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. 

Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali 
suntik.” 

“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?” 

Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil.” 

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga 
puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. 
Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali 
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada 
Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” 

“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta 
bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa 
kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat 
karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba 
satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti 
obatnya, Ppak.” jawab dokter. 


Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat 
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya 
Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- 
Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan 
Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah 
aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan 
apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit 
isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan 
pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha 
Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. 
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada 
Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan 
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.” 

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan 
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam 
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya 
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri 
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan. 

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata 
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku 
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh 
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku 
bahwa sayalah yang mengambil uang itu. 

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan 
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya 
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah 
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan 
mengambil uang yang ia miliki itu.” 

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana 
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan 
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu 
saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus 
dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?” 

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, 
duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega- 
teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. 
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata 
mengalir di pipi. 

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang 
itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat 
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama 
ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik 
telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku 

cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata 
yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin 
dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa 
ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan 
memohon doa darinya. 

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan 
sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat 
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu 
telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan 
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya 
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya 
berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan 
dokter.” 

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri 
sendiri “Ibu, I miss you so much

Mana Ciuman Untukku?

Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam 
seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama 
kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas 
rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada 
satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya. 

Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk
pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat 
tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua. 

“Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie. 

“Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie. 

Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman 
apappun padanya.. 

Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring
sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu .. 

Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya. 

“Kau senang di rumah Debbie?” tanya ibunya. 

“Rumah ini sepi sekali tanpa kau,” kata ayahnya. 

Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya. 
Kenapa mereka tak pernah menciumnya? 
Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ? 
Apa mereka tidak menyayanginya? 
Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie. 

Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya. 
Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie. 
Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya. 

“Selamat malam,”katanya. 

Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh. 

“Selamat malam,” sahut ayahnya. 

Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum. 

“Selamat malam, Cindy.” 

Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi. 

“Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya. 

Ibunya tampak bingung. 

“Yah,” katanya terbata-bata, 

“sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih
kecil. Itu saja.” 

Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia 
memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia 
tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia 
mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak
berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal 
bersama orangtua Debbie. 

Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak
menyenangkan. 

Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya 
bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy 
tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku. 

Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat 
gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk
kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya 
sedang duduk dengan ekspresi cemas. 

Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,” Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”. 

Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, 
sambil berkata,”Aku sayang padamu,Bu.” 

Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara. 

Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Selamat malam, 
Yah. Aku sayang padamu,” 

Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur. 

Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan 
ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya. 

“Hai, Bu,”katanya. 

“Aku sayang padamu.” 

Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-
kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang

mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy 
tidak putus asa. 

Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia 
lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan 
ibunya masuk. 

“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya, pura-pura marah. 

Cindy duduk tegak. 

“Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya. 

“Aku sayang padalmu, Bu.” Kemudian ia berbaring lagi. 

“Selamat malam,”katanya, lalu memejamkan mata. 

Tapi ibunya tidak segera keluar. 

Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.” 

Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy. 

“Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy 
tertawa. 

“Baiklah,”katanya. 

Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak
sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil 
bayinya menjadi merah. 

Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, “Mana ciuman 
untukku?” 

Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu. 

Kau tahu itu, bukan?” 

“Ya,Bu,” kata Cindy. 

“Sejak dulu aku sudah tahu.”

Kisah Anak Laki-Laki

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang
bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya 
yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap
pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan 
tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan 
semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak. 

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih 
hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti 
cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada 
musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, 
suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil 
yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan 
paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. 

“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat 
mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil 
tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat 
Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang
saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-
lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang
ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya”. 

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal 
bersamanya. Bersama-sama,mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi 
anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap
optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi 
seorang ayah bagi Luke. 

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain 
beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”, 
panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting
bagiku. Aku mohon ?” 

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar 
pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan 
mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang
kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa 
hari ini. 

“Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. 
“Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu”. Hati Luke bergetar 
saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia 
berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola 
yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. 

Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain
sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. 
“Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “Aku tidak pernah 
melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?” 

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata 
kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, 
ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. 
Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu
lalu,……Ibuku meninggal”. Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air 
matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,….hari ini adalah 
pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk
bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan 
mereka…….Luke kembali menangis terisak-isak. 

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan 
Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat 
baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak
mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan 
sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak….. 

Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar 
banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang
terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi 
selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang
pelatih yang sudah berumur 40an tahun itu sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya 
masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, 
membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia 
menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya…

Pemancing Yang Hebat

Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang pemancing yang sama-sama 
hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah 
kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah 
danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan 
10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail 
mereka. 

Ke sepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua 
pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing
berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang
senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu. 

Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan 
tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-
masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika 
masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah 
ikantangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu
memberikan apapun. 

Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik
memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing diantara pemancing itu
mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan. 
Disamping mendapatkan `bonus‟ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si 
B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi 
ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B. 

Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila 
diamalkan. 
“Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil 
selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone. 
Karena tindakan tersebut disamping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan, 
kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial, 
dan lain sebagainya. 
“Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan 
tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat. 

Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, 
melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan 
lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to
somebody. Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson. 
Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan 
sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.